Di tengah kota yang padat dan sibuk, meja makan untuk satu orang atau angkutan umum nyaman untuk keliling kota tanpa teman membuka jalan untuk hiling nan mujarab.
08 Mei 2026 13:00 WIB · Kolom
Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
Saat ini di perkotaan, menjumpai seseorang berkegiatan sendirian semakin biasa. Tanpa teman atau tanpa pendamping, berjalan-jalan di taman kota hingga perbelanjaan modern, bahkan bertualang ke tempat terpencil juga ke luar negeri menjadi sesuatu yang normal saja. Ada juga yang menyelami hari membaca buku, membuka laptop dan bekerja di sudut perpustakaan atau kafe, menonton drama lewat ponsel sembari mengudap di suatu kedai, atau menikmati waktu tanpa tergesa di mana saja.
Mengapa tren ini kian jamak? Ada yang karena sedang tidak memiliki pasangan atau teman. Ada yang baru pindah kota dan belum punya lingkar pertemanan. Ada pula yang sengaja mengambil jarak dari rutinitas sosial demi memberi jeda untuk menghayati waktu pribadi.
Fenomena makan sendiri atau populer disebut me time dining, khususnya di Asia, bisa dinilai sebagai bagian dari tonggak awal perubahan dari sesuatu yang dulu dianggap canggung menjadi gaya hidup urban yang makin diterima. Di kota seperti Tokyo di Jepang, restoran khusus pelanggan solo telah tumbuh sejak bertahun lalu. Hal serupa kini merambah Seoul di Korea Selatan.
Penelitian tentang solo dining di Makau, China, yang dipublikasikan di Science Direct pada September 2020, menunjukkan bahwa rasa tidak nyaman makan sendirian mulai berkurang seiring berubahnya budaya kota dan meningkatnya penerimaan terhadap aktivitas individual di ruang publik.
Perubahan ini terasa dekat pula dengan kehidupan kota di Indonesia. Dulu, jika ada orang makan di restoran sendirian, sering mengundang tatapan kasihan atau asumsi tertentu dari pengunjung lain. Kini, kesimpulan salah itu memang masih menghinggapi sebagian orang, tetapi publik mau tak mau lebih terbiasa melihat seseorang puas dan senang melahap ramen, menyeruput kopi, atau menyantap nasi padang sendiri tanpa dianggap ”kesepian”.
Fenomena bepergian sendiri ikut mempercepat perubahan tersebut. Tren ini semakin populer, termasuk di kalangan perempuan urban usia dewasa muda sampai lanjut usia. Berbagai kemajuan teknologi dan fasilitas publik untuk berbagai kebutuhan membuat banyak orang bisa menyukai pengalaman pergi ke museum, konser, atau kulineran tanpa perlu menunggu teman yang cocok jadwalnya. Kemandirian sosial menjadi bagian dari identitas kelas menengah kota. Ada rasa leluasa ketika seseorang dapat menentukan alur hidupnya sendiri.
Sosiolog Georg Simmel pada awal abad ke-20 sudah melihat gejala ini ketika menulis tentang kehidupan metropolitan. Menurut dia, kota besar membentuk manusia yang lebih individual, menjaga jarak emosional, dan terbiasa hidup di tengah keramaian anonim. Orang kota bertemu ribuan wajah setiap hari, tetapi hanya memiliki sedikit hubungan yang intim.
Kondisi itu semakin terasa di era digital. Media sosial membuat orang terus terkoneksi, tetapi tidak selalu merasa dekat. Penelitian dalam Scientific Reports pada 2021 menunjukkan bahwa kesepian urban sering muncul bukan karena minim interaksi, melainkan karena kualitas hubungan sosial yang dangkal. Seseorang bisa berada di tengah kereta yang penuh, kantor yang ramai, kafe yang sesak, tetapi tetap merasa sepi.
Kota modern turut membuat relasi sosial menguras waktu dan energi. Jam kerja panjang, perjalanan komuter, jadwal antar-orang yang selalu berbeda, serta ritme hidup cepat membuat pertemanan sulit dipelihara.
Cara masyarakat urban memahami kebahagiaan pun ikut berubah. Makan rutin ataupun wisata kuliner, menonton film di bioskop, atau staycation sendiri kini sering dipromosikan sebagai cara merawat diri, baik fisik maupun mental. Industri gaya hidup membaca peluang itu. Restoran mewah hingga kedai-kedai kecil terbiasa menyediakan meja kecil nyaman untuk satu orang. Hotel menawarkan paket solo traveler lengkap dengan jaminan keamanan serta kenyamanan. Media sosial dipenuhi konten tentang menikmati hidup tanpa harus selalu bersama pasangan atau kelompok.
Meski demikian, manusia tetap membutuhkan hubungan sosial. Merebaknya aplikasi untuk mewadahi aktivitas makan bersama orang asing adalah salah satu contoh yang menunjukkan bahwa berbagi dapat memperkuat rasa kedekatan dan membantu mengurangi perasaan kesepian.
Di Indonesia, setidaknya di Jakarta, aplikasi ataupun media sosial yang menjembatani kebutuhan ini pun telah ditemukan, seperti akun @pergimakanjkt yang mengajak siapa saja untuk mengeksplorasi kuliner Jakarta bersama teman baru. Kemudian ada akun @bertemu.dijalan menyatukan orang asing menjadi lingkar pertemanan.
Di tingkat global, ada aplikasi seperti Timeleft yang mempertemukan beberapa orang asing dalam satu meja makan secara berkala. Mereka melihat persamaan minat atau kepribadian para peminat, lalu dipertemukan di restoran tertentu. Konsepnya sederhana, datang sendiri lalu pulang dengan kenalan baru atau sekadar memori menyenangkan bercengkerama dan tertawa bebas dengan orang-orang baru.
Format seperti ini terasa cocok dengan kehidupan kota besar yang serba cepat. Orang tetap dapat bertemu dan berbincang dengan orang baru tanpa tuntutan membangun relasi jangka panjang. Selesai bersenang-senang beberapa jam, lalu kembali menjalani kehidupan masing-masing.
Pola relasi cair semacam itu perlahan mengubah wajah kehidupan sosial kota. Orang dapat memiliki banyak koneksi sosial, tetapi hanya sedikit hubungan yang benar-benar dekat. Di sisi lain, format relasi ringan membuat sebagian orang lebih nyaman karena tidak dibebani tuntutan sosial besar.
Studi tentang new geographies of encounter menunjukkan bahwa teknologi digital ikut mengubah cara warga kota membangun kedekatan dengan orang asing. Aplikasi, media sosial, dan komunitas daring membuat orang lebih mudah bertemu berdasarkan minat yang sama meski hubungan yang terbentuk sering bersifat singkat dan fleksibel. Kedekatan sosial urban kini banyak dibangun melalui pengalaman bersama, seperti berlari, berburu tempat makan viral, nonton konser, klub baca buku, atau diskusi komunitas, tak lagi karena kedekatan tempat tinggal.
Fenomena di atas kian menarik jika dilihat melalui konsep ”third place” dari Ray Oldenburg. Ruang atau tempat ketiga adalah wadah selain rumah dan kantor yang memungkinkan orang bertemu secara santai. Pemerintah selayaknya bisa menjawab kebutuhan itu dengan memperbanyak ruang terbuka publik gratis.
Masalahnya, banyak kota masih miskin ruang interaksi informal. Akibatnya orang kehilangan tempat untuk sekadar duduk tanpa tujuan produktif. Pihak swasta menyediakan tempat untuk rileks yang wajib dibayar minim budget sampai yang menguras kantong, sesuai kemampuan kaum urban yang berlapis. Tak heran jika warung, restoran, minimarket, dan kedai kopi pinggir jalan sampai yang mewah di dalam mal mengambil fungsi sosial baru sebagai ruang pertemuan urban.
Tren relasi sosial baru urban dapat pula menjadi bagian dari solusi mengatasi urban loneliness. Penelitian di Bandung, misalnya, menunjukkan bahwa durasi kerja panjang serta pola mobilitas harian memengaruhi munculnya penyakit kesepian warga. Tanpa penanganan serius dan intervensi dari pemerintah ataupun pihak-pihak lain, penyakit ini menjadi ancaman serius bagi setiap individu hingga produktivitas kota.
Setiap individu urban perlu menyadari bahwa relasi sosial saat ini berbeda dari generasi sebelumnya. Hubungan sosial tidak selalu dibangun lewat kedekatan keluarga besar atau pertemanan lama. Banyak orang menemukannya melalui komunitas kecil, ruang publik, atau percakapan singkat dengan orang asing yang duduk di meja sebelah.
Setiap individu, terutama yang masih belum terbiasa menggapai bahagia dengan memanfaatkan berbagai peluang di tengah kesendirian, perlu melihat tren ini sebagai salah satu hal yang patut dicoba.
Di tengah kota yang semakin padat dan sibuk, meja makan untuk satu orang atau angkutan umum nyaman untuk keliling kota tanpa teman ternyata bisa membuka jalan untuk hiling berkualitas, menemukan teman baru ataupun hal-hal berbeda yang menyenangkan, sekaligus menangkal sepi jiwa hingga memupus gangguan mental. Yuk, coba!
Penulis:
Neli TrianaEditor:
Gesit AriyantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar