Hemat BBM bisa dilakukan saat kita mengendarai kendaraan. Tips ini dapat menghemat hingga 50 persen BBM.
26 Mar 2026 12:21 WIB · Nasional
Dokumentasi Universitas Muhammadiyah Mal
Krisis energi mulai membayangi sejumlah negara seiring berlarutnya konflik Amerika Serikat-Iran. Efisiensi dan hemat bahan bakar minyak atau BBM kini menjadi salah satu pilihan terbaik demi bertahan. Bagaimana praktik hemat BBM dapat kita lakukan?
Salah satu cara yang dinilai efektif menghemat BBM adalah menerapkan eco driving, yaitu gaya berkendara yang mampu menghemat bahan bakar sekaligus menekan emisi kendaraan hingga mendekati 50 persen.
Hal itu disampaikan dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fauzan Ammar Putra, Kamis (26/3/2026). Ia mengatakan, pola berkendara dengan tepat sangat berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar, terutama dalam perjalanan jarak jauh.
”Eco driving pada dasarnya adalah cara mengoperasikan kendaraan agar kerja mesin dan sistem pembakaran tetap optimal. Dengan menjaga putaran mesin di rentang ideal, konsumsi bahan bakar bisa ditekan sehingga pembakaran menjadi lebih efisien,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/24/2ab2f902e6fbf22d48634fd8a43fa97f-1000831020.jpg)
Fauzan menyebutkan, salah satu kunci utama hemat BBM adalah menjaga kecepatan yang konstan. Lonjakan konsumsi bahan bakar paling besar terjadi saat kendaraan berakselerasi secara agresif.
”Konsumsi bahan bakar terbesar terjadi ketika kendaraan berakselerasi. Karena itu, pengemudi sebaiknya menjaga laju tetap stabil dan menghindari perubahan kecepatan drastis agar mesin tidak bekerja terlalu berat,” katanya.
Selain itu, penggunaan transmisi dengan tepat juga menentukan efisiensi. Menahan gigi rendah terlalu lama akan membuat putaran mesin tinggi dan boros bahan bakar. Sebaliknya, perpindahan gigi pada waktu yang tepat membantu menjaga keseimbangan antara tenaga dan efisiensi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/26/b1b4e9ba8d4ae0cf24ef6ac944903368-WhatsApp_Image_2026_03_26_at_11.20.07_AM.jpeg)
Konsumsi bahan bakar terbesar terjadi ketika kendaraan berakselerasi.
Fauzan menambahkan bahwa pengelolaan revolutions per minute (RPM) juga perlu diperhatikan. Mesin memiliki rentang putaran ideal untuk menghasilkan pembakaran paling efisien. RPM terlalu tinggi akan meningkatkan konsumsi bahan bakar, sementara RPM terlalu rendah membuat mesin bekerja lebih berat.
Ia juga menyoroti kebiasaan membuka jendela saat berkendara. Hal yang dianggap sepele itu, menurut Fauzan, secara aerodinamika dapat meningkatkan hambatan udara dan berdampak pada konsumsi bahan bakar.
”Lebih baik menggunakan AC dengan pengaturan bijak, termasuk memanfaatkan mode resirkulasi udara. Saat kaca dibuka, hambatan udara meningkat dan mesin harus bekerja lebih keras sehingga bahan bakar menjadi lebih boros,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/26/dda4af5ec2666f6c09a78d0225836320-WhatsApp_Image_2026_03_26_at_11.20.08_AM.jpeg)
Bagi Fauzan, mungkin belum banyak warga yang paham tentang eco driving. Namun, kebiasaan baik itu bisa terus ditularkan dari mulut ke mulut sehingga efisiensi BBM bisa dilakukan. ”Intinya menjaga ritme berkendara dengan tenang, itu hal paling sederhana yang bisa kita lakukan. Walaupun kondisi lalu lintas tidak selalu ideal, pengemudi tetap bisa mengontrol gaya berkendara,” katanya.
Hal lain yang bisa dilakukan, menurut Fauzan, adalah menghindari menekan pedal gas secara mendadak, serta mengusahakan ritme kendaraan tetap stabil agar efisiensi bahan bakar tetap terjaga.
Eco driving tidak hanya berdampak terhadap konsumsi BBM, tetapi juga berkontribusi pada aspek keselamatan. ”Gaya berkendara halus dan terkontrol membuat pengemudi lebih antisipatif terhadap situasi di jalan serta mengurangi kelelahan selama perjalanan panjang,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/13/4cd836ada0830783e3eceb03899fb29b-WhatsApp_Image_2026_03_13_at_10.19.10_AM.jpeg)
Dalam publikasi yang dikeluarkan Departemen Energi AS, mengemudi agresif dapat menurunkan efisiensi bahan bakar sebesar 15-30 persen pada kecepatan jalan raya, dan 10-40 persen pada lalu lintas berhenti-dan-jalan (padat). Menurut mereka, pengemudi dapat menghindari akselerasi/deselerasi yang tidak perlu dengan menjaga jarak yang baik dengan mobil di depan sehingga pengemudi dapat mengantisipasi jalan dan arus lalu lintas sejauh mungkin.
Selain berhemat BBM saat berkendara, beberapa penelitian menyebut bahwa penggunaan mesin dalam keadaan diam (idling) juga mengonsumsi BBM cukup besar. Penelitian Yuhan Huang (dari School of Civil and Environmental Engineering, University of Technology Sydney, NSW 2007, Australia) dan teman-temannya, yang dipublikasikan dalam artikel berjudul ”Eco-driving Technology for Sustainable Road Transport: A Review”, menyebut bahwa kendaraan diam mengonsumsi bahan bakar 0,6-5,7 Liter/jam (bergantung pada jenis kendaraan, ukuran mesin, jenis bahan bakar, dan beban).
Penggunaan mesin dalam keadaan diam diperkirakan membuang sekitar 22,7 miliar liter bahan bakar di AS setiap tahun. Penggunaan mesin dalam keadaan diam juga menghasilkan emisi polutan tinggi berupa CO, HC, NOx, dan PM.
Nah, bagaimana menurut Anda? Sudahkah Anda menerapkan eco driving?
Penulis:
Dahlia IrawatiEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji