Musim hujan telah tiba. Banjir mulai terjadi di sejumlah wilayah. Saatnya pemerintah dan masyarakat bersiap menghadapi dampaknya.
04 Nov 2025 06:13 WIB · Tajuk Rencana
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi persnya hari Sabtu (1/11/2025) menjelaskan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat melanda Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, serta sebagian Yogyakarta. Totalnya, seluas 43,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mencatat dampak intensitas hujan yang meningkat berupa banjir sedikitnya di 10 kota dan kabupaten. Pada Oktober 2025, berturut-turut banjir melanda Kota Medan dan Kabupaten Batu Bara di Sumatera Utara (Sumut) pada 11 Oktober 2025; Kota Tebing Tinggi, Sumut, pada 12 Oktober 2025; Kota Semarang dan Kabupaten Demak di Jawa Tengah pada 22 Oktober 2025; Kabupaten Lumajang di Jawa Timur (Jatim); dan Kabupaten Tolitoli di Sulawesi Tengah pada 24 Oktober 2025. Selain itu, di Kota Bandung dan Kabupaten Sukabumi di Jawa Barat (Jabar) pada 27 Oktober 2025 yang disertai longsor di Sukabumi dan Jakarta pada 26-30 Oktober 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/10/31/6598ea2e-0673-41ee-b54f-2f03e1a33ee6.jpg)
Walaupun dampak hujan sudah dirasakan pada Oktober 2025, potensi banjir dan longsor pada bulan-bulan ke depan tidak kalah besarnya. Dwikorita Karnawati mengingatkan, puncak musim hujan di Indonesia diperkirakan terjadi secara bertahap mulai November 2025 hingga Februari 2026.
Dampak hujan tidak hanya berupa banjir dan longsor, tetapi juga mengancam jiwa. Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan pohon tumbang dan menimpa mobil di Jakarta. Dua orang tewas pada kejadian terpisah pada 26 dan 30 Oktober 2025. Di Kabupaten Trenggalek, Jatim, empat orang tewas karena longsor menimpa rumahnya (Kompas, 3/11/2025).
Fenomena alam tahunan ini semestinya tidak membuat kita terkejut dengan dampaknya. Antisipasi sudah dapat dilakukan, seperti mengevaluasi pohon-pohon rawan tumbang di tepi jalan perkotaan, memperbaiki drainase, mengeruk sedimen sungai, mengecek tanggul sungai, menyiapkan pompa, hingga menyiapkan lokasi pengungsian di wilayah yang langganan banjir setiap musim hujan. Dalam jangka panjang, pembuatan embung penampung air sungai dan reboisasi di kawasan hulu sungai terus dilakukan.
Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir juga dapat memanfaatkan sistem informasi kebencanaan yang tersedia di akun BMKG dan BNPB di media sosial. Beberapa kawasan rawan banjir, seperti di wilayah yang dilalui Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas di Jabar, bahkan mempunyai sistem informasi melalui aplikasi Whatsapp di grup RT/RW. Warga dapat memantau debit air sungai sejak dari hulu hingga hilir sehingga dapat menyiapkan diri sebelum banjir datang.
Mitigasi di tingkat pemerintah dan masyarakat seperti ini diharapkan menjadi prosedur operasi standar di wilayah rawan bencana. Dengan demikian, dampak bencana hidrometeorologi dapat diminimalkan.
Penulis:
RedaksiEditor:
Albertus Subur Tjahjono, Adi PrinantyoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto