Indonesia harus menyiapkan langkah antisipasi dan mitigasi menghadapi kemungkinan guncangan ke depan dengan memperkuat resiliensi dan bantalan pertahanan ekonomi.
22 Jun 2025 20:14 WIB · Artikel Opini
Menyusul serangan Amerika Serikat terhadap tiga situs nuklir Iran yang disebut Presiden Donald Trump sangat sukses, dunia kini waswas menunggu perkembangan situasi berikutnya di Timur Tengah. Kita juga menunggu reaksi sentimen pasar keuangan global pada saat perdagangan di berbagai belahan dunia kembali dibuka Senin pekan ini.
Campur tangan militer AS dalam konflik Israel-Iran kian memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik Timur Tengah. Dampaknya terhadap pasokan minyak, jalur pelayaran global, dan perekonomian dunia juga semakin sulit diprediksi.
Semua tergantung respons Iran. Seperti diduga, kecil kemungkinan Iran tak membalas. Minggu (22/6/2025), Iran dilaporkan menembakkan sedikitnya 30 rudal dalam dua gelombang serangan ke Israel.
Spekulasi juga kian meningkat bahwa perang akan semakin tereskalasi, melibatkan kekuatan-kekuatan besar lain seperti Rusia, China, dan negara-negara anggota NATO yang lain.
Semakin lama perang berlangsung, akan semakin besar pula kerusakan yang diakibatkan pada perekonomian global. Kita tidak bisa berharap perang akan berlangsung singkat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/22/d2a839f8cf6f5d633cdc5d403378ac6a-WhatsApp_Image_2025_06_22_at_17.35.41.jpeg)
Perang Iran-Israel bukan sekadar konflik regional yang melibatkan dua negara, tetapi perang terbuka yang berpotensi mengguncang ekonomi dunia dan memicu resesi global.
Dampaknya segera dirasakan: melonjaknya harga energi, disrupsi perdagangan atau gangguan rantai pasok global, gejolak pasar keuangan, serta kian meningkatnya instabilitas dan tensi geopolitik global.
Skenario terburuk, menurut para analis, adalah jika Iran menghentikan total pasokan minyak mentahnya dan memblokade Selat Hormuz—alur transportasi hampir 30 persen pasokan minyak global—maka harga minyak mentah diprediksi bisa mencapai 130 dollar AS per barel.
Angka itu jauh di atas asumsi harga minyak mentah di APBN 2025 sebesar 82 dollar AS per barel.
Harga minyak yang tinggi akan memicu lonjakan biaya produksi, transportasi, dan energi di banyak negara sehingga mendorong inflasi global. Tekanan inflasi global akan membuat The Fed menunda penurunan suku bunga. Ini akan memicu arus modal keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dan kian menekan nilai tukar rupiah.
Bagi Indonesia, situasi ini kian menambah tekanan di tengah memburuknya prospek perekonomian dalam negeri—yang ditandai dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik dan memburuknya sejumlah indikator ekonomi makro dan sektor riil lainnya.
Lonjakan harga minyak akan berdampak pada stabilitas fiskal Indonesia sebagai importir neto minyak. Setiap kenaikan 1 dollar AS harga minyak mengakibatkan pembengkakan belanja negara hingga Rp 10 triliun dan harga minyak 130 dollar AS/barrel akan memicu defisit fiskal hingga Rp 330 triliun. Lonjakan harga minyak mentah juga membuat kebutuhan akan subsidi energi membengkak.
Pemerintah akan dipaksa kembali menambah utang untuk menambal defisit fiskal yang melebar. Bukan tak mungkin, pemerintah juga dipaksa memangkas lebih jauh anggaran belanja kementerian/lembaga sehingga kian mengancam prospek pertumbuhan ekonomi.
Menyusul serangan Israel terhadap Iran pada 12 Juni lalu, pasar langsung bereaksi. Pada perdagangan esoknya, indeks Dow Jones anjlok hampir 2 persen, S&P 500 terpangkas hampir 1 persen, dan harga minyak melonjak lebih dari 10 persen hanya dalam beberapa hari. Harga emas dan dollar AS juga meningkat tajam karena investor berpindah ke aset yang dinilai lebih aman.
Serangan AS terhadap Iran dan serangan balasan Iran pada Israel berlangsung pada akhir pekan saat pasar tutup. Sebelumnya, indeks utama bursa AS cenderung terus melemah dengan investor terus memantau perkembangan terbaru dari Timur Tengah.
Mereka juga mencermati sinyal arah pergerakan suku bunga AS. Dengan kecenderungan meningkatnya tekanan inflasi, Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mengatakan, paling cepat The Fed kemungkinan baru akan memangkas suku bunga acuan pada bulan Juli. Ketidakpastian arah suku bunga AS juga memicu ketidakpastian ekonomi global dan tekanan pada negara-negara berkembang.
Jumat lalu, SP 500 untuk ketiga kali berturut-turut ditutup melemah 0,22 persen, pada 5.967,84. Nasdaq Composite turun 0,51 persen dan ditutup pada 19.447,41. Dow Jones Industrial Average naik 35,16 poin, atau 0,08 persen, ditutup pada 42.206,82.
Situasi di Timur Tengah yang semakin memanas tampaknya kian meluncur menuju skenario terburuk yang dikhawatirkan para pengamat global. Indonesia harus menyiapkan langkah antisipasi dan mitigasi, menghadapi kemungkinan guncangan ke depan, dengan memperkuat resiliensi dan bantalan pertahanan ekonomi dalam negeri.
Penulis:
Sri Hartati SamhadiEditor:
Neli Triana, Marcellus HernowoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti