Pebulu Tangkis Bersiap untuk Persaingan Lebih Tinggi

Empat gelar juara didapat Indonesia pada turnamen bulu tangkis Indonesia Masters II. Ini menjadi bekal atlet untuk tantangan lebih sulit.

03 Nov 2024 19:09 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani - [email protected]

SURABAYA, MINGGU — Pemain-pemain tuan rumah mendapat empat gelar juara dari turnamen bulu tangkis Indonesia Masters II di Surabaya, Jawa Timur. Saatnya bagi skuad ”Merah Putih” untuk bisa bersaing dalam turnamen level tinggi.

Indonesia Masters II yang diselenggarakan di Jatim Expo, 29 Oktober-3 November, adalah turnamen BWF Tour Super 100. Berdasarkan struktur turnamen BWF, Super 100 termasuk dalam kategori tingkat kedua level 6. Berada di atasnya adalah level 1 hingga 5, yaitu Final BWF, Super 1000, Super 750, Super 500, dan Super 300.

Di antara para juara Indonesia Masters II, beberapa akan segera naik level ke BWF World tour, salah satunya ganda campuran Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah. Dalam laga final yang berlangsung Minggu (3/11/2024), Amri/Nita mengalahkan rekan latihan di pelatnas bulu tangkis, Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri Pranata, dengan skor 22-20, 21-13.

Hasil tersebut memperbaiki yang didapat Amri/Nita pada Indonesia Masters I di Pekanbaru, Riau, 27 Agustus-1 September, ketika mereka tersingkir pada semifinal. Gelar juara ini juga membuat Amri/Nita selangkah lebih baik dibandingkan final yang dicapai di Indonesia International Challenge II di tempat yang sama, pekan lalu. Saat itu, mereka kalah dari Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu.

Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah menjadi juara ganda campuran turnamen Indonesia Masters II setelah mengalahkan sesama pemain Indonesia, Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri Pranata, 22-20, 21-13, dalam final di Jatim Expo, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (3/11/2024).

”Tampil pada dua final beruntun tentu tidak mudah karena lawan-lawan di turnamen ini sangat tangguh, termasuk dari rekan satu negara. Jadi, kami sebisa mungkin menjaga fokus dan konsistensi permainan,” komentar Nita.

Amri/Nita dan Marwan/Aisyah menjadi bagian dari empat ganda campuran Indonesia yang mendominasi semifinal Indonesia Masters II. Hal yang sama terjadi di Indonesia International Challenge II.

Skuad ganda campuran juga tampil baik pada rangkaian Indonesia International Challenge I dan Indonesia Masters I di Riau, 20 Agustus-1 September. Indonesia diwakili tiga semifinalis pada masing-masing turnamen yang kemudian melahirkan Jafar/Felisha sebagai juara.

Jafar/Felisha, Amri/Nita, Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil, dan Marwan/Aisyah adalah tiga ganda campuran pelatnas utama yang berada di bawah Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari dan Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati. Keempat pasangan itu dibentuk berdasarkan pertukaran partner yang dilakukan tim pelatih ganda campuran, yang dipimpin Herry Iman Pierngadi. Perubahan itu dilakukan sebagai penyegaran setelah prestasi pasangan lama dinilai stagnan.

Bersama pasangan baru, setiap pasangan harus mulai berkompetisi dari turnamen BWF level rendah. Target mereka adalah untuk mematangkan berbagai faktor kemampuan dan kekompakan, serta mengumpulkan poin ranking sebanyak mungkin.

Amri mengatakan, memulai kembali perjalanan bersama partner baru dalam turnamen kecil bukan hal yang mudah. ”Semuanya kembali ke masing-masing individu, seperti apa komitmennya. Kami harus terus bersiap dengan maksimal agar bisa bersaing di level lebih tinggi,” kata Amri.

Herry menilai, hasil yang didapat ganda campuran pada dua turnamen di Surabaya dan turnamen lain sejak Agustus merupakan hasil kerja keras para pemain. ”Pemain memulai lagi dari bawah untuk melihat hasil latihan mereka selama ini. Untuk level persaingan yang lebih tinggi, mereka harus bekerja keras lagi karena lawan dan level permainan sangat berbeda,” tutur Herry.

Alwi Farhan menjuarai tunggal putra turnamen Indonesia Masters II di Surabaya, Jawa Timur. Alwi mengalahkan Sholeh Aidil (Malaysia) dengan skor 21-10, 21-9 pada final, Minggu (3/11/2024).
Quote

Gelar ini penting pada masa transisi saya untuk bermain di level lebih tinggi. Ini penantian panjang saya untuk bisa juara lagi dan ini merupakan buah dari kerja keras saya.

Pelatih yang berpengalaman mengantarkan ganda putra Indonesia menjadi pemain-pemain elite dunia ini menyebutkan, Amri dan kawan-kawan harus bersiap untuk menghadapi turnamen level lebih tinggi mulai 2025. Mereka akan tampil pada turnamen BWF World Tour, dimulai dari level Super 300.

Juara tunggal putra, Alwi Farhan, bahkan akan langsung bersaing dalam turnamen Super 500 di Jepang, yaitu Kumamoto Masters, 12-17 November. Berdasarkan daftar peserta, juara dunia yunior 2023 itu akan memulai dari babak kualifikasi.

”Gelar ini penting pada masa transisi saya untuk bermain di level lebih tinggi. Ini penantian panjang saya untuk bisa juara lagi dan ini merupakan buah dari kerja keras saya,” kata Alwi setelah mengalahkan pemain Malaysia, Sholeh Aidil, 21-10, 21-9, di final.

Alwi, yang saat ini menempati peringkat ke-49 dunia, sebenarnya berkali-kali mendapat kesempatan tampil pada turnamen Super 300 dan 500. Akan tetapi, pemain berusia 19 tahun itu belum bisa tampil konsisten di level tersebut. Dia masih sering tersingkir pada dua babak awal.

Pelatih tunggal putra yang mendampingi Alwi di Indonesia Masters II, Harry Hartono, mengingatkan bahwa Alwi harus meningkatkan kemampuan teknis, faktor fisik, dan kekuatan mental pada masa perpindahan dari level yunior ke persaingan yang lebih tinggi.

”Lawan Alwi pada turnamen dewasa adalah pemain-pemain yang usianya lebih tua empat hingga lima tahun. Mereka pastinya lebih tangguh. Alwi harus siap menghadapi itu,” kata Harry.

Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi berteriak setelah memastikan menjadi juara tunggal putri turnamen Indonesia Masters II di Surabaya, Jawa Timur. Pemain berusia 18 tahun itu mengalahkan unggulan ketiga, Karupathevan Letshanaa (Malaysia), 21-19, 21-17, di final, Minggu (3/11/2024).

Dhinda juara

Pemain tunggal putri, Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi, menjadi bintang turnamen Indonesia Masters II. Pemain berusia 18 tahun itu mendapatkan gelar pertamanya dari ajang internasional setelah mengalahkan Karupathevan Letshanaa (Malaysia), 21-19, 21-17, di final.

Perjalanan Dhinda untuk tampil di laga puncak hingga juara lebih panjang dibandingkan lawannya yang menjadi unggulan ketiga. Dhinda tampil melalui babak kualifikasi. Dia memenangi dua babak untuk tampil pada babak utama dan menambah lima kemenangan untuk menjadi juara.

Sebelum memenangi final, Dhinda memperlihatkan daya juangnya ketika menjalani babak kedua hingga semifinal, masing-masing, dalam tiga gim. Dia bertahan meski bermain dalam kondisi lelah.

Menghadapi final, luka di kakinya bahkan sering berdarah. ”Pelatih memberi motivasi agar saya tidak memikirkan rasa sakit karena hanya semangat yang bisa melawan rasa sakit. Saya pun tidak menduga bisa menang dalam dua gim,” kata Dhinda yang menjadi anggota pelatnas sejak awal 2024.

Pelatih tunggal putri pelatnas pratama, Morico Harda, mengatakan, dia telah membuat catatan tentang performa Dhinda. Salah satu yang diapresiasi dari atlet yang turut mengantarkan Indonesia menjadi juara Kejuaraan Dunia Yunior Beregu (Piala Suhandinata) 2024 itu adalah semangat juang yang tinggi.

”Semangatnya bisa dicontoh pemain lain karena selain berlatih keras, mental petarung atlet harus terus ditumbuhkan untuk meraih hasil baik pada setiap turnamen,” kata Morico.

Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan/Rahmat Hidayat menjuarai ganda putra turnamen Indonesia Masters II. Melalui final sesama pemain Indonesia di Jatim Expo, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (3/11/2024). Yeremia/Rahmat menang atas Raymond Indra/Patra Harapan Rindorindo dengan skor 23-21, 21-18.

Gelar lain untuk pemain tuan rumah didapat ganda putra, Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan/Rahmat Hidayat. Melalui final sesama pemain Indonesia, Yeremia/Rahmat menang atas Raymond Indra/Patra Harapan Rindorindo dengan skor 23-21, 21-18. Adapun ganda putri Lanny Tria Mayasari/Siti Fadia Silva Ramadhanti kalah dari unggulan teratas asal Taiwan, Hsieh Pei Shan/Hung En Tzu, 19-21, 15-21.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata