Bersukaria dan Menumbuhkan Literasi di Taman-taman Jakarta yang Inklusif

Sejumlah taman di Jakarta ditata dan dibuka 24 jam agar menjadi ruang berekspresi. Warga pun datang ke taman untuk membaca buku dan kegiatan lain yang menyenangkan.

30 Mei 2025 05:30 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

Apa itu taman? Kamus Besar Bahasa Indonesia daring mengartikannya sebagai tempat untuk bersenang-senang atau tempat yang menyenangkan. Memang seharusnya begitu, bukan? Di taman, orang datang untuk bersukaria. Bahkan, benih-benih literasi tumbuh tanpa banyak suara.

Silmi (34) sebenarnya jarang ke taman. Bukan karena malas. Tempat tinggalnya di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, minim ruang terbuka hijau yang teduh, luas, dan aman.

Ada eco park punya pihak swasta. Namun, ia dan keluarga hanya beberapa kali ke sana untuk jalan-jalan di pagi hari.

Akhirnya, suatu hari ia mendapatkan saran yang menarik. Sepupunya bercerita tentang Baca Bareng Silent Book Club Jakarta.

Minggu (25/5/2025) yang lalu jadi kali pertama ia ikut silent book club di Taman Langsat, Jakarta Selatan. Sempat ada perasaan deg-degan karena takut nyasar dan terlambat. Akan tetapi, semua sirna dengan sukaria.

”Alhamdulillah, menyenangkan. Taman Langsat tuh amaze (menakjubkan) ya. Ramai banget. Sekaligus iri juga, kenapa di daerahku (Bekasi) enggak ada yang begini,” tutur Silmi pada Rabu (28/5/2025).

Banyak warga beraktivitas di Taman Langsat saat silent book club. Ada muda-mudi, suami-istri, keluarga, hingga mereka yang menikmati waktu seorang diri.

Riuh rendah itu tak mengganggu Silmi. Ia larut dengan novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Begitu juga peserta lainnya yang tenggelam dalam bacaan masing-masing. ”Saya niatkan untuk rutin datang setiap bulan,” ujar Silmi.

Niat ini tak lepas dari kesan yang didapat. Ia bisa membaca buku dengan nyaman tanpa harus menguras banyak energi untuk diskusi bacaan.

Noka Liana (27) juga melepas penat dari sesaknya Jakarta di taman. Apalagi ada silent book club yang menawarkan suasana baru.

Pekerja kantoran ini rutin berkegiatan di taman sejak awal 2025. Setidaknya sekali sepekan untuk bersantai, membaca buku, atau sekadar jalan-jalan di pagi hari.

”Kalau capek setelah bekerja atau bosan sama suasana kosan, saya sempatin juga ke taman walaupun hanya makan cilok,” seloroh Noka.

Belakangan, ia semakin menikmati aktivitas di taman semenjak ikut silent book club. Kegiatan tersebut unik karena serasa membaca dengan gaya piknik dalam waktu 60 menit bersama orang tidak dikenal.

Meski begitu, mereka bisa berbagai daftar bacaan di akhir sesi. Bahkan, kebanyakan buku yang belum pernah diketahui Noka sebelumnya. ”Taman di Jakarta sudah semakin bagus, nyaman, banyak yang datang. Tapi, pemerintah lebih proaktif dong mendukung kegiatan literasi,” ucap Noka.

Salah satunya menambah tempat baca. Tak hanya nyaman atau memadai, tetapi bisa dijangkau oleh siapa pun. Kemudian, berkolaborasi dengan komunitas untuk kegiatan yang memantik minat baca, seperti silent book club.

Menikmati musik dan buku.

Patah hati ke literasi

Baca Bareng Silent Book Club Jakarta diinisiasi oleh bookstagrammer Hestia Istiviani sejak 24 Agustus 2019 hingga saat ini. Sesi terakhir pada 25 Mei lalu sudah diikuti hingga 500 orang.

Ia tak mengira akan banyak peminat. Sebab, ide awal datang setelah membaca artikel tentang silent book club yang bermula di San Francisco, Amerika Serikat, dan pengalaman pribadinya.

Pegiat literasi ini besar dalam pengasuhan orangtua kutu buku sehingga merasa bahwa membaca senyap bersama adalah kenormalan. Namun, ia merasa kesepian karena tidak punya teman membaca senyap ketika pindah dari Surabaya ke Jakarta untuk meniti karier.

”Ditambah lagi tahun 2019 adalah tahun di mana saya harus merasakan patah hati,” ujar Hestia ketika dihubungi terpisah.

Awalnya, peserta hanya sesama pembaca yang sudah mengenalnya dari media sosial X dan Instagram. Kini, hadir wajah baru yang didominasi kawula muda dan pekerja kantoran.

Perkembangan ini tak lepas dari andil media sosial sebagai penyebar informasi dan dokumentasi. Unggahan tentang silent book club membuat banyak orang penasaran.

Namun, salah satu hal yang disyukurinya ketika berada dan tinggal di Jakarta ialah pemerintah yang hadir. Meskipun kehadiran itu masih standar yang minimal (bare minimum).

”Ruang publik yang bebas dipakai semakin banyak. Memungkinkan saya dan pegiat literasi lain untuk bisa beraktivitas tanpa khawatir memikirkan biaya sewa tempat” kata Hestia.

Taman Langsat, misalnya, menjadi opsi rekreasi minim biaya untuk semua kalangan. Aksesnya juga terjangkau dengan angkutan umum.

Satu pinta Hestia. Pemerintah menata alur birokrasi dengan jelas bagi warga atau komunitas yang ingin mengadakan kegiatan di taman. Selama ini ada rasa waswas. Takut tiba-tiba dibubarkan atau kena pungutan biaya dari pihak tertentu.

”Informasi yang jelas dan transparan pada kanal informasi pemerintah atau dinas terkait akan memudahkan publik atau pegiat literasi seperti saya untuk mengadakan kegiatan di taman,” kata Hestia.

Warga menghabiskan sore dengan piknik di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (12/5/2025). Banyak cara warga memanfaatkan libur panjang hari Tri Suci Waisak 2569 BE di Jakarta, salah satunya dengan piknik di taman-taman kota. Berlibur di taman kota menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk menghabiskan waktu libur tanpa banyak mengeluarkan biaya. Jakarta memiliki banyak taman kota dan ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan oleh warga untuk beraktivitas. Taman kota dan ruang terbuka hijau juga ramah untuk bermain dengan anak. Banyak manfaat membawa anak bermain di luar rumah untuk tumbuh kembangnya, baik secara fisik, sosial, maupun kognitif. 

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
12-05-2025

Taman 24 jam

Kebutuhan warga akan ruang terbuka hijau ini masuk 40 program hasil terbaik cepat (quick wins) 100 hari pertama Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung-Rano Karno. Mereka membuka taman 24 jam agar menjadi ruang ekspresi yang aman dan nyaman serta saluran aspirasi warga.

Lima taman sudah mulai dibuka 24 jam setiap hari sejak Jumat (16/5/2025). Taman tersebut ialah Taman Menteng dan Taman Lapangan Banteng di Jakarta Pusat, serta Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Literasi Marta Christina Tiahahu di Jakarta Selatan.

Pramono-Rano ingin menghadirkan taman yang hidup dan inklusif, serta menyegarkan wajah kota di tengah kurangnya ruang terbuka hijau. Peta ruang terbuka hijau dalam laman Jakarta Satu menunjukkan, luasan ruang terbuka hijau di Jakarta baru mencakup 35,99 kilometer persegi. Cakupannya hanya 5,45 persen dibandingkan dengan luas wilayah 660,98 km persegi (BPS Jakarta, 2025),

Cakupan tersebut terdiri dari 2.232 RTH, 1.710 jalur hijau, 1.335 taman lingkungan, 130 taman interaktif, 112 hutan kota, 110 pemakaman, 83 taman kota, dan lainnya. Paling banyak ada di Jakarta Timur 24,51 persen. Menyusul di Jakarta Selatan 23,63 persen, Jakarta Utara 19,49 persen, Jakarta Pusat 11,76 persen, Jakarta Barat 10,09 persen, dan sisanya 6,21 persen.

”Untuk pembukaan taman 24 jam, pro dan kontra enggak apa-apa. Yang enggak setuju enggak usah datang, yang setuju nikmati,” kata Pramono seusai meninjau pengerukan kali di Kebon Melati, Jakarta Pusat, pada Senin (26/5/2025).

Terlepas dari pro dan kontra, politisi PDI Perjuangan ini menerima banyak respons positif seiring kebijakan tersebut. Lapangan Banteng, misalnya, dengan pencahayaan yang bagus bisa jadi tempat olahraga pada malam hari.

Tak hanya taman. Pemprov DKI Jakarta memperpanjang jam operasional perpustakaan di bawah naungannya hingga pukul 22.00 WIB. Langkah ini bertujuan meningkatkan akses warga pada fasilitas pendidikan, termasuk museum sekaligus komitmen menciptakan keadilan sosial.

Mantan Sekretaris Kabinet ini turut menyinggung hal tersebut dalam forum JAKINVEST: Membuka Peluang Investasi untuk Transformasi Jakarta Menuju Top 50 Kota Global yang digelar di Balai Kota Jakarta, Selasa (27/5/2025) malam.

Ia mengutarakannya di hadapan organisasi perangkat daerah, firma konsultan manajemen global yang menerbitkan salah satu indeks kota global (global city index), yaitu AT Kearney, serta investor.

Duduk ngemper sekenanya sambil tenggelam dalam bacaan masing-masing.

Program utama dan pertama yang diselesaikan Pramono adalah pendidikan akar rumput. Sebab, banyak warga belum beruntung sehingga harus dipotong garis ketidakberuntungan. Itulah mengapa penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) gratis masuk ke taman, museum, dan tempat wisata.

”KJP dan KJMU jaminan bagi keluarga tidak mampu. Kenapa gratis ke museum, taman, dan perpustakaan. Untuk mensugesti anak-anak agar punya mimpi,” kata Pramono.

Kembali ke hakikatnya. Di taman, warga bersenang-senang. Melakukan hal-hal menyenangkan, termasuk memupuk mimpi untuk hidup yang lebih baik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .