Efek pengumuman MSCI dinilai tidak akan sederas sebelumnya, tetapi tetap berpeluang memberikan sentimen negatif pada 12 Mei.
11 Mei 2026 19:09 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kompas/Erika Kurnia
JAKARTA, KOMPAS — Agenda peninjauan saham Indonesia di indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI diprediksi menjadi faktor penekan Indeks Harga Saham Gabungan. Didukung beberapa faktor ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, indeks komposit diprediksi masih akan menguji level di bawah 7.000.
Selasa (12/5/2026) atau besok, MSCI akan mengumumkan hasil peninjauan indeks globalnya, termasuk MSCI Indonesia. Pengumuman ini untuk penentuan penyesuaian atau rebalancing baru yang akan berlangsung pada 29 Mei 2026.
Dalam pengumuman sebelumnya, MSCI menyatakan akan mengeluarkan dua saham Indonesia yang masuk dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholder concentration (HSC), sesuai kebijakan terbaru pasar modal Indonesia.
Dua saham itu adalah saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatama Indonesia Tbk (DSSA).
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, ditemui di BEI, Jakarta, Senin (11/5/2026), menilai bahwa penyesuaian indeks merupakan hal lumrah dalam mekanisme pasar, terutama saat otoritas sedang melakukan reformasi integritas.
”Ini namanya rebalancing index. Kita lihat, semoga bisa kita antisipasi dengan baik. Saya sudah sampaikan, dengan perbaikan integritas yang kita lakukan, pasti ada dampaknya. Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain untuk long term gain,” ujar Friderica.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/76fbffd21b5556d6af03f582db577c00-Screenshot_20260406_104845_Kompasid.jpg)
Kabar potensi dikeluarkannya dua saham di indeks MSCI telah diantisipasi investor sejak pengumuman pertengahan April 2026. Pengumuman ini membuat banyak investor menjual saham BREN dan DSSA.
Nilai kapitalisasi pasar saham BREN pada April sebesar Rp 596 triliun atau 4,8 persen total kapitalisasi pasar di bursa, merosot dari Rp 1,2 triliun di Januari 2026. Adapun nilai kapitalisasi saham DSSA sebesar Rp 311 triliun atau 2,5 persen dari keseluruhan kapitalisasi pasar, turun dari Rp 346 triliun.
Kebijakan bursa yang menyebabkan saham tersebut ditinggalkan investor, menurut perempuan yang biasa disapa Kiki itu, merupakan langkah disiplin yang penting untuk kesehatan pasar modal Indonesia di masa depan.
Selain itu, terkait kekhawatiran saham Indonesia di MSCI turun kelas dari status emerging market ke frontier market, Friderica optimistis kualitas keterbukaan informasi emiten dalam negeri masih menjadi salah satu yang terbaik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/12/47a6ad388bc0a0c126a081e1be5b1e62-Screenshot_20260412_113343_WPS_Office_Lite.jpg)
Pertimbangan klasifikasi kelas itu sebelumnya disampaikan MSCI pada akhir Januari 2026. Ancaman ini disebut MSCI dapat dilakukan jika pasar modal Indonesia tidak memperbaiki masalah transparansi dan fundamental pasar yang mereka temukan.
”Moga-moga ini menjadi konsideran supaya Indonesia tetap di emerging market,” ujarnya.
Analis Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, ditemui di lokasi yang sama, menilai bahwa posisi Indonesia saat ini cenderung underweight atau berkinerja lebih buruk daripada rata-rata pasar atau indeks acuannya di mata investor global.
Pengeluaran BREN dan DSSA dari indeks MSCI nantinya juga akan mengikuti langkah bursa domestik yang sebelumnya telah mengeluarkan saham tersebut dari indeks utama di BEI, seperti IDX80 dan LQ45.
Kondisi ini dinilai akan berdampak pada pergerakan harga saham-saham lainnya, sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan kembali tertekan.
”Besok pasti masih akan volatil. Konsentrasi kita bukan hanya pada BREN dan DSSA, tapi saham-saham lain yang porsinya juga dikurangi oleh MSCI karena outlook kita dianggap kurang menarik,” jelas Liza.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/ae080e159545bec387c1c2bc4464952c-20260511_171313.jpg)
Senin (11/5/2026), IHSG melemah 0,92 persen ke posisi 6.905 poin dengan pelemahan terdalam dalam sehari perdagangan 6.846 poin. Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih Rp 751 miliar.
Liza menilai, pelemahan hari ini dipicu berbagai faktor. Salah satunya, melemahnya nilai tukar rupiah yang kini sudah menembus level Rp 17.400 per dolar AS sebagai alarm bagi pasar.
”Secara teknikal, jangan sampai IHSG jebol di bawah 6.800. Itu ibaratnya alarm sirenenya sudah bunyi. Untuk sementara, lebih baik wait and see atau stay away dulu sampai ada katalis positif,” tambahnya.
Riset dari Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG besok berpotensi melanjutkan pelemahan dan menguji level batas bawah dalam di rentang 6.750 hingga 6.850 poin.
Mereka menilai, kondisi pasar kian terbebani oleh ketidakpastian kebijakan domestik dan eskalasi ketegangan global.
Meskipun sempat ada sentimen positif dari rencana penundaan tarif royalti tambang oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, yang diumumkan hari ini, pasar kembali terkoreksi setelah Menteri Keuangan memastikan aturan tersebut akan tetap berlaku mulai Juni 2026.
Di sisi lain, penolakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap proposal damai Iran memicu kenaikan harga minyak mentah yang menekan bursa Asia.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto