Kisah penduduk Israel dan Palestina yang terkena imbas perang.
13 Apr 2025 08:01 WIB · Foto
Potongan kayu zaitun itu tertumpuk rapi dan mulai dipenuhi debu, Dibeberapa sudut juga mulai terlihat sarang laba-laba, tanda jarang dijamah. Suara ketukan pahat yang beradu dengan kerasnya kayu juga tidak lagi terdengar. Pemahat yang sebagian besar warga Palestina, kini kesulitan untuk ke bengkel kayu ini. Situasi ini diperparah dengan konflik bersenjata yang sedang terjadi.
Perang terbuka antara Hamas dan Israel yang dimulai sejak penyerbuan ratusan pejuang Hamas ke Israel 7 Oktober 2023 membawa banyak kerugian bagi masyarakat. Kala itu Hamas berhasil merangsek, masuk ke Israel, menewaskan hampir 1.200 warga dan menyandera 251 warga Israel.
Lebih dari 50.000 warga Palestina terbunuh dalam aksi balasan hingga saat ini. Gencatan senjata 90 hari dari 19 Januari 2025 sampai 1 Maret 2025, sempat membuat kehidupan “normal” selama 90 hari, gagal dilanjutkan.
Perang ini juga memengaruhi kehidupan masyarakat sipil yang mengandalkan sektor pariwisata, tertuama di Betlehem, kota yang diyakini umat kristen sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus.
Jejeran bengkel kayu yang biasanya mengolah kayu zaitun menjadi souvenir kini kosong. Pada masa mendekati perayaan Paskah seperti saat ini, juga perayaan Natal, tempat ini biasanya dijejali ribuan turis dari berbagai negara. Jalan-jalan akan dipenuhi teriakan pedagang menawarkan barang dagangan mereka.
Kini, ribuan masyarakat setempat mengandalkan kehidupannya pada pariwisata religi ini, terpaksa gigit jari. Betlehem sepi, pengunjung takut akan dampat perang yang bisa saja menimpa mereka. Ini ditambah dengan pengenaan tarif baru yang diterapkan Amerika Serikat dimana sebagian dari mereka biasanya meraup keuntungan besar dari penjualan ke Eropa dan Amerika Serikat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/12/fd3f69af-a9d2-40c6-b61a-7e3e8e117141_jpg.jpg)
Attalah Zacharia, seorang pemilik bengkel sekaligus pemilik toko di Betlehem mengatakan, sepinya turis kedaerah ini memaksanya mengurangi jumlah pekerja dari biasanya 25 orang menjadi hanya 10 orang. Stok barang-barang kerajinan dari kayu Zaitun tertumpuk di etalase tokonya. Banyak patung-patung serta salib dari kayu karya pemahat Palestina ini tergeletak di dimeja kerja, sebagian bahkan belum sepenuhnya selesai.
Pariwisata ke Israel dan Tepi Barat yang diduduki Israel telah anjlok. Israel melarang masuk sebagian besar dari 150.000 warga Palestina di Tepi Barat yang memiliki pekerjaan di Israel. Bassem Giacaman, seorang pemahat lain yang memiliki toko yang menghadap langsung ke Lapangan Manger di Betlehem, terlihat bersemangat ketika seorang pelanggan memasuki toko sekaligus bengkel kayu miliknya.
Ia segera memamerkan dagangannya, berharap hari itu ada yang terjual.
"Betlehem sebagai tujuan wisata telah menghadapi masa yang sangat sulit selama dua tahun terakhir," kata Anton Salman, wali kota Betlehem seperti dikutip AP. Kota ini sekarang tidak lagi memiliki pengunjung dan pemahat Palestina. Sebagian toko tutup, sebagian yang buka terlihat kosong.
Sepi.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari