Efek Trump, BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga 6 Persen

Meski masih ada ruang untuk kembali memangkas suku bunga acuannya, langkah BI selanjutnya akan mempertimbangkan stabilitas rupiah dan antisipasi kebijakan The Fed.

20 Nov 2024 12:39 WIB · Ekonomi

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di level 6 persen. Selain tingkat inflasi domestik dalam sasaran target, pertimbangannya adalah adanya tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat sentimen kemenangan Donald Trump pada pemilu AS yang membuat indeks dollar AS terhadap mata uang lainnya menguat.

BI menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 November 2024 guna menentukan arah pergerakan suku bunga acuan alias BI Rate, suku bunga deposit facility, dan lending facility. Keputusan itu akan diumumkan melalui Konferensi Pers Hasil RDG November 2024 di Gedung Thamrin BI, Jakarta, Rabu (20/11/2024).

Dalam RDG Oktober 2024, BI memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 6 persen, suku bunga deposit facility 5,25 persen, dan suku bunga lending facility 6,75 persen.

Guna memastikan inflasi tetap terjaga dalam target 1,5-3,5 persen, keputusan itu juga mempertimbangkan stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang kembali meningkat.

President Joe Biden meets with President-elect Donald Trump in the Oval Office of the White House, Wednesday, Nov. 13, 2024, in Washington. (AP Photo/Evan Vucci)

Ekonom senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Ryan Kiryanto, Rabu (20/11/2024), mengatakan, nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan hebat pasca-kemenangan Trump sebagai presiden AS.

Kemenangan Trump juga menyulitkan langkah bank sentral AS (The Fed) dalam menurunkan suku bunga acuannya.

”Maka, pilihan terbaik pada RDG BI kali ini adalah tetap menahan BI Rate di level 6 persen, meskipun sebenarnya inflasi domestik terkendali dan perekonomian sedang butuh stimulus pelonggaran kebijakan moneter,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.

Dengan tema mendukung stabilitas (pro-stability), opsi BI untuk tetap menahan suku bunga acuannya pada level 6 persen merupakan pilihan yang rasional. Ke depan, BI masih memiliki ruang yang cukup untuk menurunkan suku bunga acuannya sebesar 0,25 persen.

Tren Harga Emas Indonesia dan Suku Bunga 2024

Ryan memperkirakan, opsi tersebut akan diambil oleh BI apabila nilai tukar rupiah menguat dan stabil di kisaran Rp 15.300 per dollar AS. Selain itu, persyaratan lainnya ialah inflasi tetap berada dalam sasaran target dan stabilitas politik domestik terjaga.

”Andai kata pun, kali ini RDG BI menurunkan BI Rate ke 5,75 persen, maka ruang BI untuk menurunkan BI Rate lagi di bulan-bulan berikutnya menjadi makin amat terbatas. Menurut saya, prioritas saat ini adalah pro-stability over pro-growth,” ujarnya.

Quote

Ke depan, BI masih memiliki ruang yang cukup untuk menurunkan suku bunga acuannya sebesar 0,25 persen.

Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah ditutup Rp 15.816 per dollar AS pada perdagangan Selasa (19/11/2024). Dengan demikian, nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,7 persen dibandingkan akhir Oktober 2024 dan 2,44 persen dibandingkan akhir 2023.

Berdasarkan data transaksi 11-14 November 2024, investor asing mencatatkan jual neto di pasar keuangan domestik sebesar Rp 7,42 triliun. Ini terdiri dari jual neto sebesar Rp 4,12 triliun di pasar saham, jual neto Rp 3,65 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta beli neto Rp 0,35 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Pegawai perusahaan penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, menghitung lembaran rupiah, Selasa (3/9/2024). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate per Selasa, nilai tukar rupiah pada posisi Rp15.557 per dollar AS atau melemah 21 poin dibandingkan dengan posisi hari sebelumnya. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 03-09-2024

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, berpendapat, BI perlu mempertahankan suku bunga acuan pada level 6 persen. Pertimbangannya antara lain depresiasi rupiah akhir-akhir ini dan tidak adanya risiko inflasi yang mendesak.

Kebijakan mempertahankan suku bunga acuan, katanya, penting juga untuk memastikan penyesuaian di masa mendatang dilakukan secara strategis dan tepat waktu untuk mempertahankan stabilitas harga.

Riefky berpendapat, kondisi ekonomi pada November 2024 dipengaruhi perpaduan faktor domestik dan global. Dari sisi domestik, inflasi masih berada dalam kisaran target BI meskipun ada tren deflasi yang terus-menerus pada beberapa komponen.

Dinamika perdagangan juga terus menunjukkan ketahanan, bahkan ketika surplus menyempit. Di tingkat global, ketidakpastian yang berasal dari pemilu AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik telah memberikan tekanan pada arus modal, yang memengaruhi stabilitas rupiah.

Pegawai perusahaan penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, menghitung lembaran uang dollar AS, Selasa (3/9/2024). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate per Selasa, nilai tukar rupiah pada posisi Rp15.557 per dollar AS atau melemah 21 poin dibandingkan dengan posisi hari sebelumnya. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 03-09-2024

Dalam sebulan terakhir, telah terjadi arus modal keluar sehingga membuat nilai tukar rupiah melemah 1,38 persen secara bulanan, dari Rp 15.555 per dollar AS pada pertengahan Oktober 2024 menjadi Rp 15.770 per dollar AS pada pertengahan November 2024.

Namun, secara kalender berjalan, rupiah menunjukkan kinerja yang moderat dibandingkan mata uang negara lain, seperti rubel Rusia, lira Turki, real Brasil, dan peso Argentina.

Terlepas dari serangkaian arus modal keluar itu, Riefky mengatakan, cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2024 mencapai 151,2 miliar dollar AS atau meningkat 1,3 miliar dollar AS dibandingkan September 2024. Peningkatan ini disebabkan oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan