Baik secara langsung maupun tidak, ketidakpastian global yang dipicu oleh kebijakan tarif Trump berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dan kredit perbankan.
24 Apr 2025 07:00 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Ketidakpastian yang dipicu oleh kebijakan tarif Amerika Serikat berisiko membuat pertumbuhan ekonomi global melambat. Kondisi itu juga dapat merambat pada prospek perekonomian Indonesia dan penyaluran kredit perbankan ke depan.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, dinamika kebijakan tarif resiprokal AS yang disusul langkah retaliasi oleh China semakin meningkatkan ketidakpastian. Ini memicu peningkatan fragmentasi ekonomi global dan penurunan volume perdagangan dunia.
”Akibatnya, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2025 diperkirakan menurun, dari 3,2 persen menjadi 2,9 persen, dengan penurunan terbesar terjadi di AS dan China sejalan dengan dampak perang tarif kedua negara tersebut,” katanya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI April 2025 secara virtual, Rabu (19/3/2025).
Melalui RDG itu, BI juga memutuskan kembali mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 5,75 persen. Ini dilakukan guna menjaga perkiraan inflasi 2025 dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 1,5-3,5 persen. Selain itu, menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya ketidakpastian, sembari mendukung pertumbuhan ekonomi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/23/8c3f8c304745203f8924ae81ac214eea-Screenshot_2025_04_23_140527.png)
Secara langsung, Perry melanjutkan, kebijakan tarif AS akan berdampak langsung kepada Indonesia. Dari jalur perdagangan, permintaan ekspor ke AS diperkirakan menurun seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi AS.
Di sisi lain, kebijakan tarif tersebut secara tidak langsung juga dapat menurunkan permintaan ekspor Indonesia dari mitra dagang lainnya, seperti China. Dengan demikian, baik secara langsung maupun tidak langsung, tingginya ketidakpastian global akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
BI memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 akan berada sedikit di bawah titik tengah dalam kisaran 4,7-5,5 persen. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada di bawah 5,1 persen.
Ada sektor-sektor yang mungkin masih bisa meningkatkan ekspor, tetapi ada juga sektor-sektor yang akan terdampak dari sisi permintaan.
Menurut Perry, ketidakpastian global dan dampaknya terhadap perekonomian domestik dapat memengaruhi prospek permintaan kredit dan preferensi penempatan aset likuid perbankan. Pertumbuhan kredit pada 2025 diperkirakan menuju 9 persen atau dalam batas bawah target pertumbuhan BI yang sebesar 11-13 persen.
”Ada sektor-sektor yang mungkin masih bisa meningkatkan ekspor, tetapi ada juga sektor-sektor yang akan terdampak dari sisi permintaan,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/08/ba432e1f-c53c-4286-b947-280ad7e79543_jpg.jpg)
Per Maret 2025, penyaluran kredit perbankan tercatat tumbuh 9,16 persen secara tahunan, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tumbuh 10,3 persen. Dari sisi penawaran, minat penyaluran kredit (lending standard) dan kondisi likuiditas perbankan dinilai masih memadai.
Di lain pihak, dari sisi penawaran, kontribusi pertumbuhan kredit utamanya ditopang oleh sektor industri, pertambangan, dan jasa sosial. Sementara itu, kontribusi pertumbuhan kredit pada sektor konstruksi dan perdagangan masih terbatas.
Oleh sebab itu, BI akan terus memperkuat kebijakan makroprudensial yang akomodatif, antara lain, mengoptimalkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendorong kredit perbankan ke sektor prioritas yang mendukung pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja.
Selain itu, penguatan juga dilakukan melalui implementasi ketentuan Rasio Pendanaan Luar Negeri (RPLN) untuk mendorong pendanaan perbankan bagi manajemen likuiditas dan penyaluran kredit ke sektor riil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/14/2d72fe6b-1c53-490b-b599-80b6a59950ac_jpg.jpg)
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur BI Juda Agung menambahkan, pertumbuhan kredit pada Maret 2025 memang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, perlambatan ini belum mencerminkan pelemahan yang mendasar pada intermediasi perbankan.
”Indeks lending standar terkait persyaratan kredit, seperti agunan, suku bunga, dan persyaratan lain, belum ada tanda-tanda pengetatan. Lalu, apakah bank sudah selektif? Kelihatannya persyaratannya masih longgar atau belum terlalu selektif,” kata Juda.
Di sisi lain, ruang likuiditas perbankan yang tecermin dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (DPK) atau AL/DPK masih memadai, yakni sebesar 26 persen. Bagi bank-bank yang likuditasnya mengetat, dapat memanfaatkan pendanaan dari luar negeri atau dana non-DPK.
Dihubungi terpisah, ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, mengatakan, pertumbuhan kredit perbankan pada tahun ini sebagian besar dipengaruhi oleh melambatnya permintaan. Perlambatan tersebut terjadi akibat suku bunga tinggi dan kehati-hatian rumah tangga, serta dunia usaha.
”Terdapat faktor penyeimbang yang perlu dicermati, yakni jatuh tempo sejumlah besar Sekuritas Bank Indonesia (SRBI) pada periode Mei–Juli 2025, yang merupakan efek dari issuance besar pada periode yang sama tahun lalu. Penambahan likuiditas ini diharapkan dapat mendukung kapasitas penyaluran kredit perbankan,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/11/d078f6928b27f23054353e602a88243d-Screenshot_2025_04_11_162626.png)
Ia menambahkan, KLM BI turut memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan likuiditas perbankan. Namun, akselerasi kredit tetap bergantung pada pemulihan permintaan yang memerlukan waktu, terutama dengan tekanan global dan suku bunga global yang masih tinggi.
Dalam kesempatan lain, Presiden Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Jahja Setiaatmadja meyakini, kebijakan moneter BI telah sesuai dengan kondisi perekonomian terkini. Namun, ia berharap, BI dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah guna mendukung prospek dunia bisnis.
Memang kalau bicara likuiditas, secara industri agak lebih tight (ketat).
Selain itu, ia juga berharap, likuiditas perbankan dapat terus terjaga di tengah tekanan perekonomian global. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan likuiditas industri perbankan cenderung mengetat.
”Memang, kalau bicara likuiditas secara industri agak lebih tight (ketat). Kalau diamati, loan to deposit ratio (LDR) industri (perbankan), dari sekitar 84 persen pada 2023 bergeser menjadi hampir 89 persen pada akhir 2024,” katanya dalam konferensi pers Paparan Kinerja Triwulan I-2025 secara virtual.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/14/e16913c4-7172-4739-905b-824cd88b93f3_jpg.jpg)
Meski masih tergolong memadai, rasio tersebut menggambarkan tingkat likuiditas industri perbankan yang semakin ketat. Sebab, dalam kondisi normal, LDR industri perbankan bisannya berada dalam kisaran 82 persen.
Menurut Jahja, setiap bank memang memiliki karakteristik tersendiri, baik dalam penghimpunan DPK maupun penyaluran kredit. Adapun BCA menargetkan pertumbuhan kredit pada 2025 sebesar 6-8 persen dengan pertumbuhan DPK sebesar 6-7 persen.
Lebih lanjut, penghimpunan DPK dalam bentuk deposito individu cenderung lebih berat dibandingkan dana murah. Ini terjadi lantaran bunga deposito bank kurang kompetitif dibandingkan dengan imbal hasil yang ditawarkan oleh instrumen investasi lainnya.
Per Triwulan I-2025, BCA dan entitas anak membukukan laba Rp 14,1 triliun atau tumbuh 9,8 persen secara tahunan. Capaian ini, antara lain, ditopang oleh pertumbuhan kredit sebesar 12,6 persen secara tahunan menjadi Rp 941 triliun, dengan pertumbuhan DPK sebesar 6,5 persen secara tahunan menjadi Rp 1.193 triliun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/10/990ed277-0192-43e4-bb30-d7bcb5eeafb5_jpg.jpg)
Sementara itu, PT Bank Permata Tbk pada periode yang sama mencatatkan laba sebesar Rp 788,97 miliar atau turun 2,27 persen secara tahunan. Ini ditopang oleh pertumbuhan kredit sebesar 6 persen secara tahunan menjadi Rp 156,6 triliun, dengan pertumbuhan DPK sebesar 4,84 persen secara tahunan menjadi Rp 187,41 triliun.
Direktur Utama Bank Permata Meliza M Rusli mengatakan, perusahaan senantiasa disiplin dan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Selain itu, struktur neraca secara konsisten tetap dipertahankan dengan menjaga tingkat likuiditas yang memadai.
”Fokus kami tidak hanya pada pertumbuhan, tetapi juga menciptakan nilai bermakna yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” katanya dalam siaran pers.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul