BI akan mencermati prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam memanfaatkan ruang pemotongan suku bunga dengan mempertimbangkan pergerakan nilai tukar rupiah.
19 Mar 2025 15:22 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada level 5,75 persen. Keputusan ini mempertimbangkan ketidakpastian global yang masih terus berlanjut sekaligus menjaga stabilitas perekonomian domestik.
Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga tetap mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 5 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 6,5 persen. Hal itu disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI di Jakarta, Rabu (19/3/2025).
”Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18-19 Maret 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate (suku bunga acuan BI) tetap 5,57 persen,” katanya.
Ia melanjutkan, keputusan itu konsisten dalam rangka menjaga perkiraan inflasi pada 2025 dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 1,5-25 persen. Sejalan pula dengan upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian yang tetap tinggi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/19/f216b2ac-24aa-4611-ad41-d186553f189d_jpg.jpg)
Di sisi lain, BI akan mencermati prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam memanfaatkan ruang pemangkasan suku bunga acuan dengan mempertimbangkan pergerakan nilai tukar rupiah. Adapun kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran terus dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menurut Perry, ketidakpastian global masih tetap tinggi akibat kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) yang semakin luas. Hal itu berdampak terhadap dinamika perekonomian global yang pada 2025 diperkirakan tumbuh 3,2 persen.
”Tetap tingginya ketidakpastian global tersebut memerlukan respons kebijakan yang tepat dan terkoordinasi dengan baik untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” ujarnya.
BI perlu memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan ketahanan pasar keuangan dengan tetap mempertahankan suku bunga kebijakannya 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur Maret 2025.
Dari sisi domestik, BI memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 berada dalam kisaran 4,7-,5,5 persen. Selain itu, tingkat inflasi domestik pada 2025 diperkirakan tetap akan terjaga dalam sasaran 1,5-3,5 persen.
Selain itu, ketahanan eksternal juga diproyeksikan terjaga, tecermin dari defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2025 yang tetap sehat seiring dengan surplus transaksi modal dan finansial yang berlanjut.
Hal itu juga didukung imbal hasil investasi yang tetap menarik dan defisit transaksi berjalan yang terjaga dalam kisaran defisit 0,5-1,3 persen dari produk domestik bruto (PDB).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/20/e9f6445b-a572-420b-8cc9-deb0eca89670_png.png)
Dihubungi terpisah, ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky berpendapat, BI memang perlu mewaspadai beberapa faktor risiko, baik dari sisi eksternal maupun internal.
Faktor eksternal tersebut berkaitan dengan keputusan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Sementara dari sisi internal, ada faktor tekanan harga selama periode Ramadhan dan Idul Fitri.
”Dengan adanya dinamika ini, kami melihat BI perlu memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan ketahanan pasar keuangan dengan tetap mempertahankan suku bunga kebijakannya 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur Maret 2025,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
Riefky menjelaskan, tingkat inflasi pada Februari 2025 memang berada di bawah sasaran BI yang sebesar 1,5-3,5 persen, bahkan mencatatkan deflasi sebesar 0,09 persen secara tahunan. Namun, terdapat potensi risiko tekanan harga seiring dengan meningkatnya permintaan saat momentum Ramadhan dan Idul Fitri.
Di sisi lain, risiko eksternal datang dari sikap The Fed yang cenderung berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya. Selain itu, ada pula faktor ketidakpastian dari kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/06/2b49d5e2-6182-4b86-a2aa-52f797873611_png.png)
The Fed dijadwalkan menggelar Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) alias RDG hampir bersamaan dengan RDG BI. Bank Sentral AS itu diperkirakan juga akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya.
Menurut Riefky, pemangkasan suku bunga acuan oleh BI justru berisiko menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Per 13 Maret 2025, rupiah berada di level Rp 16.420 per dollar AS atau terdepresiasi 1,02 persen dibandingkan periode yang sama bulan lalu.
”Secara tahun kalender berjalan, rupiah melemah 1,59 persen, lebih rendah dari sebagian besar mata uang regional dan hanya lebih baik dibandingkan lira Turki, peso Argentina, dan rupee India. Sebaliknya, mata uang regional lainnya mencatatkan apresiasi terhadap dollar AS,” ujarnya.
Faktor ketidakpastian global telah berdampak terhadap keluarnya arus modal asing di pasar keuangan domestik, terutama di pasar saham. Selama pertengahan Februari 2025 hingga pertengahan Maret 2025, arus modal asing di pasar saham domestik keluar sebesar 0,87 miliar dollar AS.
Selain itu, keluarnya arus modal asing juga dipengaruhi oleh sentimen negatif para investor terhadap ketidakpastian arah kebijakan pemerintah, seperti Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Penurunan peringkat pasar saham Indonesia oleh lembaga pemeringkat kredit dan investasi multinasional juga berpengaruh terhadap keluarnya arus modal asing.
Senada, Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan berpendapat, BI memiliki ruang terbatas untuk menurunkan suku bunga acuannya pada RDG Maret 2025. Meski tingkat inflasi jauh di bawah target sasaran BI, terdapat potensi tekanan terhadap nilai tukar seiring dengan arah kebijakan The Fed.
”Selama The Fed belum menurunkan suku bunga, BI akan sulit untuk menurunkan suku bunga acuannya. Kalau tetap memaksakan suku bunga turun, artinya rupiah harus terdepresiasi. Konsekuensinya lebih panjang lagi, seperti imported inflation, sehingga ruangnya pun terbatas,” katanya.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto