Biasanya Korea Utara menembakkan rudal serang, menyikapi manuver militer Korea Selatan dan AS. Kini Korut belajar dari pengalaman terlibat Perang Rusia-Ukraina.
24 Agt 2025 17:30 WIB · Internasional
PYONGYANG, SABTU — Di tengah latihan militer Amerika Serikat–Korea Selatan Perisai Kebebasan Ulchi 2025 yang tengah berlangsung, Korea Utara melakukan uji coba peluncuran rudal pertahanan udara.
Korea Utara biasanya melakukan uji coba rudal penyerang dalam merespons dinamika politik dan pertahanan menghadapi Korea Selatan dan AS. Namun, di tengah puncak latihan militer AS-Korsel, Korut meluncurkan rudal pertahanan udara. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyaksikan penembakan rudal pertahanan pada Sabtu (23/8/2025).
Kantor berita Korea Utara (KCNA) mengatakan, penembakan rudal itu sukses besar. Uji coba itu juga dipandang menunjukkan kemampuan rudal buatan Korut dalam menangkal dan menghancurkan serangan rudal lawan.
AS–Korsel menggelar latihan militer besar-besaran pada 11–29 Agustus 2025. Latihan bersama itu melibatkan lebih dari 21.000 prajurit kedua negara dengan berbagai skenario. Di antaranya skenario perang siber dan berbagai jenis serangan udara dari Korea Utara.
Secara teknis, Korea Utara dan Korea Selatan masih berperang sebagai kelanjutan Perang Korea (1950-1953) yang tidak diakhiri dengan perdamaian.
Kim Jon Un menyaksikan penembakan rudal tersebut dengan didampingi Kepala Staf Angkatan Udara Korea Utara Marsekal Kim Kwang-hyok. Latihan itu, menurut KCNA, menggunakan dua jenis proyektil yang sangat cocok untuk menghancurkan aneka sasaran di udara.
Kumpulan foto yang diedarkan KCNA memperlihatkan rudal baru tersebut meluncur ke udara lalu terlihat ledakan dari benturan rudal pertahanan udara dengan rudal yang ”menyerang”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/24/f32dc9c71e25a98705a759958e20c258-ADDITION_North_Korea_Koreas_Tensions.jpg)
KCNA tidak menjelaskan jenis dan kemampuan teknis rudal tersebut. Keterangan yang disampaikan mengklaim kemampuan operasi dan reaksi terhadap serangan dibuat dengan teknologi khusus. Tidak dijelaskan di mana lokasi uji coba rudal tersebut berlangsung.
Kim terlihat serius mendengarkan penjelasan dari para perwira pelaku latihan dan terlihat sebuah teropong binokular ada di dekatnya.
Dilaporkan kantor berita Yonhap, Kim mengingatkan pentingnya para ilmuwan Korut untuk tetap melakukan riset membuat rudal terbaru sebelum rapat besar Partai Komunis Korea Utara mendatang.
Sejak awal latihan bersama AS-Korsel, Korut terus melontarkan berbagai kritik terhadap tindakan yang dianggapnya sebagai invasi terhadap Semenanjung Korea dan memicu perang. Bahkan, Kim memerintahkan percepatan pengembangan senjata nuklir Korea Utara.
Pengamat Barat memperkirakan saat ini Korut memiliki 50 hulu ledak nuklir dan bisa mengembangkan kekuatan hingga 90 hulu ledak nuklir.
Saudari Kim Jong-un, yakni Kim Yo-jong, juga ikut berkomentar dan mengatakan Presiden baru Korsel Lee Jae Myung tidak laik memegang tampuk pimpinan dan mengubah jalannya sejarah Korea.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/04/c526f7fdec2b009b02a5322aa1f7512e-wires_photo_2025_08_04T173645.189.jpg)
Militer Korsel, Sabtu mengumumkan, terlibat insiden perbatasan dengan militer Korut. Militer Korsel melepaskan sejumlah tembakan peringatan kepada rombongan prajurit Korut yang sempat melintasi perbatasan dua negara pada Selasa (19/8/2025).
Adapun Letjen Ko Jong Chol dari militer Korut mengatakan, tindakan tersebut adalah rekayasa dan provokasi Korsel. ”Ini adalah persoalan serius akibat begitu besarnya tentara di selatan perbatasan (Korsel) yang memicu konfrontasi,” kata Ko.
Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Korea Selatan menyatakan, sekurangnya 30 prajurit Korut melintas perbatasan masuk ke wilayah Korea Selatan.
Para pengamat memperkirakan, Korut mempercepat pengembangan rudal pertahanan udara dengan tujuan mengantisipasi serangan drone. Laporan KCNA memang secara khusus menyebutkan soal perang terhadap drone dan rudal jelajah.
”Korea Utara memperkuat pertahanan udara untuk mengantisipasi serangan drone di ketinggian rendah dan rudal jelajah,” kata Hong Min, seorang analis senior di Institut Unifikasi Nasional, Seoul.
Pengembangan rudal jenis itu sesuai dengan kebutuhan modernisasi militer Korut yang didapat dari pengalaman medan perang Rusia-Ukraina.
Intelijen Barat dan Korsel memperkirakan sekurangnya 10.000 serdadu Korut dan berbagai amunisi, rudal, serta roket dikirim untuk membantu Rusia sejak 2024. Mereka terutama ditempatkan di wilayah Kursk. Sekurangnya sudah 600 serdadu Korut gugur dan ribuan terluka saat berperang di sisi Rusia.
Presiden Korsel Lee Jae Myung berusaha memperbaiki hubungan dengan Korut dalam berbagai kesempatan. Akan tetapi, Korut menyatakan tidak berminat memperbaiki hubungan saat ini. (Reuters/AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase