Pelancong asing harus membayar lebih banyak untuk pelesir ke Jepang. Pajak dan tiket ke lokasi wisata dinaikkan.
22 Mar 2025 09:30 WIB · Internasional
TOKYO, SABTU — Pemerintah Jepang menyetujui peningkatan pajak penginapan di daerah-daerah tujuan wisata. Kenaikan pajak ini bertujuan mengelola daerah yang jumlah wisatawannya terlalu banyak dibandingkan dengan kapasitas tempat. Pelancong asing membayar lebih mahal dibandingkan wisatawan domestik.
Melansir kantor berita Kyodo, keputusan itu disahkan pada Jumat (21/3/2025) oleh Menteri Dalam Negeri dan Komunikasi Seiichiro Murakami. Peningkatan pajak ini tidak merata, tetapi selektif di beberapa daerah. Peraturan ini aktif per musim gugur 2025 atau pada September 2025.
Wilayah yang tercakup di dalam aturan baru ini adalah Prefektur Miyagi, Prefektur Hiroshima, lima kota di Prefektur Hokkaido, dua kota di Prefektur Gifu, dan satu kota di Prefektur Shimane. Jumlah keseluruhan wilayah adalah 24.
Di dalam rilis pemerintah dikatakan, pajak dikenakan kepada setiap wisatawan yang menginap. Jumlahnya adalah 100-500 yen per orang. Akan tetapi, kenaikan pajak tidak dikenakan kepada rombongan karyawisata sekolah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/02/5a86462e-6eed-4f6d-b554-c305345a29b3_jpg.jpg)
Sejatinya, peningkatan pajak penginapan sudah diterapkan di beberapa wilayah Jepang sejak 2002. Osaka dan Kyoto adalah dua kota pertama yang melakukannya. Bahkan, Kyoto berencana meningkatkan tarif pajaknya dari 1.000 yen menjadi 10.000 yen.
Media khusus industri pariwisata International Traveller melaporkan, salah satu dampak dari peningkatan pajak itu adalah pembebanan harga karcis masuk yang berbeda. Wisatawan asing akan membayar harga lebih mahal dibandingkan wisatawan lokal.
Misalnya, karcis masuk resor ski di Niseko, Hokkaido, per Juli 2025 adalah 5.000 yen untuk wisatawan lokal dan 6.500 yen untuk wisatawan asing. Penerapan tambahan biaya itu tergantung dengan setiap kota.
Istana Himeji di Osaka, misalnya, menerapkan aturan lebih ketat. Mereka hanya memberi harga normal kepada pengunjung yang memiliki KTP Osaka. Pelancong tanpa KTP Osaka harus membayar biaya masuk lebih tinggi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/10/08eaa7e7-4768-4a98-8739-1d6e80cd72f1_jpg.jpg)
Jepang merupakan salah satu negara dengan kunjungan wisatawan tertinggi di dunia. Pada 2019 atau sebelum pandemi Covid-19, jumlah wisatawannya 31,9 juta orang.
Jumlah ini membeludak pada 2022 begitu pembatasan berskala besar diangkat. Per 2024 ada 36,8 juta pengunjung.
Penduduk Jepang ada 124 juta jiwa. Artinya, per 1 orang penduduk ada 0,29 wisatawan asing. Harian Japan Times 11 Juli 2024 melaporkan, ada 3 juta wisatawan setiap bulan.
Apabila dibandingkan dengan Eropa, masih kalah jauh. Rasio wisatawan asing di Perancis adalah 1,5 per 1 penduduk, Yunani 3,4 per 1 penduduk, Portugal 2,5 per 1 penduduk, dan Spanyol 1,8 per 1 penduduk.
Dari 47 prefektur di Jepang, ada empat yang dikenal sebagai ”Rute Emas”. Mereka adalah Tokyo, Kyoto, Nagoya, dan Osaka. ”Keempat wilayah ini terkenal dengan peninggalan sejarah berupa istana, kuil, dan taman. Sebanyak 70 persen wisatawan asing lari ke sana,” kata Patrick Balfe, penulis untuk media wisata Tokyo Cheapo.
Pemerintah Jepang menargetkan mendatangkan 60 juta wisatawan per tahun sejak 2030. Akan tetapi, dengan masalah overturisme ini, rencana itu dipandang semakin skeptis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/15/e4c676df8b8b4a087a5b471192d5c397-20250214TAM_05.JPG)
Badan Pariwisata Jepang (JTA) memperkenalkan 51 tujuan wisata baru di luar Rute Emas tersebut. Harapannya, mereka bisa mengalihkan kunjungan wisatawan ke tempat-tempat lain.
Pendekatannya juga dengan melibatkan masyarakat lokal merancang model pariwisata berkelanjutan yang sesuai kebutuhan masing-masing. Kyoto, misalnya, menerapkan sistem bebas sentuh. Semua pemesanan karcis dilakukan secara daring dan satu pintu.
Pemerintah daerah menyediakan data jumlah wisatawan di setiap tujuan wisata. Dengan demikian, calon pengunjung bisa mengatur waktu di jam-jam tidak padat.
Berbagai kota juga mulai menyediakan katalog daring toko-toko dan restoran lokal. Wisatawan lebih terinformasi mengenai pengalaman otentik di suatu tempat dan kedatangan mereka benar-benar berdampak kepada perekonomian lokal.
Gunung Fuji, tujuan wisata nomor satu di Jepang membatasi pengunjung menjadi maksimal 4.000 orang per hari. Karcis masuk dinaikkan dari 2.000 yen menjadi 4.000 yen.
”Beberapa kota di Nagoya juga mulai mempromosikan kebudayaan lokal yang unik. Ini memberi wisatawan pilihan bahwa ada sentra budaya selain Kyoto dan Osaka,” kata Elizabeth Whitehead dari International Traveller.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/02/934207e9-57ca-4ce9-8625-a06cc5f354c3_jpg.jpg)
Dalam jajak pendapat harian Asahi yang terbit pada 20 Januari 2025, 68 persen responden mengatakan bahwa kedatangan wisatawan asing adalah hal positif. Sebanyak 21 persen menilai negatif dengan alasan pengelolaan buruk di sejumlah tempat wisata.
Bagaimanapun juga, pariwisata penting bagi perekonomian Jepang. Mastercards Economi Institute mencatat, rata-rata pariwisata menyumbang 1,5 persen produk domestik bruto tahunan. Apabila pariwisata menurun dampaknya serius bagi Jepang.
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari