Biden Beri Lampu Hijau Ukraina Serang Rusia dengan Rudal Jarak Jauh AS

Menjelang akhir jabatannya, Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengizinkan Ukraina menggunakan rudal jarak jauh untuk menyerang wilayah Rusia.

18 Nov 2024 10:08 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

MANAUS, MINGGU — Presiden Amerika Serikat Joe Biden, yang segera mengakhiri jabatannya, memberikan izin kepada Ukraina untuk menggunakan rudal-rudal jarak jauh pasokan AS guna menyerang lebih dalam ke wilayah Rusia. Kabar ini disampaikan seorang pejabat AS dan tiga orang lain yang memahami isu tersebut.

Keputusan terbaru Biden ini menandai perubahan signifikan kebijakan Washington terkait perang Ukraina-Rusia. Sebelumnya, AS berupaya melarang Ukraina menggunakan senjata-senjata pasokannya untuk menyerang wilayah Rusia. Senjata-senjata itu, demikian kebijakan AS sebelumnya, hendaknya digunakan untuk bertahan.

Perubahan kebijakan tersebut diambil Washington di tengah langkah Rusia menempatkan ribuan prajurit Korea Utara di wilayah Rusia di Kursk Oblast yang diserang Ukraina. Sebagian wilayah itu direbut dan diduduki pasukan Ukraina, beberapa bulan terakhir.

Dengan keputusan Biden, yang sedang berada di Brasil untuk menghadiri KTT G20, membuat Ukraina dapat menggunakan senjata sistem rudal taktis tentara (army tactical missile system/ATACMs) yang dipasok AS untuk menghantam sasaran di dalam wilayah Rusia.

Langkah Presiden Biden diambil menyusul kemenangan Donald Trump dalam pemilu AS. Trump menjanjikan dapat segera mengakhiri perang di Ukraina yang sudah berlangsung lebih dari dua setengah tahun sejak Februari 2022. Janji Trump selama kampanye menimbulkan tanda tanya, apakah AS akan terus memasok senjata bagi Ukraina.

Putra Donald Trump, Donald Trump Jr, dalam unggahan di X mengecam kelompok industri senjata yang mendorong perang terus berlanjut dan bisa memicu Perang Dunia III. Hal itu disampaikan seraya memasang tautan berita The New York Times soal lampu hijau yang diberikan Biden kepada Ukraina untuk menggunakan senjata rudal-rudal jarak jauh pasokan AS dalam menyerang sasaran jauh di dalam wilayah Rusia.

Menurut Trump Jr, langkah tersebut disengaja untuk mendorong eskalasi konflik jauh sebelum Trump menjabat dan menciptakan perdamaian yang akan menyelamatkan nyawa banyak orang. ”Keputusan mengizinkan penggunaan senjata (untuk menyerang Rusia) dilakukan demi memastikan keuntungan triliunan dollar AS. Nyawa manusia menjadi taruhan. Perbuatan bodoh,” demikian unggahnya di X.

Foto yang dirilis Layanan Media Istana Kepresidenan Ukraina memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berjabat tangan dengan calon presiden Amerika Serikat Donald Trump usai bertemu di New York, Jumat (27/9/2024). This handout photograph released by the Ukrainian presidential press service on September 27, 2024 shows Ukrainian President Volodymyr Zelensky (L) and Republican presidential nominee former US President Donald Trump, shake hands during a meeting on September 27, 2024 in New York. The meeting coincides with Zelensky's visit to New York for the United Nations General Assembly. (Photo by Handout / UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Para pejabat dan pihak yang mengetahui keputusan terbaru Biden itu tidak diberi kewenangan untuk membahas keputusan yang diambil AS tersebut dan tidak mau diungkap identitas mereka.

Direktur Institut Perdamaian di Denmark, Jan Oberg, dalam wawancara dengan media China, CGTN, mengatakan, saat ini ancaman bukan lagi dari military industrial complex (MIC). Ancaman itu sudah berkembang menjadi military industrial, media, and academic complex (MIMAC) karena melibatkan media dan kampus dalam melapangkan agenda industrialis senjata. Industrialis senjata merangkul kampus dan media demi melanggengkan konflik bersenjata yang merupakan rezeki bagi mereka.

”Saya tahun 1980-an juga mengkritik keras militerisasi Uni Soviet. Sekarang saya mengkritik kolaborasi industri senjata, pemilik media, dan elite akademisi yang menciptakan skema MIMAC lebih berbahaya dari MIC,” kata Oberg, alumnus studi perdamaian di Universitas Lund, Swedia.

Berbagai narasi dan arah pemberitaan serta suara dari akademisi diarahkan untuk mendukung dan membenarkan konflik demi keuntungan industi senjata.  

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyikapi izin yang diberikan AS dengan menyatakan, kemenangan tidak dapat dicapai hanya dengan kata-kata. ”Penggunaan rudal-rudal itu yang akan memberikan bukti,” kata Zelenskyy dalam pidato mingguan yang disiarkan, Minggu (17/11/2024).

Zelenskyy dan para sekutunya di Barat telah berbulan-bulan mendesak Biden agar mengizinkan rudal buatan AS dan Barat digunakan menghantam sasaran jauh di dalam wilayah Rusia. Mereka berdalih, larangan AS tersebut membuat Ukraina tidak dapat menghalangi langkah Rusia menyerang sejumlah kota dan pusat pembangkit listrik Ukraina.

Infografik - Sistem Pertahanan Rudal Patriot

Keterangan Zelenskyy disampaikan tidak lama setelah mengunggah pesan melalui akun Telegram berisi ucapan duka atas serangan Rusia yang menghantam sebuah gedung sembilan lantai di Sumy, yang berjarak 40 kilometer dari perbatasan Rusia.

Quote

Kami ingin perdamaian. Perdamaian yang adil.

Rusia juga melancarkan serangan besar-besaran menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Serangan itu mengincar pusat pembangkit listrik dan mengakibatkan korban jiwa warga sipil Ukraina. Diduga Rusia akan menghancurkan pasokan listrik di beberapa daerah Ukraina sebelum musim dingin tiba akhir tahun ini.

”Ini menjawab tindakan semua pihak yang mengira bisa mencapai kesepakatan dengan Putin melalui dialog, percakapan telepon, memeluk dia, dan berusaha mengambil hatinya,” kata Zelenskyy, menyindir Kanselir Jerman Olaf Scholz yang menjadi pemimpin Barat pertama yang menelepon Putin dalam dua tahun terakhir.

Para pendukung Zelenskyy berdalih, pembatasan penggunaan senjata dari Barat akan membuat Perang Ukraina semakin berkepanjangan. Kondisi itu juga memicu perselisihan di antara sesama anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

German Chancellor Olaf Scholz arrives for the cabinet meeting of the German government at the chancellery in Berlin, Germany, Wednesday, Sept. 25, 2024. (AP Photo/Markus Schreiber)

Selama ini Biden berusaha menghindari eskalasi yang dikhawatirkan akan menyeret AS dan NATO dalam konflik langsung melawan Rusia.

Presiden Rusia Vladimir Putin sudah memberi peringatan akan membagikan rudal-rudal jarak jauh ke sekutu Rusia untuk menyerang sasaran Barat jika NATO dan Barat mengizinkan penggunaan senjata mereka untuk menghantam wilayah Rusia.

The Wall Street Journal (WSJ) pada 11 September 2024 melaporkan, negara-negara sekutu Barat sudah mendesak Ukraina untuk bersikap realistis dalam menyikapi perang pada 2025. Terlebih Ukraina dinilai tidak mampu merebut kembali wilayah yang diduduki Rusia di Donbas.

Wilayah Ukraina timur didominasi penduduk etnis Rusia yang mengalami kekerasan dari kelompok kanan di Ukraina menyusul berdirinya rezim pro-Barat di Kyiv tahun 2014.

Seorang pejabat Uni Eropa mengatakan kepada WSJ, berlanjutnya perang di Ukraina dan memastikan kemenangan Ukraina akan menelan biaya miliaran dollar AS. Pihak sekutu Ukraina di Eropa Barat tidak siap untuk menyediakan dana perang miliaran dollar AS tersebut.

Adapun kabar izin penggunaan senjata yang diberikan Presiden Biden muncul setelah pertemuan dua hari terakhir dengan para pemimpin Korea Selatan, Jepang, dan China. Pembahasan tentang serdadu Korea Utara di Rusia turut menjadi agenda pembahasan sampingan di tengah fokus pertemuan APEC di kota Lima, Peru.

US President Joe Biden (L) meets with Chinese President Xi Jinping (R) on the sidelines of the Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) summit in Lima, Peru, November 16, 2024. (Photo by SAUL LOEB / AFP)

Biden tidak membahas keputusan izin penggunaan senjata tersebut ketika dia transit di kota Manaus, Brasil, untuk menghadiri pertemuan G20.

Ditanya tentang keputusan AS mengizinkan penggunaan rudal jarak jauh bagi Ukraina, Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan, posisi PBB adalah menghindari perang berkepanjangan dan semakin memburuk di Ukraina. ”Kami ingin perdamaian. Perdamaian yang adil,” kata Guterres, Minggu (17/11/2024), sebelum pertemuan G20 di Rio de Janeiro.

Guterres tidak menjelaskan lebih rinci mengenai keterangannya tersebut.

Meski izin sudah diberikan, rudal ATACMS yang dipasok AS ke Ukraina jumlahnya jauh dari memadai untuk mengubah jalannya peperangan. Beberapa sekutu Uraina mengatakan, jika serangan rudal jarak jauh ke Rusia dilakukan, hal itu harus membuat Ukraina mengubah gelar pasukan dan semakin menguras sumber daya yang dibutuhkan untuk melawan Rusia.

Ukrainian President Volodymyr Zelenskyy, left, holds the flag of a military unit as an officer kisses it, during commemorative event on the occasion of the Russia Ukraine war one year anniversary in Kyiv, Ukraine, Friday, Feb. 24, 2023. (Ukrainian Presidential Press Office via AP)

Dari sisi Rusia, keberadaan para prajurit Korea Utara di wilayah Kursk dianggap menguntungkan dan dapat mengubah situasi di front Kursk. Korea Utara juga memasok amunisi bagi Rusia.

Di sisi lain, Trump sudah memberikan sinyal untuk mendesak Ukraina melepas sejumlah wilayah yang dikuasai Rusia demi mengakhiri konflik yang sudah berlangsung dua tahun lebih.

Trump akan menjadi presiden AS ke-47 pada Januari 2025. Semasa kampanye pemilu, ia sudah berulang kali menjanjikan mengakhir perang di Ukraina. Namun, dia menghindari pertanyaan apakah ingin sekutunya (Ukraina) menang perang. Trump juga menyalahkan Biden yang menghabiskan miliaran dollar AS bantuan untuk Ukraina.

AS adalah sekutu utama Ukraina yang sudah memasok keperluan militer senilai 56,2 miliar dollar AS sejak pecah perang pada Februari 2022. Khawatir terhadap balasan Rusia, Biden berulang kali menunda pengiriman senjata yang diminati Ukraina.

Beberapa senjata yang semula tidak diberikan AS, yakni tank tempur, rudal Patriot, jet tempur F-16, dan lain-lain, belakangan diberikan kepada Ukraina. Terakhir, pada Mei 2024, Amerika Serikat mengizinkan Ukraina menggunakan senjata pasokan mereka untuk menyerang Rusia secara terbatas di wilayah Rusia dekat perbatasan Ukraina saja. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan