Bina Damai Trump yang Mencemaskan

Banyak pihak jadi meragukan target Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas inisiatif mengakhiri perang di Ukraina. Dua langkah awal Trump mengabaikan mitranya.

17 Feb 2025 10:22 WIB · Opini

Oleh Redaksi

Biasanya dialog damai memantik harapan dan optimisme. Namun, yang dimulai Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Ukraina justru sebaliknya.

Awalnya adalah sesumbar bahwa dirinya mampu mengakhiri perang di Ukraina hanya dalam satu hari. Namun, sesumbar itu kini justru membawa kecemasan.

Tanpa menyebut siapa pejabat atau perwakilan yang melakukannya, Trump mengatakan, Washington telah berkomunikasi dengan Moskwa. Rusia tidak membenarkan, tidak pula membantah. Dunia kaget.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (tengah) tiba di Konferensi Keamanan Muenchen (MSC) ke-61 di Muenchen, Jerman selatan pada 14 Februari 2025. Presiden AS Trump mendesak agar konflik segera diakhiri, sementara Zelensky menyerukan jaminan keamanan yang ketat dari Washington sebagai bagian dari kesepakatan apa pun dengan Rusia.

Tidak berhenti di situ, tanpa konsultasi dengan mitra di Eropa, terutama Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dan Ukraina, Trump tiba-tiba menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin. Singkat kata, dalam pembicaraan selama lebih kurang 1,5 jam itu, mereka sepaham untuk segera mengakhiri perang di Ukraina. Dunia pun terperangah.

Dinamika itu lantas menjadi pusat perhatian dunia. Bagi sejumlah pihak, dua langkah awal Trump itu dinilai menguntungkan Rusia, moral Moskwa terangkat. Mengapa demikian? Selama ini, Washington—di era Presiden Joe Biden—adalah aktor utama yang mendorong dunia mengucilkan Moskwa karena menginvasi Ukraina.

Namun, saat ini, AS di era Trump justru mengambil langkah yang mencederai kebijakan itu dan mitra-mitranya di Eropa. Sampai-sampai Presiden Perancis Emmanuel Macron menegaskan, sejatinya hanya Ukraina yang bisa mendorong pembicaraan damai yang solid dan berkelanjutan.

United States Secretary of Defense Pete Hegseth, center, speaks with Germany's Defense Minister Boris Pistorius, right, and Finland's Defense Minister Antti Hakkanen, left, during a meeting of the North Atlantic Council in defense ministers format at NATO headquarters in Brussels, Thursday, Feb. 13, 2025. (AP Photo/Geert Vanden Wijngaert)

Ungkapan itu tidak dengan sendirinya mengabaikan kapasitas AS. Akan tetapi, banyak pihak menjadi ragu tentang target Trump atas dialog damai itu. Hanya beberapa jam setelah Trump menelepon Putin, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di depan pertemuan tingkat menteri pertahanan NATO di Brussels, Belgia, mengatakan, tidak ada gunanya mengharapkan wilayah Ukraina kembali seperti sebelum tahun 2014, wilayah sebelum Rusia mencaplok Crimea. Saat ini, setelah serbuan Februari 2022, Rusia menguasai empat wilayah Ukraina, yaitu Zaporizhzhia, Luhansk, Donetsk, dan Kharkiv.

Jika pada 2018 dan 2019, saat bertemu Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Presiden Trump dan para pembantunya seirama dengan niat dunia, yaitu melucuti senjata nuklir Pyongyang, kini sikap Presiden AS itu justru berseberangan. Pernyataan Hegseth menyiratkan, jika Ukraina dan Eropa ingin perang berhenti, mereka harus mau menerima fakta bahwa wilayahnya telah hilang. Sikap AS ini seolah mengakui aneksasi Rusia atas wilayah Ukraina.

Dengan sikap AS yang seakan membenarkan pelanggaran kedaulatan itu, harapan dunia pada perdamaian di Ukraina tidak ubahnya seperti peribahasa ”menggantang asap mengukir langit”. Negosiasi memang tidak semudah membalik telapak tangan. Akan tetapi, ada baiknya AS memperhatikan catatan mitra-mitra dekatnya sehingga langkah dan aksi komunitas internasional selama ini tidak menuai kesia-siaan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Haryo Damardono, Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji