Bisnis ”Gelap” Perdagangan Bantuan Makanan di Gaza

Barang-barang bantuan untuk warga Gaza banyak diperjualbelikan di pasar.

30 Jul 2025 08:00 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Ada yang menarik saat melihat puluhan kaleng berisi kornet daging sapi itu disusun rapi di meja, bersebelahan dengan aneka jenis kacang yang juga dalam kaleng. Sementara di penjual lain di sebelahnya tampak minyak goreng dalam kemasan botol, yang berjajar dengan plastik berisi aneka sayur dan kacang kering, serta kemasan spaghetti kering yang dijual di salah satu jalanan di Pasar Gaza, Rabu (23/7/2025).

Beberapa laki-laki paruh baya menunggu dagangan itu, tapi ada juga remaja, semua laki-laki. Terlihat pembeli yang bertransaksi, tapi ada pula yang hanya memegang atau bahkan sekadar melihat. Pemandangan itu terlihat di Gaza, satu tempat yang menjadi perbincangan hangat di dunia karena ancaman bahaya kelaparan akut dan kekurangan bahan makanan.

Seorang warga Palestina membeli barang di pasar jalanan di Kota Gaza, Rabu, 23 Juli 2025.

Sejak Israel menargetkan Gaza dengan bombardir dari darat dan udara, terjadi gangguan kemananan yang berimbas pada pengiriman bantuan makanan  kepada warga Palestina yang kelaparan. Situasi ini dimanfaatkan oleh pedagang dan geng setempat untuk menimbun dan menjual bantuan makanan dengan harga yang tinggi.

Harga satu kilogram tepung terigu mencapai 60 dollar AS dalam beberapa hari terakhir, dan satu kilogram lentil mencapai 35 dolar AS. Harga tersebut jauh di luar kemampuan sebagian besar penduduk di wilayah Gaza yang kelaparan. Penduduk saat ini bergantung pada tabungan yang mereka kumpulkan sebelum terjadi perang Israel-Hamas selama 21 bulan terakhir.

Keputusan Israel untuk memfasilitasi lebih banyak pengiriman bantuan dengan membuat jeda pertempuran selama 10 jam setiap hari di beberapa wilayah di Gaza telah sedikit menurunkan harga,tetapi belum sepenuhnya terasa di lapangan. 

Bantuan kemanusiaan diterjunkan ke Palestina di atas Jalur Gaza seperti terlihat dari Khan Younis, Senin (28/7/2025.
Foto yang dirilis oleh Kantor Berita Uni Emirat Arab (WAM) pada 28 Juli 2025 menunjukkan truk yang membawa bantuan kemanusiaan, menunggu diizinkan menyeberang dari sisi Mesir yang berbatasan dengan Rafah, Jalur Gaza.
Warga Palestina memeriksa lokasi yang terkena pemboman Israel di Muwasi, Khan Younis, Jalur Gaza, pada 28 Juli 2025.
Penduduk berkumpul menunggu pesawat angkut militer C-130 Hercules menjatuhkan bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza utara pada 27 Juli 2025. Dua pesawat Yordania dan satu pesawat Emirat menjatuhkan 25 ton bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza.
Penjual berjaga di meja yang berisi dagangannya di pasar jalanan di Kota Gaza, 23 Juli 2025.
Pedagang dari Palestina memajang daganggannya di pasar jalanan di Kota Gaza,  23 Juli 2025.

Karung-karung tepung berlogo PBB masih saja diperjualbelikan di pasar. Begitu juga bahan makanan dalam kemasan lain yang menunjukkan bahwa makanan itu berasal dari Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didukung Israel. Padahal, semua bahan makanan itu dibagikan gratis untuk warga Palestina. Mustahil untuk mengetahui berapa banyak yang dialihkan ke pasaran, tetapi kedua kelompok tersebut, baik PBB maupun Israel, tidak dapat melacak siapa yang menerima bantuannya.

Di tengah keributan seputar penyaluran bantuan selama beberapa minggu terakhir, warga mengatakan bahwa mereka yang kuat adalah yang paling bisa membawa pulang makanan. Mohammed Abu Taha, yang tinggal di tenda bersama istri dan anaknya di dekat kota Rafah, mengatakan, gerombolan pemuda yang terorganisasi selalu berada di depan kerumunan saat dia mengunjungi lokasi distribusi bantuan oleh GHF.

Warga Palestina yang terlantar menerima paket makanan dari yayasan yang didukung AS yang berjanji untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan di Rafah barat di Jalur Gaza selatan pada 27 Mei 2025. Ribuan orang Palestina bergegas ke pusat distribusi bantuan baru menyebabkan kekacauan saat Israel menerapkan sistem distribusi baru.

Distribusi makanan kacau

Di awal perang, badan-badan PBB berhasil mengirimkan bantuan dengan aman meskipun ada pembatasan dari Israel. Terkadang juga terjadi serangan serta pencurian barang bantuan. Polisi yang dipimpin Hamas yang menjaga konvoi akan mengejar para penjarah, merazia pedagang yang diduga menjual kembali bantuan yang dibagikan gratis.

Selama gencatan senjata awal tahun ini, Israel mengizinkan hingga 600 truk bantuan masuk setiap hari. Tidak ada gangguan besar dalam pengiriman, dan harga pangan jauh lebih rendah. PBB memiliki mekanisme untuk mencegah pengalihan bantuan yang terorganisasi. Namun, Israel menuduh Hamas telah menyedotnya, tetapi tidak memberikan bukti terhadap apa yang dituduhkan.

Penduduk berkumpul menunggu pesawat angkut militer C-130 Hercules menjatuhkan bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza utara pada 27 Juli 2025. Dua pesawat Jordania dan satu pesawat Emirat menjatuhkan 25 ton bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza.
Suasana saat ribuan warga Palestina meningglkan tempat titik distribusi makanan di Kota Gaza, Sabtu, 26 Juli 2025.
Warga Palestina membawa karung tepung yang diturunkan dari konvoi bantuan kemanusiaan yang mencapai Kota Gaza dari Jalur Gaza utara, Sabtu, 26 Juli 2025.
Orang-orang berjalan di sepanjang Jalan Al-Rashid di Jabalia barat setelah menerima bantuan kemanusiaan dari titik distribusi bantuan di Jalur Gaza utara, Selasa (22/7/2025). Kepala rumah sakit terbesar di Gaza pada 22 Juni mengatakan, 21 anak telah meninggal dunia akibat malnutrisi dan kelaparan di wilayah Palestina tersebut.
Warga Palestina menumpang truk bantuan yang kembali ke Kota Gaza dari Jalur Gaza utara pada 22 Juli 2025.
Warga Palestina berkumpul saat kembali dari titik distribusi bantuan makanan yang didirikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang dikelola swasta di jalan Salaheddin, di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah pada tanggal 24 Juni 2025.

Semua itu berubah pada Maret ketika Israel mengakhiri gencatan senjata dan memblokade semua bantuan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Palestina. Ini dilakukan Israel sebagai taktik untuk menekan Hamas agar membebaskan sisa sandera yang diculik dalam serangannya pada 7 Oktober 2023, yang memicu perang.

Ketika polisi yang dipimpin Hamas menghilang dari wilayah yang dikuasai Israel, suku dan geng setempat yang mengklaim didukung Israel mengambil kesempatan ini untuk kepentingan kelompoknya. Israel mulai mengizinkan masuknya sedikit bantuan pada Mei. GHF dibentuk bulan itu dengan tujuan mencegah Hamas mengalihkan bantuan.

Seorang anak Palestina bereaksi saat menunggu distribusi sup lentil di Kota Gaza di Jalur Gaza utara pada 27 Juli 2025.
Warga Palestina berkerumun di titik distribusi sup lentil di Kota Gaza di Jalur Gaza utara pada 27 Juli 2025.
Naima Abu Ful berpose untuk foto dengan anaknya yang kekurangan gizi berusia 2 tahun, Yazan, di rumah mereka di kamp pengungsi Shati di Kota Gaza pada hari Rabu (23/7/2025).
Naima Abu Ful memasak untuk keluarganya di rumah mereka di kamp pengungsi Shati di Kota Gaza pada hari Rabu (23/7/2025).
Yasmine, seorang ibu Palestina berusia 22 tahun, menggendong putrinya yang kekurangan gizi berusia 2 bulan, Teen, saat mereka menunggu perawatan di rumah sakit Nasser di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan, 24 Juli 2025.
Mohammed al-Mutawaq, bayi berusia 18 bulan, menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi, berbaring di kasur di dalam tenda di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Kota Gaza, pada 24 Juli 2025.
Warga Palestina berjuang untuk mendapatkan makanan yang disumbangkan di dapur komunitas di Kota Gaza, Jalur Gaza utara, 14 Juli 2025.

Sejak itu, Israel hanya mengizinkan rata-rata sekitar 70 truk per hari memasuki wilayah Palestina. Ini jauh dari jumlah yang dibutuhkan sebanyak 500-600 truk per hari. Tekanan internasional menguat setelah foto-foto anak-anak kecil yang mengalami malanutrisi tersebar ke seluruh dunia. Militer mengatakan bahwa mereka akan mengizinkan lebih banyak truk masuk dan melanjutkan pengiriman bantuan dari udara yang menurut organisasi-organisasi bantuan tidak efektif.

Hamas membantah tuduhan keterlibatan dalam perdagangan bantuan makanan ataupun tuduhan mencuri bantuan. Sementara itu, distribusi makanan terus diwarnai kekacauan dan kekerasan, seperti yang terlihat di dekat lokasi GHF atau di sekitar truk PBB. Para pejabat PBB telah mendesak Israel untuk mencabut blokade sepenuhnya dan membanjiri Gaza dengan makanan. Hal itu akan mengurangi penjarahan dengan memastikan ketersediaan makanan yang cukup bagi semua orang serta akan menurunkan harga. 

Seorang pedagang menawarkan barang dagangannya di pasar jalanan di Kota Gaza, Rabu, 23 Juli 2025.

Seperti hukum ekonomi, selama distribusi tersendat dan barang menjadi langka, harga akan melambung. Namun, bagi sebagian orang, ini  dilihat sebagai peluang mendapatkan keuntungan. Itulah yang terjadi di jalanan di Pasar Gaza saat ini. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto