Bisnis Gerai Makanan Minuman Merek Lokal Memilih Tetap Bangkit

Pasar makanan minuman di Asia Tenggara telah tumbuh 4,6 persen menjadi 132,9 miliar dollar AS pada 2024.

17 Jan 2025 16:04 WIB · Ekonomi

Oleh Caecilia Mediana

Sejumlah restoran atau gerai makanan minuman merek lokal tetap berekspansi. Mereka memiliki keunggulan lebih mengenal selera konsumen daerah dibandingkan dengan jaringan restoran/gerai merek internasional. 

Restoran siap saji bergaya Jepang dan dimiliki pengusaha lokal Hokben per Oktober 2024 telah memiliki lebih dari 390 gerai. Gerai sebanyak itu menyebar dari kota besar hingga kota kecil di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Dalam kurun kurang dari empat bulan, Hokben membuka dua gerai Hokben+, restoran baru dengan berbagai fasilitas ruang serbaguna dan fasilitas yang memungkinkan pengunjung melakukan kerja jarak jauh. 

Saat ditemui di acara pembukaan gerai Hokben+ di kompleks Flavor Bliss, Alam Sutera, Tangerang, Banten, Kamis (16/1/2025), Direktur Operasional PT Eka Bogainti (manajemen Hokben) Syamsul Bachri mengatakan, pihaknya berusaha setiap tahun membuka gerai baru. Namun, pemilihan lokasi gerai baru menyesuaikan kondisi daerah dan permintaan konsumen.

”Misalnya, sekarang, di daerah Jakarta, penyebaran gerai Hokben sudah hampir penuh. Begitu pula di Sumatera. Setiap tahun kami tetap mengusahakan ada pembukaan baru,” kata Syamsul. 

Ketika pandemi Covid-19 melanda, dia menyebut perusahaan juga tetap berekspansi. Lebih kurang 80 gerai baru Hokben dibuka saat itu. 

Menurut Syamsul, perusahaan berusaha berinovasi dalam bentuk menciptakan menu-menu baru dengan berbagai varian harga. Tujuannya agar pengunjung dari beragam kelas ekonomi tetap datang. 

Suasana pembukaan kembali restoran Hokben+ di area Flavor Bliss, Alam Sutera, Tangerang, Kamis (16/1/2025).

”Isu yang sekarang kami hadapi ialah (penurunan) daya beli. Maka, kami jaga penjualan tetap tumbuh sehingga tetap bisa ekspansi. Kami tawarkan varian harga, seperti kalau ada pembeli tak mampu membeli menu seharga Rp 50.000-an kami memiliki menu Rp 30.000-an dan ada pula yang di bawah itu,” ujarnya.

Syamsul mengklaim, penjualan Hokben masih bisa tumbuh di atas industri ataupun pada saat restoran sejenis mengalami penurunan penjualan. Ketika ramai fenomena boikot terhadap beberapa merek internasional terkait konflik Hamas-Israel, restoran Hokben tidak terpengaruh. Dalam beberapa kesempatan, sebagai merek asli dan dimiliki 100 persen oleh pengusaha Indonesia, Hokben mendapat untung dari pengalihan lokasi acara.

”Kalau sekarang semakin banyak bisnis makanan minuman merek lokal bermunculan, kami merasa kemunculan mereka itu bukan sebagai ancaman terhadap bisnis Hokben. Mereka bagian dari mitra supaya bisa sama-sama tumbuh. Ada menu yang mereka tidak punya, lantas di tempat kami menyediakan (saling melengkapi),” kata Syamsul. 

Bisnis makanan minuman merek lokal lainnya juga tetap berekspansi seperti yang dilakukan Hokben. Sebagai contoh, Almaz Fried Chicken, rantai restoran cepat saji pendatang baru. Sejak dibuka pertama kali pada pertengahan 2024 hingga akhir Desember 2024, Almaz Fried Chicken telah membuka 37 gerai di Indonesia. Sebagian besar di area Jabodetabek dan ada beberapa kota di Sumatera.

Kepada Nikkei Asia, CEO dan Founder Almaz Fried Chicken Okta Wirawan mengatakan, ia ingin membuka 10 gerai lagi pada akhir tahun ini karena berharap dapat mencapai titik impas tujuh bulan setelah membuka gerai pertamanya pada Juni 2024. Restoran Almaz Fried Chicken berusaha memikat konsumen yang sebelumnya makan di jaringan restoran Barat, seperti KFC.

”Pelanggan kami merasa bahwa dengan membeli produk Almaz, mereka tidak hanya mendapatkan makanan berkualitas, tetapi juga berkontribusi pada tujuan mulia,” katanya. Perusahaan berkomitmen menyisihkan 5 persen dari laba untuk amal, termasuk bantuan untuk Palestina.

Pramusaji melayani pesanan pembeli di rumah makan Mbok Sabar, Pakualaman, Yogyakarta, Kamis (1/8/2024). Ayam goreng dengan sambal bacem adalah menu andalan di rumah makan yang mulai menjalankan usahanya pada tahun 1966 itu. Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Sementara itu, CEO Fore Coffee Vico Lomar menyebutkan, tahun 2024 menjadi salah satu tahun tersukses bagi perusahaan dengan membuka 61 gerai baru di Indonesia, khususnya di kota-kota tier 2 dan 3. Penambahan ini terbanyak dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sisi kinerja, laba kotor, dan tingkat profitabilitas gerai mencerminkan keberhasilan strategi bisnis yang diterapkan, mulai dari inovasi produk, pemasaran, hingga ekspansi.

Vico menuturkan, strategi harga yang diterapkan oleh perusahaan selalu konsisten di seluruh gerai. Tujuannya ialah memberikan pengalaman yang terjangkau tanpa mengurangi kualitas. 

Gerai Fore Coffee, termasuk gerai baru, dirancang untuk menjadi destinasi minum minuman kopi yang menarik. Harapannya, pengunjung yang datang bukan hanya untuk menikmati minuman kopi, tetapi juga berkumpul dan bersosialisasi.

”Industri minuman kopi di Indonesia mempunyai prospek yang menjanjikan. Masih terbuka banyak peluang untuk ekspansi. United States Department of Agriculture pernah memproyeksikan konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 akan meningkat sebesar 10.000 kantong dari periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong,” ujarnya. Satu kantong kopi setara dengan 60 kilogram. 

Secara terpisah, Commercial Business Unit Director PT Alam Sutera Realty Tbk Andre Simandjaja, yang ditemui Kamis (16/1/2025), menyebut minat terhadap produk makanan dan minuman merek lokal tak kalah dengan merek internasional. Di kompleks area Flavor Bliss (destinasi kuliner dan hiburan di Alam Sutera, Tangerang), misalnya, restoran makanan dan minuman merek lokal lebih banyak dibandingkan jaringan restoran asing. 

”Tetap mayoritas merek lokal. Untuk coffee shop, terutamanya, mayoritas dari lokal. Sebagai contoh, Titik Temu Roastery,” ujarnya. Kendati demikian, sebagai pihak pengembang berusaha menyeimbangkan jumlah restoran makanan minuman antara merek lokal dan internasional. 

Founder dan CEO Momentum Works (perusahaan yang bergerak di bidang venture building di Singapura) Jianggan Li mengatakan, sesuai hasil riset Momentum Works, pasar makanan minuman di Asia Tenggara telah tumbuh 4,6 persen menjadi 132,9 miliar dollar AS pada 2024. Merek-merek regional dan internasional yang besar memperoleh keuntungan di kawasan ini. Di antara mereka secara aktif mengakuisisi merek lain. 

Di Balik Menjamurnya Gerai Es Krim Mixue di Indonesia

Salah satu merek restoran makanan minuman asing di Asia Tenggara datang dari China. Berdasarkan riset Momentum Works, lebih dari 6.100 gerai/restoran dari 60 merek restoran asal China di Asia Tenggara hingga 31 Desember 2024. Sebagai contoh, gerai/restoran rantai minuman Mixue, Wedrink, dan Chagee. 

Singapura dan Malaysia menjadi negara tujuan utama merek restoran/gerai makanan minuman merek asal China. Sementara Indonesia dan Vietnam bersama-sama menguasai sekitar dua pertiga dari semua restoran/gerai makanan minuman asal China.

Karena perbedaan dalam kematangan dan kecanggihan pasar makanan dan minuman di Asia Tenggara, pelaku usaha asal China yang mencari peluang di kawasan tersebut berupaya fokus pada strategi lokal, seperti bidang model operasi, pemilihan mitra, rantai pasokan, dan pertimbangan struktur biaya untuk setiap pasar. Keberadaan mereka berhadapan dengan pengusaha makanan minuman merek lokal di setiap negara Asia Tenggara. 

”Pada saat yang sama, merek-merek lokal dari setiap negara di Asia Tenggara juga telah mendapatkan daya tarik yang besar di luar wilayah asal mereka,” ujar Li. 

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, saat dihubungi, Jumat (17/1/2025), di Jakarta, berpendapat, masih moncernya bisnis restoran/gerai makanan minuman merek lokal yang ditandai dengan tetap ekspansi bukan semata-mata dipengaruhi oleh fenomena boikot merek yang mendukung Israel. Sebaliknya, faktor yang kuat memengaruhi ialah kemunculan anak-anak muda yang mendorong kewirausahaan lokal semakin bergairah. 

Mereka bisa membaca dengan baik kebutuhan konsumen lokal. Ini terlihat dari posisi menu yang ditawarkan. Cara memasarkannya pun inovatif, seperti memberi diskon berupa beli dua gratis satu. Aksi Grup Djarum yang mengakuisisi 85 persen saham PT Griya Mie Sejati, perusahaan yang menjadi induk dari Bakmi GM pada Desember 2024, dinilainya bahwa konglomerat keluarga Hartono itu sudah mengukur peluang besar makanan dan minuman lokal di pasar Indonesia dan luar negeri.

Restoran/gerai makanan minuman merek lokal, Bhima mengamati semakin pandai melakukan personalisasi kebutuhan konsumen. Beberapa merek baru terinspirasi dengan langkah JCO yang ekspansi sampai ke luar negeri. 

”Salah satu yang digemari dari restoran/gerai makanan minuman merek lokal adalah berani menawarkan area yang juga untuk bisa mengerjakan tugas kuliah dan pekerjaan. Semacam berani membaca kebutuhan ruang publik,” kata Bhima. 

Bhima juga menyebutkan, restoran/gerai makanan minuman merek lokal menawarkan harga yang sangat kompetitif dibandingkan rantai restoran internasional. Manajemen usaha pun semakin modern dengan menggunakan teknologi digital. 

Dia lantas mencontohkan Olive Fried Chicken, salah satu gerai ayam goreng lokal asal Yogyakarta, yang sekarang telah menerapkan sistem rekrutmen hingga akuntansi secara digital. 

Meski sudah banyak yang ekspansi, Bhima memandang masih ada sejumlah restoran/gerai makanan minuman merek lokal yang ragu untuk membuka cabang di luar kota ataupun luar negeri. Alasan klasiknya ialah takut sepi peminat.

”Kekurangan lainnya ialah kreativitas dalam hal pemasaran. Misalnya, pemasaran memang harus masif dengan memanfaatkan jasa pemengaruh media sosial lain sehingga bisa diterima di daerah tersebut,” tuturnya.

Mengenai jaringan restoran/gerai makanan minuman merek asin, dia percaya upaya pemasaran masif yang mereka lakukan akan kurang bertahan lama. Mengandalkan viral justru akan membuat bisnis mereka tidak berkelanjutan.

”Karena lebih memahami daerah, merek lokal cenderung berhati-hati sehingga bisnis mereka bertahan lebih panjang. Sejumlah merek lokal membaca permintaan konsumen, seperti paham tentang menu yang viral, lalu menerapkannya tetapi langkah itu tidak dilakukan untuk mengganti keseluruhan menu mereka,” kata Bhima.


Kerabat Kerja

Penulis:

Caecilia Mediana
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan