Mesin pemungutan suara yang canggih, surat suara berupa kertas, dan pemeriksaan oleh manusia memastikan keamanan sistem pemungutan suara di AS.
05 Nov 2024 20:56 WIB · Internasional
Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah menuding pemungutan dan penghitungan suara dalam pemilihan presiden tahun 2020 curang. Para pendukung Trump menuduh ada teori konspirasi menjegal Trump. Namun, tidak ada buktinya.
Jika tudingan seperti itu muncul lagi pada pemilu tahun ini, para ahli menilai itu tidak masuk akal. Ini karena prosedur pemungutan suara, baik secara langsung maupun lewat pos, ketat. Teknologi mesin pemungutan suara memakai pemindai optik yang semakin canggih. Surat suara berupa kertas, bukan surat suara elektronik.
Majalah Scientific American edisi 2 November 2024 menyebutkan, kini mesin pemungutan suara memakai pemindai optik yang memproses pilihan yang ditandai pada lembaran kertas.
Dalam pemilihan presiden 2020, tempat pemungutan suara (TPS) di Georgia sudah memakai mesin pemindai optik. Mesin pemindai optik itu relatif aman dari peretasan jarak jauh karena tidak terhubung ke internet.
Ada yurisdiksi di beberapa negara bagian yang mengizinkan mesin pemindai surat suara di TPS untuk mengirimkan hasil tidak resmi. Jaringan internetnya memakai jaringan pribadi seluler dan itu pun setelah pemungutan suara berakhir pada Hari Pemilihan.
Setelah mengirimkan hasilnya, kartu memori yang berisi penghitungan suara harus dihapus. Pejabat pemilu mengatakan, hal itu memungkinkan pelaporan hasil pemilu tidak resmi yang lebih cepat pada malam pemilihan.
Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) memastikan tidak ada bukti musuh yang berupaya mengganggu infrastruktur pemilu AS. Kalaupun ada, mereka yakin tidak akan ada yang bisa tembus.
Lantaran dari sisi teknologi tidak mungkin diganggu, biasanya yang akan diganggu adalah psikologis pemilih atau merusak kepercayaan pemilu melalui propaganda dan disinformasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/05/9da69cd0-a7d7-4ed1-a1d3-3c4279c905cd_jpg.jpg)
Mark Lindeman, ilmuwan politik yang juga Direktur Kebijakan dan Strategi di Verified Voting, kelompok nirlaba yang melacak sistem pemilu AS, menjelaskan, peretas tidak bisa mengganggu mesin pemungutan suara karena ada banyak prosedur perlindungan.
Surat suara fisik juga masih digunakan karena dapat diverifikasi, diaudit, dan dihitung ulang. Surat suara kertas tidak selalu aman. Kertas itu rapuh. Ada risiko terbakar seperti yang terjadi pada kasus pembakaran kotak-kotak suara di sejumlah daerah.
Pemilih di sebagian besar negara bagian mengisi surat suara dengan tangan. Kemudian, surat suara tersebut dipindai dan dihitung secara elektronik. Di kota-kota kecil di wilayah timur laut AS, surat suaranya dihitung secara manual.
Akan tetapi, di banyak daerah, pemilih sudah memakai komputer untuk menandai surat suara mereka secara elektronik. Mereka kemudian mendapat cetakan pilihan yang dimasukkan ke dalam mesin pemindai untuk dihitung. Selain itu, masih ada wilayah yang surat suaranya diberikan secara elektronik lalu dicetak dan dihitung manual.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/05/af0a9272-aa94-4238-9348-a52bab846499_jpeg.jpg)
Direktur Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS Jen Easterly menjamin keamanan surat suara karena sistem pengamanan sekarang sudah sangat kuat. Pada 2016, Rusia disebutkan pernah berupaya memindai sistem pendaftaran pemilih negara bagian untuk dicari titik rentannya. Namun, tidak ada bukti saat itu bahwa ada data yang diubah atau dihapus.
Para petugas pemilu juga memiliki sistem pengamanan ketat agar suara tidak dimanipulasi. Salah satu contohnya pengamanan surat suara dan segala perlengkapan pemungutan suara di ruangan terkunci dengan akses terbatas dan penggunaan segel antirusak. Peralatan pemungutan suara juga diuji terus sebelum hari pemilihan. Ini untuk memastikan suara dihitung dengan benar.
Untuk mengamankan surat suara yang dimasukkan ke dalam wadah tertutup bersegel, dikerahkan pengawalan polisi. Seluruh pengamanan didokumentasikan sebagai bukti. Langkah-langkah inilah yang dilakukan untuk mengamankan surat suara dari TPS ke kantor pemilihan daerah setelah pemungutan suara ditutup.
Asisten Direktur Pemilihan di Philadelphia Stephanie Nojiri menceritakan, petugas akan mencatat berapa banyak surat suara yang sudah atau belum digunakan serta dikembalikan ke komite pemilu daerah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/05/4a9f5ded-3ea4-4867-922a-7808a088a10c_jpeg.jpg)
Ketika sudah saatnya membuka kotak suara, dibutuhkan empat kunci. Dua kunci ada di komite pemilu daerah dan dua kunci lagi dari wakil kepala kepolisian sektor. Petugas lalu mengeluarkan surat suara, menghitungnya, mencatat jumlah surat suara, dan memasukkan surat suara ke dalam kotak tertutup sebelum diangkut kembali ke pusat pemrosesan daerah. (AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik W