Keuangan Telkom-Indosat Merosot, Bisnis Telekomunikasi Sedang Lesu

Dua operator telekomunikasi besar, Telkom dan Indosat Ooredoo Hutchison, kompak membukukan penurunan pendapatan dan laba sepanjang tiga triwulan pertama tahun 2025.

04 Nov 2025 19:39 WIB · Ekonomi & Bisnis

Dokumentasi Telkomsel

Oleh Caecilia Mediana

JAKARTA, KOMPAS  —  Kinerja keuangan dua operator besar telekomunikasi, Telkom dan Indosat Ooredoo Hutchison, tertekan sepanjang Januari-September 2025. Pendapatan dan laba keduanya menurun lantaran terdampak pelemahan daya beli konsumen, depresiasi rupiah, serta tekanan persaingan dari perusahaan aplikasi digital.

Mengutip laporan keuangan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom yang dirilis Jumat (31/10/2025), pendapatan perusahaan untuk periode sembilan bulan pertama tahun ini yang berakhir pada 30 September 2025 mencapai Rp 109,6 triliun. Nilai ini turun 2,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024, yaitu Rp 112,2 triliun. 

Penurunan pendapatan Telkom itu dikontribusikan oleh dua segmen. Pertama, segmen data, internet, dan layanan teknologi informasi yang hanya mencatatkan pendapatan Rp 64,8 triliun atau berkurang 4,6 persen dari tahun sebelumnya. Melalui info memo perusahaan, Telkom menyebut kondisi itu dipengaruhi sentimen konsumen yang berhati-hati dan perilaku belanja yang lesu.

Kedua, segmen pesan pendek (SMS), telepon tetap, dan seluler yang membukan pendapatan Rp 6,7 triliun atau merosot 15 persen dibandingkan setahun sebelumnya. Dalam info memo, Telkom menyebut kondisi ini mencerminkan tekanan berkelanjutan dari keberadaan platform aplikasi pesan instan dan layanan komunikasi berbasis data internet. 

Pada periode Januari-September yang berakhir 30 September 2025 itu, beberapa pos beban Telkom juga meningkat. Misalnya, beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi yang naik menjadi Rp 30,2 triliun, beban penyusutan dan amortisasi Rp 25,06 triliun, beban interkoneksi Rp 5,6 triliun, serta beban umum dan administrasi Rp 5 triliun. 

Konsekuensinya, laba usaha yang dibukukan oleh Telkom hanya mencapai Rp 29,17 triliun. Nilai ini turun dibandingkan periode sembilan bulan pertama tahun 2024, yaitu Rp 32,45 triliun. 

Dian Siswarini 
Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
04-08-2025

Dalam info memo, Telkom juga mengakui perekonomian Indonesia sedang menghadapi tantangan berkelanjutan. Rupiah terdepresiasi hingga kurang lebih Rp 16.600 per dollar AS akibat volatilitas kondisi pada triwulan III-2025, seperti aksi unjuk rasa dan pergantian sejumlah menteri.

Sikap ekspansif Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang baru menjabat selama dua bulan terakhir dianggap bisa mendukung roda pertumbuhan. Namun, keyakinan konsumen tetap lemah, terutama di kalangan kelompok berpenghasilan menengah. 

Tak jauh berbeda, pendapatan PT Indosat Tbk atau Indosat Ooredoo Hutchison turun 1,6 persen dari Rp 41,8 triliun pada tiga triwulan pertama 2024 menjadi Rp 41,1 triliun pada periode yang sama 2025. Penurunan ini, antara lain, dikontribusikan oleh berkurangnya pendapatan segmen seluler (dari Rp 35,2 triliun menjadi Rp 34,5 triliun) dan segmen telekomunikasi tetap (dari Rp 670 miliar menjadi Rp 604 miliar). 

Indosat Ooredoo Hutchison membukukan laba bersih yang diatribusikan ke pemilik induk sebesar Rp 3,5 triliun atau berkurang 7,4 persen dibandingkan setahun sebelumnya. Dalam info memo perusahaan yang dirilis Rabu (29/10/2025), Indosat Ooredoo Hutchison menyebutkan, kondisi itu disebabkan penurunan pendapatan, kenaikan beban penyelenggaraan jasa, umum, administrasi, penyusutan, dan amortisasi. 

Analis Trimegah Sekuritas, Sabrina, Selasa (4/10/2025), di Jakarta, berpendapat, kinerja keuangan Telkom dan Indosat Ooredoo Hutchison yang tertekan itu bukan hanya dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi. Namun, ada pula perubahan strategi pemasaran kartu nomor telepon seluler atau SIM card.

Ia mengamati, untuk konteks Telkom, perusahaan telekomunikasi pelat merah ini secara bertahap akan menyederhanakan paket untuk memudahkan pilihan pelanggan dan mendapat potensi imbal hasil yang lebih baik. 

”Untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2025 dibanding periode yang sama tahun 2024, performa kinerja keuangan operator telekomunikasi melemah. Sejak triwulan I, ada masalah daya beli. Lalu, di internal operator terjadi konsolidasi pemasaran SIM Card dan simplifikasi paket data (untuk Telkom),” ujar Sabrina. 

Laman aplikasi myIM3 dari Indosat pada acara pengenalan fitur PaybyBank oleh Indosat Ooredoo Hutchison dan Indepay di Jakarta, Senin (3/3/2025). Pelanggan Indosat semakin dimudahkan untuk melakukan pembayaran dan transaksi digital melalui fitur PaybyBank. PaybyBank telah. terkoneksi dengan 40 bank.

Bisnis mulai jenuh

Saat dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memandang, sejak beberapa tahun lalu, bisnis telekomunikasi seluler telah menghadapi tekanan atas keberadaan raksasa aplikasi internet (over-the-top/OTT). Lalu, belakangan, daya beli masyarakat merosot, terutama kalangan menengah ke bawah. 

”Hal ini (daya beli) bisa dilihat dari semakin lama durasi warga mengganti gawai. Depresiasi rupiah berpengaruh dan memberi tekanan pada biaya modal kerja. Akibatnya, margin profit yang bisa dibukukan menipis,” ucapnya.

Selain faktor tersebut, Bhima menduga bisnis telekomunikasi seluler jenuh karena penetrasi pengguna ponsel sudah melebihi populasi penduduk. Ditambah lagi, ada tren persaingan ketat penggelaran sambungan kabel optik telekomunikasi ke rumah tangga dan kemunculan layanan internet dari satelit orbit rendah. 

”Di Indonesia bagian timur, saya mengamati masyarakat berbondong-bondong adopsi Starlink, satelit orbit rendah milik Elon Musk. Mereka semula belum menikmati akses internet secara optimal atau bahkan tidak sama sekali,” katanya. 

Saat dikonfirmasi, Direktur Eksekutif Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Marwan O Baasir mengatakan, terlalu cepat menyimpulkan jika performa industri telekomunikasi sedang tertekan sepanjang Januari- September 2025. Sebab, belum semua emiten telekomunikasi merilis hasil kinerja keuangan triwulan III-2025. 

Di sektor telekomunikasi seluler, misalnya, XLSmart baru akan mengumumkan kinerja triwulan III-2025 pada akhir November 2025 nanti.

”Namun, saya merasa prioritas masyarakat berubah. Mungkin, mereka sekarang lebih bergantung pada jaringan tetap telekomunikasi, seperti wi-fi di rumah dan kantor. Kalau mau melihat performa keuangan industri telekomunikasi secara utuh, saya harus menunggu pengumuman emiten-emiten lain,” ucap Marwan. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Caecilia Mediana
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul