Boneka Manusia, Teman Penghilang Sepi

Warga Desa Ichinono membuat boneka berukuran manusia agar desanya ramai setelah ditinggalkan anak-anak mudanya ke kota. Kalau di malam hari, mungkin jadi agak seram.

03 Nov 2024 17:03 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia - [email protected]

Ichinono

Gara-gara ditinggalkan sebagian besar penduduknya, Desa Ichinono di di Tamba-Sasayama, Prefektur Hyogo, Jepang, bagaikan desa-desa di film kiamat zombie. Warga desanya tersisa 60 orang. Itu pun mayoritas sudah berusia pensiun.

Anak-anak mudanya pindah ke kota untuk bersekolah dan bekerja. Untuk mengurangi rasa sepi dan sunyi, warga desa itu membuat boneka-boneka seukuran manusia yang diletakkan di rumah dan di tempat umum.

Situs NBC, 27 Oktober 2024, menyebutkan ada boneka manekin yang sudah jadi, tetapi lebih banyak boneka yang dijahit sendiri oleh warga. Ada boneka yang sedang naik ayunan, ada juga yang sedang mendorong gerobak kayu bakar sambil tersenyum.

This photo taken on October 21, 2024 shows Hisayo Yamazaki standing next to the puppets outside her house in the village of Ichinono in the city of Tamba-Sasayama, Hyogo Prefecture. Riding his tricycle with cheerful abandon, Kuranosuke Kato is the only child in his tiny, depopulated Japanese village overrun by life-sized puppets. The two-year-old was the first baby in two decades for Ichinono, one of more than 20,000 communities in Japan where the majority of residents are aged 65 and above, according to the internal affairs ministry data.   (Photo by Philip FONG / AFP) / TO GO WITH Japan-demographics-election-Ichinono by Tomohiro Osaki

Di tengah-tengah kebun ada boneka perempuan memakai baju hangat dan duduk di ayunan kayu. Ada juga boneka laki-laki dan perempuan berhelm merah yang duduk di atas skuter seperti siap berangkat. Di sudut desa yang lain ada keluarga boneka yang seperti sedang mengumpulkan kayu dan memasukkannya ke gerobak.

Sebenarnya, dengan memasang boneka-boneka itu suasana desa menjadi agak menakutkan bagi pengunjung. ”Kami mungkin kalah jumlah dengan boneka,” kata Hisayo Yamazaki (88) kepada kantor berita Agence France-Presse.

Kebanyakan keluarga di Ichinono dulunya memiliki anak, tetapi anak-anak itu kemudian didorong untuk pergi ke tempat lain. ”Kami sekarang menanggung akibatnya,” ujarnya.

This photo taken on October 20, 2024 shows puppets in the village of Ichinono, one of the "puppet villages" in Japan created to ease the lonesome feelings due to depopulation, in the city of Tamba-Sasayama, Hyogo Prefecture. Many developed nations are facing a demographic timebomb, but Japan, which allows relatively low levels of immigration, already has the world's second-oldest population after Monaco. Silence pervades the air in Ichinono, where residents have handcrafted stuffed mannequins to create a semblance of a bustling society. (Photo by Philip FONG / AFP) / TO GO WITH Japan-demographics-election-Ichinono by Tomohiro Osaki

Biro Statistik Nasional Jepang menyebutkan, Jepang memiliki persentase penduduk berusia di atas 65 tahun tertinggi di dunia, yakni 36,25 juta jiwa atau 29,3 persen dari total penduduk.

Data tahun 2023 dari Kementerian Dalam Negeri Jepang menunjukkan jumlah penduduk Jepang menurun terus selama 15 tahun berturut-turut. Usia rata-rata Jepang naik sejak 1950 pada angka 49,1 tahun.

Dari semua warga yang tua dan ”warga” boneka, ada juga warga yang masih muda, pasangan Rie Kato (33) dan Toshiki Kato (31). Mereka pindah ke desa itu dari kota Osaka setelah jam kerja mereka menjadi fleksibel sejak pandemi Covid-19. Anak mereka, Kuranosuke Kato (2), menjadi bayi pertama yang lahir di Ichinono dalam 20 tahun terakhir.


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi undefined