Lomba lari Bank Jateng Borobudur Marathon terus ditingkatkan kualitasnya. Beragam aspek terus dievaluasi demi keselamatan dan kenyamanan pelari.
30 Nov 2024 20:16 WIB · ekonomi
MAGELANG, KOMPAS – Setelah mendapatkan predikat ”Label” dari World Athletics, Bank Jateng Borobudur Marathon bertekad untuk terus bertumbuh sebagai ajang lomba lari jarak jauh berkelas dunia. Kualitasnya senantiasa ditingkatkan dengan mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pelari. Evaluasi dalam berbagai aspek juga akan berlangsung tanpa henti demi mencapai level tertinggi.
Predikat ”Label” diperoleh Bank Jateng Borobudur Marathon pada tahun ini. Itu merupakan tingkatan paling dasar dari klasifikasi perlombaan lari jalan raya yang ditentukan oleh World Athletics. Dengan status itu, Borobudur Marathon telah masuk dalam kalender tahunan milik organisasi atletik dunia tersebut.
Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 digelar pada Minggu (1/12/2024) di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lomba yang diikuti sekitar 10.500 pelari itu merupakan hasil kerja sama Pemerintah Provinsi Jateng, Bank Jateng, Yayasan Borobudur Marathon, dan Harian Kompas. Berbagai persiapan pun telah dilakukan untuk penyelenggaraan lomba itu.
”Banyak hal yang sudah kami siapkan. Terlebih kami sudah mendapatkan ’Label’. Itu kami mengupayakan berbagai persiapan sebaik-baiknya,” kata Pemimpin Redaksi Kompas Sutta Dharmasaputra dalam jumpa pers menjelang Borobudur Marathon 2024, Sabtu (30/11/2024), di Grand Artos Hotel and Convention, Magelang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/30/9b67a12b-e8d5-4ce9-8d4a-0534dac8c5a3_jpg.jpg)
Menurut Sutta, status ”Label” dari World Athletics direspons penyelenggara dengan meningkatkan kualitas lomba. Dia mencontohkan, jumlah marshal dan petugas race pack collection tahun ini mencapai 1.800 orang. Sebanyak 1.200 orang di antaranya bertugas di sepanjang lintasan dan water station. Jumlah tersebut meningkat 10-15 persen dibandingkan tahun lalu.
Lebih lanjut, Sutta menyebutkan, aspek keselamatan pelari juga sangat diutamakan dalam penyelenggaraan Borobudur Marathon. Pasalnya, lari jarak jauh tergolong olahraga yang berisiko bagi kesehatan. Untuk itu, jumlah tenaga medis ditambah dari 240 orang menjadi 258 orang. Itu semua dilakukan demi menambah kenyamanan pelari selama berlomba.
”Kami terus menaikkan standar bahwa Bank Jateng Borobudur Marathon ini kelasnya dunia. Jadi, rasanya lokal, kelasnya global. Sentuhan lokal dan sentuhan internasional. Semuanya menyatu di sini,” kata Sutta.
Selama beberapa tahun terakhir, antusiasme pelari terhadap Borobudur Marathon juga tidak pernah surut. Sebaliknya, jumlah peminat lomba itu malah terus bertambah. Tahun ini, pelari yang mendaftar agar bisa mengikuti lomba itu mencapai 44.000 orang. Namun, hanya ada 10.500 yang dapat ikut serta dari seluruh kategori yang dilombakan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/30/e3673f52-8507-4246-9be1-1d7cbad07bfe_jpg.jpg)
Terkait hal itu, Ketua Yayasan Borobudur Marathon Liem Chie An bersyukur, animo masyarakat untuk mengikuti Borobudur Marathon terus meningkat. Namun, ia menyayangkan, tidak semua pendaftar bisa tertampung dalam perlombaan tersebut. Usulan menambah perhelatan itu pun dikemukakannya.
”Ke depan, kami perlu untuk terus berinovasi supaya mereka bisa tertampung. Saya mengusulkan, tahun depan, lombanya dibuat dua kali. Untuk kategori 5 kilometer dan 10 kilometer diselenggarakan pertengahan tahun. Kemudian, untuk yang separuh maraton dan maraton diselenggarakan di akhir tahun,” tutur Liem.
Delegasi Teknis World Athletics, A Hakeem Mohd AM Al Ameri, mengagumi keseriusan penyelenggara menyiapkan lomba tersebut. Keramahan dan kecekatan semua elemen panitia merupakan aset berharga. Menurut dia, aset itu akan mengantarkan lomba tersebut menuju level yang lebih tinggi.
Hanya, menurut Hakeem, ada sejumlah tantangan untuk menaikkan kualitas Borobudur Marathon. Salah satunya, lebar jalan yang dijadikan rute lomba itu terlalu sempit. Padahal, lomba-lomba kelas wahid biasanya diikuti oleh lebih dari 20.000 orang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/30/f15ef481-a96e-49db-8f38-18d3a11e6821_jpg.jpg)
Untuk meningkatkan kelas Borobudur Marathon, penyelenggara juga bisa menghadirkan pelari-pelari andal dengan catatan waktu terbaik. ”Para peserta lomba itu juga menentukan kelas lombanya. Jika memang diikuti pelari-pelari yang bisa menyelesaikan maraton dalam waktu 2 jam, 2 jam 1 menit, sampai 2 jam 3 menit, itu level kejuaraan ini akan meningkat,” kata Hakeem.
Capaian prestasi dalam lomba juga dinilai Hakeem menjadi kendala lainnya. Pasalnya, rute Borobudur Marathon dikenal memiliki elevasi tinggi. Kondisi itu kerap sekali menyulitkan para pelari untuk mencatatkan waktu terbaiknya.
Sehubungan dengan hal itu, Sutta menyatakan, aspek wisata olahraga memang menjadi bagian tak terpisahkan dari Borobudur Marathon. Dia pun mengakui, rute yang sarat tanjakan itu kerap dijadikan sorotan. Kondisi rute semacam itu membuat peserta susah mencatatkan waktu terbaik. Oleh karena itu, pihak penyelenggara bakal berupaya untuk mencari titik temu antara wisata olahraga dan aspek kompetitif lomba.
”Kami akan evaluasi sebaik-baiknya. Apa saja yang bisa ditingkatkan akan ditingkatkan. Misalnya, terkait elevasi, kita bisa mencari rute-rute lain yang boleh jadi lebih spektakuler. Sport tourism dapat, tetapi untuk prestasi (kompetitif) bisa didapatkan juga,” kata Sutta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/29/53db3c1a-5eb5-4137-8109-c91a6717de2b_jpg.jpg)
Penjabat Gubernur Jateng Nana Sudjana mengatakan, predikat ”Label” dari World Athletics yang didapatkan oleh Borobudur Marathon menjadi prestasi yang membanggakan untuk Magelang dan Jateng. Apalagi, di Indonesia hanya ada dua lomba lari lain yang mendapatkan label serupa.
Dari penyelenggaraan Borobudur Marathon, Nana mengharapkan bisa lahir atlet-atlet lari berprestasi untuk Jateng dan Indonesia. Untuk memacu performa pelari dalam Borobudur Marathon, Nana menjanjikan tambahan hadiah bagi para pelari nasional yang bisa memecahkan rekor nasional.
Hadiah tambahan itu bakal diberikan untuk pemecah rekor nasional kategori 10 kilometer, separuh maraton, maupun maraton. Tak main-main, besaran hadiah tambahannya adalah Rp 100 juta.
Tidak hanya menjadi ajang olahraga, Borobudur Marathon juga dinilai Nana menjadi sarana promosi keindahan pariwisata dan budaya di Jateng. Daerah-daerah lain di Jateng diharapkan bisa mencontoh Magelang untuk menggali potensi-potensinya sehingga bisa melahirkan ajang ikonik seperti Borobudur Marathon.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/30/8b8034ff-fea0-4a38-81a7-a442c7a55d4a_jpg.jpg)
”Event ini diharapkan mampu menggerakan ekonomi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah lokal serta memperkuat indentitas Candi Borobudur. Kami berupaya untuk terus mengangkat Borobudur yang saat ini terus kita benahi,” ujar Nana.
Nana menjanjikan, pihaknya bakal berbenah untuk menunjang kenyamanan para pelari peserta Borobudur Marathon mendatang. Salah satu yang bakal ditingkatkan adalah penyediaan akomodasi. Menurut Nana, Pemprov Jateng bakal mendorong pelaku usaha penginapan maupun hotel untuk meningkatkan kapasitas dan kualitasnya kamar untuk para pelari.
Kami akan evaluasi sebaik-baiknya. Apa saja yang bisa ditingkatkan akan ditingkatkan. Misalnya, terkait elevasi, kita bisa mencari rute-rute lain yang boleh jadi lebih spektakuler.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama Bank Jateng Irianto Harko Saputro menyebutkan, dalam penyelenggaraan Borobudur Marathon tahun lalu, terjadi perputaran uang mencapai Rp 60 miliar. Artinya, pelaksanaan lomba rutin tahunan itu disebut Irianto betul-betul berdampak bagi perekonomian masyarakat.
”Sebagai mitra dari Pemprov Jateng, kami punya kewajiban untuk menjaga keberlangsungan Borobudur Marathon, salah satunya dengan mensponsori. Selain itu, kami juga mengurasi dan membina sekitar 32 pelaku UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) yang selanjutnya dilatih oleh para chef supaya mereka naik kelas,” kata Irianto.
Penulis:
Nino Citra Anugrahanto, Kristi Dwi Utami, Kelvin HianusaEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase