Tempat transit strategis bagi para pelintas di Jalan Trans-Flores itu biasanya hidup terus selama 24 jam, tetapi kini bagai tertidur lelap berselimut debu.
20 Nov 2024 16:58 WIB · Lingkungan
Lorong-lorong perkampungan lengang. Tak tampak jejak ban kendaraan menggilas jalan berdebu. Kecuali jejak kaki binatang yang tertinggal. kelaparan, dan mengais makanan tersisa di antara debu dan pasir.
Suara tokek yang biasa menempel di sudut rumah, kios, dan lapak pasar pun tak terdengar. Kodok di selokan dan jangkrik di semak tak berisik. Terasa hening di bawah gunung yang bergemuruh hebat bak deru mesin pesawat jet.
Suhu panas menyengat datang dari matahari dan dibungkus hawa gunung. Perkampungan Boru-Hokeng itu tak berdaya menghadapi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Hingga Rabu (20/11/2024), erupsi masih berlangsung.
Boru-Hokeng, sebutan umum bagi perkampungan di bawah kaki gunung berketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut itu. Di situlah pusat Kecamatan Wulanggitang yang menjadi titik transit bagi para pelintas di Jalan Trans-Flores.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/16/5f7fd951-64ba-4e90-9624-28912846141f_jpg.jpg)
Trans-Flores membentang sejauh 656 kilometer dari Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat hingga Larantuka di Kabupaten Flores Timur. Boru-Hokeng sekitar 60 kilometer sebelah barat Larantuka menjadi salah satu titik pemberhentian bus.
Tempat yang biasanya hidup selama 24 jam itu kini bagai tertidur lelap, berselimut debu. Warung makan, toko, pasar, kantor bank, koperasi, markas polsek, koramil, puskesmas, sekolah, hingga biara tiarap. Tak tampak satu orang pun dijumpai di sana. Warga telah pergi mengungsi sejak erupsi besar pada 3 November 2024 yang menewaskan 9 orang dan melukai puluhan orang.
Boru-Hokeng semakin sepi setelah aparat menutup akses Trans-Flores lewat situ. Ruas jalan sejauh 7 kilometer berada dalam radius bahaya. Ketika erupsi 3 November, lontaran batu api dari mulut gunung mencapai Jalan Trans-Flores. Pada beberapa titik, jalan aspal terbelah. Tidak direkomendasikan dilewati ketika erupsi.
”Tempat itu sudah seperti kota mati. Kalau lewat sendirian, bikin merinding,” ujar Paul Kabelen (27), warga setempat, pulang memberi makan hewan peliharaan. Lebih kurang 13.000 jiwa penduduk di bawah kaki Gunung Lewotobi Laki-laki mengungsi ke sejumlah tempat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/16/edf6f76b-2729-48a9-9c14-38e26ca816a0_jpg.jpg)
Tak jauh dari titik transit Boru, ada kompleks Seminari San Dominggo Hokeng, tempat persemaian para calon imam Katolik. Seminari itu berusia 74 tahun dan telah meluluskan ribuan orang, termasuk mereka yang tidak menjadi imam. Banyak pemimpin lahir dari sana.
Kopi sudah mati dan semua pekerja sudah pergi mengungsi.
Gerbang seminari tertutup rapat. Dari kejauhan, bangunan klasik ala Eropa itu pucat, melekat abu vulanik yang setiap hari mengguyur. Beberapa bagian bangunan rusak berat diterjang material batu api. Plafon jebol, lantai terbelah, dan sekira 3.000 lembar seng bocor.
Sebanyak 232 siswa SMA seminari, para imam, guru, pegawai dan karyawan, yang totalnya mendekati 300 orang, telah pergi dari sana. Pembelajaran siswa berlangsung dalam jaringan. Trauma masih membekas membuat mereka enggan pulang ke sana.
Rektor Seminari San Dominggo Romo Martinus Kapitan Sogen mengatakan, untuk sementara kompleks seminari yang berjarak lebih kurang 4-5 kilometer dari puncak gunung itu dikosongkan. ”Setiap hari ada orang yang datang ke sana memberi makan ternak,” ujarnya.
Kegiatan pembelajaran bagi siswa SMA Seminari San Dominggo untuk sementara dilangsungkan secara daring. Siswa mengikuti dari rumah masing-masing. Ini dianggap tidak terlalu efektif karena pendidikan seminari menerapkan sekolah berasrama.
Di depan seminari itu terdapat lebih kurang 200 hektar hutan kopi. Diguyur abu vulkanik sepanjang hari, tanaman pun mati. Kebun kopi itu yang menerbangkan aroma ”kopi hokeng” ke berbagai wilayah di Tanah Air, bahkan ke sejumlah negara. Kebun kopi dikelola Keuskupan Larantuka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/20/c1352f15-4e85-403c-ba1e-96b89a86d4dd_jpg.jpg)
Stefanus Raja, pekerja di kebun kopi, menuturkan, lebih kurang 70 orang bekerja di sana. Setiap tahun hasil panen mencapai 170 ton. ”Kopi sudah mati dan semua pekerja sudah pergi mengungsi. Banyak yang pasti tidak kembali lagi,” katanya.
Herman Yosef Mboro dari Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki melaporkan, erupsi masih terus terjadi. Sepanjang Rabu ini, hingga pukul 12.00 Wita, erupsi terjadi beberapa kali dengan tinggi kolom abu mencapai 2.000 di atas kawah. Aliran lava ke arah utara hingga barat laut mencapai 3.800 meter.
Seperti diberitakan sebelumnya, erupsi terus-menerus ini mulai terjadi sejak Minggu (3//11/2024) malam. Jumlah korban meninggal 9 orang dan puluhan orang luka. Para korban kebanyakan terkena material batu api yang telontar dari kawah gunung.
Puncak kedua gunung itu terpisah jarak lebih kurang 2 kilometer. Pelana yang memisahkan kedua puncak itu berketinggian 1.232 meter di atas permukaan laut. Adapun erupsi Gunung Lewotobi Perempuan pertama kali tercatat adalah pada tahun 1921. Gunung Lewotobi Laki-laki lebih banyak erupsi dibandingkan dengan Gunung Lewotobi Perempuan.
Erupsi masih terus terjadi. Hujan abu terus mengguyur, aliran lava dan luncuran awan panas mengancam, serta gemuruh hebat yang terus meneror. Boru-Hokeng yang berada di kaki gunung itu pun terkubur dalam sunyi bak kota mati.
Dalam catatan Kompas, erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pertama kali tercatat dalam sejarah manusia terjadi pada tahun 1861. Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki kembaran bernama Gunung Lewotobi Perempuan yang memiliki ketinggian 1.708 meter di atas permukaan laut.
Penulis:
Fransiskus Pati HerinEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .