Bp Tangguh Siap Serap 5.000 Tenaga Kerja Proyek Penangkapan Karbon

Kebutuhan tenaga kerja ini lima kali lipat dari total pekerja operasional di kilang gas alam cair Tangguh di Teluk Bintuni, Papua Barat.

10 Jun 2025 11:28 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

TELUK BINTUNI, KOMPAS — Perusahaan minyak dan gas multinasional Bp Indonesia akan menyerap 5.000 tenaga kerja untuk membangun proyek Tangguh Ubadari, Carbon Capture Utilization & Storage/CCUS, dan Compression atau UCC di Teluk Bintuni, Papua Barat. Besarnya kebutuhan tenaga kerja untuk mendukung pengerjaan proyek penangkapan dan injeksi karbon skala besar dan terbesar pertama di Indonesia.

”Di proyek itu akan ada 5.000 (tenaga kerja), itu di puncaknya,” kata Head of Country Bp Indonesia Hardi Hanafiah kepada wartawan di lokasi Bp Tangguh, Bintuni, Selasa (10/6/2025).

Total kebutuhan tenaga kerja itu lima kali lipat dari jumlah pekerja operasional yang kini bertugas di proyek Tangguh yang juga menjadi lokasi pengolahan gas alam cair (liquified natural gas/LNG).

Tenaga kerja konstruksi ini direncanakan mulai mengerjakan proyek di Desember 2025. Mereka akan ditampung di tempat tinggal yang kini masih dibangun dalam tahap awal atau early works proyek.

”Habis early works baru mulai sekarang ada dua pengerjaan, yaitu offshore atau platformnya dan onshore yang terkait fasilitas. Target kita selesai di kuartal pertama 2028,” ujar Hardi.

Peta lokasi kilang gas alam cair (LNG) Bp Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat.

Ia menjelaskan, proyek UCC ini memiliki tiga tujuan, yakni membangun sistem penangkapan karbon atau CCUS, aplikasi EGR (Enhanced Gas Recovery) untuk menginjeksikan gas CO2 yang didapatkan dari pabrik pengolahan atau kilang LNG Tangguh, dan memastikan peningkatan kapasitas produksi LNG.

Proyek yang keputusan investasi akhirnya selesai November 2024 dengan nilai investasi 7 miliar atau setara Rp 111,3 triliun ini akan memiliki kapasitas penyimpanan CO2 sekitar 1,8 Gigaton dan pada fasa awal akan menginjeksikan sekitar 15 juta ton CO2 dari emisi fasilitas operasi Tangguh LNG. Operasional proyek ini ditargetkan Bp Indonesia menambah 3 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/TFC) LNG dalam produksi mereka.

Proyek CCS (Carbon Capture & Storage) yang dikerjakan Bp Indonesia diharapkan dilakukan lebih banyak Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) minyak dan gas (migas) di Indonesia. CCS tidak hanya menjadi strategi mengurangi emisi CO2 yang mengakibatkan pemanasan global, tetapi juga berfungsi meningkatkan produksi minyak dan gas di dalam negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada acara Konvensi dan Pameran Indonesian Petroleum Association (IPA Convex) ke-49 Tahun 2025 di ICE BSD Tangerang, Rabu (21/5/2025), menyampaikan, Pemerintah Indonesia mempermudah berbagai kebijakan untuk mendukung proyek ini.

Salah satunya memberikan kemudahan bagi para investor. Kemudahan ini diatur dengan membentuk Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 14 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon dan Peraturan Menteri ESDM (Permen) Nomor 2 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon, serta Penangkapan, Pemanfaatan, dan Penyimpanan Karbon pada Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.

”Aturannya sudah kita buat dan saya tawarkan kepada bapak Ibu semua. Silakan masuk. Lebih cepat, lebih baik. Kita kasih sedikit relaksasi sweetener (stimulus). Tapi, kalau sudah booming baru masuk, sweetener-nya tidak akan sebaik sekarang,” kata Bahlil.

Mengutip rilis Kementerian ESDM, sejak tahun 2021 hingga 2024, pemerintah juga telah menerbitkan 30 izin pemanfaatan data kepada 12 kontraktor untuk mendukung pelaksanaan studi CCS dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) di berbagai wilayah Indonesia.

infografik Manfaat Pengembangan CCS Bagi Indonesia

Studi tersebut mencakup 19 lokasi strategis, yakni Lapangan Arun, Corridor, Sakakemang, Betung, Ramba, Asri Basin, ONWJ, Jatibarang, Gundih, Sukowati, Abadi, CSB, Gemah, South Natuna Sea Block B, East Kalimantan, Refinery Unit V Balikpapan, Blue Ammonia, Donggi Matindok, serta Lapangan Tangguh di Bintuni, Papua.

Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi penyimpanan penangkapan karbon terbesar di Asia Pasifik dengan potensi yang mencapai 572,77 gigaton untuk saline aquifer (akuifer yang airnya asin) dan 4,85 gigaton di depleted reservoir (akuifer yang airnya habis).

”Saat ini dunia selalu berpikir sekarang tentang membangun industrialisasi dengan pendekatan green energy dan green industry. Salah satu di antaranya untuk mewujudkannya adalah bagaimana menangkap carbon capture-nya, CO2-nya,” kata Bahlil.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .