Membersihkan layar gawai dan piring dari asupan yang tidak sehat adalah kombinasi yang baik dalam rangka detoks informasi dan reformasi nutrisi di tengah masyarakat.
13 Jul 2025 08:00 WIB · Artikel Opini
Kualitas konten digital saat ini menjadi perhatian serius di tingkat global. Dominasi algoritma membuat informasi dangkal dan sensasional terus menggempur isi media sosial. Sekresi dopamin bermuara pada adiksi dan berujung pada kemunduran fungsi kognitif atau brain rot.
Harian Kompas (28/6/2025) mengulas fenomena ini dari berbagai sudut pandang, dari pendidikan, sosiologi, psikologi, hingga filsafat. Benang merah dari ulasan tersebut menunjukkan konten yang dangkal dapat mencederai cara berpikir dan penurunan intelektual.
Dari sudut pandang sosial, adiksi terhadap layar gawai membuat seseorang malas bersosialisasi. Ironisnya, kelompok yang paling terdampak adalah generasi Z dan generasi alfa, yang seharusnya menjadi kelompok usia produktif dan kreatif.
Apabila ditelusuri lebih dalam pada topik khusus, analisis kualitas konten digital menyingkap fakta yang lebih mengkhawatirkan. Makanan atau pangan (food) menjadi topik yang sedang naik daun di media sosial sehingga topik ini tidak luput dari informasi dangkal dan receh.
Topik food & cooking merangkak ke peringkat ke-4 dalam tagar paling populer 2025 di Tiktok. Kondisi serupa terlihat pula di Youtube dan Instagram. Topik makanan bersanding di papan atas bersama topik perjalanan (travelling), gaming, pakaian (fashion), dan ulasan produk.
Survei International Food Information Council 2024 menunjukkan, 54 persen responden menerima informasi topik makanan melalui media sosial, meningkat dari 42 persen pada 2023. Ironisnya, responden generasi Z dan milenial cenderung percaya pada informasi makanan di media sosial.
Apabila dikaitkan dengan penurunan kualitas konten digital secara global, angka dan data di atas tentu menjadi kekhawatiran baru. Informasi dangkal dan sensasional mengenai pangan dapat memengaruhi pola konsumsi pangan masyarakat.
Beberapa studi menunjukkan konten makanan di media sosial lebih banyak menggiring audiens ke pola makan yang kurang sehat, meski tetap ada kreator konten yang mempromosikan gizi seimbang. Akurasi informasi cenderung harus mengalah pada kepentingan engagement.
Studi Zeng dkk (2025) pada 1.445 post makanan selama September 2023 hingga Maret 2024 di platform Tiktok mengungkap, 55 persen unggahan tidak punya informasi berbasis bukti (evidence-based), 75 persen kurang akurat, dan 90 persen tidak menyampaikan risiko dan manfaat dari konten yang disampaikan.
Sebagian besar konten makanan juga berasal dari kreator yang bukan ahli atau pakar (Zeng dkk, 2025). Hal ini membuat media sosial dibanjiri konten negatif yang mendorong pada konsumsi makanan cepat saji, minuman bergula, hingga konsumsi pangan dengan porsi ekstrem berlebih.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, anak dan remaja menjadi target utama dari pemasaran produk makanan dan minuman yang tidak sehat. Hal ini terjadi melalui media pemasaran konvensional dan juga konten media sosial.
Pola pemasaran di media sosial ini cenderung lebih berisiko karena feed dalam akun media sosial berpotensi diisi oleh stealth marketing, yakni konten sulit dikenali sebagai iklan. Kondisi tersebut membuat audiens tidak sadar telah menjadi sasaran pemasaran.
Algoritma akan bekerja dengan memberikan lebih banyak post berisi video mukbang hingga ulasan makanan yang berminyak, berlemak, dan menarik secara visual. Kondisi tersebut memicu lapar imajinatif bagi audiensnya.
Sekresi dopamin sebagai efek dari konsumsi konten digital akan ”berkolaborasi” dengan glukosa tinggi dari konsumsi makanan akibat lapar imajinatif. Terbentuklah lingkaran setan yang membahayakan dari fenomena tersebut.
Hal ini menunjukkan dangkalnya informasi di media sosial tidak hanya menggerus kemampuan otak dari sisi kognitif, tetapi juga bisa mengganggu kondisi fisik melalui pangan sebagai pintu masuknya. Pola konsumsi dan kualitas pangan menjadi pertaruhan.
Bayangkan, waktu tersita untuk menggulirkan layar gawai, tanpa interaksi sosial, dibarengi ngemil makanan atau minuman yang tidak sehat. Ini seperti double-hit yang sulit dihindari. Aktivitas seperti ini bukan hanya berujung pada brain rot, melainkan juga body rot.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/26/1d434421-c74e-41c7-a1c6-e80952ab74ab_png.png)
Lantas, bagaimana jalan keluar mengatasi kombinasi dua ancaman ini? Dari sisi pengguna media sosial, detoks informasi menjadi hal yang mutlak dilakukan. Kecerdasan dalam menyaring informasi dangkal, receh, dan sensasional sudah menjadi kemampuan dasar yang harus dimiliki.
Fitur pengingat waktu menatap layar (screen time) dapat menjadi kontrol pertama dalam membatasi waktu penggunaan media sosial. Fitur ini tidak hanya ditemui pada gawai, tetapi juga menjadi salah satu fitur yang disediakan platform media sosial.
Kontrol waktu dan seleksi informasi oleh diri sendiri (self-control) akan lebih efektif jika dilakukan secara disiplin. Feed perlu dikurasi pada konten sehat yang berbasis ilmiah. Hal ini dapat menggeser algoritma ke konten yang lebih sehat.
Pengguna media sosial dari kelompok usia dan ekonomi tertentu pasti memiliki tantangan lebih kompleks. Anak dan remaja perlu pendampingan orangtua. Memaksimalkan fungsi family pairing dalam gawai dapat sedikit membantu mengatasi kompleksitas ini.
Dari sisi kreator konten, prinsip evidence-based perlu menjadi acuan dalam setiap konten, lebih baik lagi jika sudah scientific-based. Dengan cara ini, konten tidak hanya menghasilkan engagement yang berujung pada monetisasi, tetapi juga dapat mencerdaskan masyarakat.
Dari sisi regulator, pengaturan terkait konten digital perlu diterapkan pada tataran praktis. Di Uni Eropa, Digital Service Act sudah berlaku penuh sejak 2022. Di dalamnya mengatur hal kecil hingga menyentuh reliabilitas informasi, transparansi, dan ketertelusuran konten.
Untuk konteks Indonesia, literasi masyarakat sepertinya masih menjadi prioritas utama. Pemerintah perlu menyentuh kelompok usia remaja dan kelompok ekonomi tertentu agar dapat menerima informasi yang benar, khususnya terkait makanan dan pangan.
Perlu diakui, benih konten makanan yang positif juga mulai tampak. Video-video singkat di beberapa platform juga ada yang membantu audiensnya memasak dengan resep sehat di rumah hingga mendorong pola kebiasaan konsumsi makanan lebih sehat dalam jangka panjang.
Membersihkan layar gawai dan piring dari ”asupan” yang tidak sehat merupakan kombinasi yang baik dalam rangka detoks informasi dan reformasi nutrisi di tengah masyarakat. Apabila dilaksanakan dengan baik, konten digital dapat berujung pada brain fit dan body fit.
Ini menjadi investasi yang paling masuk akal untuk dalam menjaga aspek kognitif dan kesehatan generasi digital Indonesia. Langkah tersebut dapat dijalankan dengan tetap menjadikan platform digital sebagai ruang berekspresi yang paling berpengaruh. Semoga.
M Ikhsan Shiddieqy, Mahasiswa doktoral Wageningen University, Belanda; petugas belajar Badan Riset dan Inovasi Nasional
Penulis:
M. Ikhsan ShiddieqyEditor:
Johanes Waskita UtamaPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto