PIALA DUNIA 2026

Investasi Brasil pada Teknologi demi Gelar Juara Dunia Keenam, Bagaimana Cara Kerjanya?

Selain merekrut Pelatih Carlo Ancelotti, timnas Brasil juga berinvestasi pada teknologi ”rompi pintar” untuk mewujudkan gelar keenam Piala Dunia. Apa fungsinya?

16 Jun 2026 07:15 WIB · Olahraga

AP Photo/Frank Franklin II

Oleh Yola Sastra

Piala Dunia 2026 yang dihelat Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi edisi ke-23 turnamen sepak bola paling bergengsi itu digelar. Dari puluhan negara yang pernah berpartisipasi sejak 1930, hanya delapan negara yang mampu memenangi trofi tersebut.

Brasil menjadi nama teratas dari delapan negara juara itu. ”Tim Samba” telah memenangi lima trofi Piala Dunia. Gelar terakhir mereka dapatkan pada Piala Dunia 2002 Korea Selatan-Jepang. Hanya Italia dan Jerman yang prestasinya paling mendekati dengan masing-masing empat trofi. 

Sayangnya, nama besar timnas Brasil di Piala Dunia perlahan runtuh seusai juara. Prestasi tim yang berjulukan ”Selecao” atau orang-orang terpilih dalam lima edisi terakhir itu jauh dari harapan.  

Posisi tertinggi yang mereka raih dalam periode itu hanya peringkat keempat saat mereka jadi tuan rumah pada edisi 2014. Namun, capaian tertinggi itu menyisakan kenangan kepahitan. Tidak hanya gagal ke final, Brasil dipermalukan Jerman—yang menjadi juara—dengan skor 1-7 di semifinal.

Kini, pada Piala Dunia 2026, Brasil ingin kembali ke masa kejayaan dengan memenangi gelar keenam mereka. Carlo Ancelotti, juru taktik asal Italia yang jago dalam memaksimalkan keterampilan individu pemain bintang, sesuai dengan karakter timnas Brasil, ditunjuk jadi pelatih untuk misi tersebut. 

”Kami di sini untuk mencoba mengubah sejarah, mencoba mengembalikan Brasil ke tempat yang seharusnya tidak pernah ditinggalkannya, yaitu di puncak,” kata penyerang Brasil, Vinicius Junior, dikutip dari AP, Sabtu (13/6/2026).

MORRISTOWN, NEW JERSEY - JUNE 3: Vinícius Junior #7 of Brazil with the ball during training at Columbia Park Training Facility on June 3, 2026 in Morristown, New Jersey.   Ira L. Black/Getty Images/AFP (Photo by Ira L. Black / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

”Kami berada di level yang sama dengan tim-tim besar lain,” sambung Vinícius, pemain yang memenangi dua gelar Liga Champions Eropa bersama Ancelotti di Real Madrid.

Namun, di luar aspek kepelatihan itu, Brasil juga telah berinvestasi pada teknologi untuk bantuan teknis tambahan. Sejak 2024, mereka bekerja sama dengan perusahaan teknologi olahraga, Catapult, yang menyediakan perangkat pelacak performa atlet dan analisis data berbasis video.

Quote

Data yang terkumpul sepanjang tahun dari rompi pelacak itu sebagian besar menjadi basis dalam pemilihan pemain, posisi mereka, dan peran taktis saat pertandingan.

Melalui teknologi tersebut, tulis BBC, para ilmuwan olahraga melacak para pemain, mulai dari kecepatan lari cepat dan detak jantung hingga tingkat kelelahan dan pemulihan cedera. Perangkat itu diharapkan memberikan informasi sebanyak mungkin kepada Ancelotti dan timnya sebelum membuat keputusan penting terkait Piala Dunia.

Rompi ”pintar”

Sebagian besar pemain profesional di Brasil mengenakan ”rompi pintar” yang dilengkapi sensor. Jika pernah melihat pemain sepak bola pria profesional mengenakan benda mirip bra, itulah perangkat yang dimaksud. Rompi pelacak ini dikenakan pemain sepanjang musim, baik saat latihan maupun pertandingan.

Catapult pada laman resminya, One.catapultsports.com, menerangkan, rompi tersebut melacak dan mengukur performa pemain di lapangan. Rompi ini dirancang untuk menahan sebuah perangkat di antara tulang belikat yang berisi GPS 10Hz, akselerometer, dan magnetometer.

”Perangkat GPS ini mampu menangkap lebih dari 1250 titik data per detik untuk mengukur seberapa banyak dan seberapa keras pemain bekerja, dan pemain serta pelatih dapat menganalisis data seperti jarak total, kecepatan tertinggi, jumlah sprint, jarak sprint, daya, beban, intensitas, dan banyak lagi,” tulis Catapult. 

Infografik Prediksi Final dan Juara Piala Dunia 2026

Metrik itu kemudian ditampilkan dalam aplikasi khusus untuk memberikan informasi apakah suatu tim berlatih secara optimal untuk pertandingan, potensi risiko cedera, atau pemulihan dari cedera dengan aman.

Berkembang pesat

BBC melaporkan, teknologi pelacakan semacam ini berkembang pesat beberapa dekade terakhir. Sebagian besar tim di Piala Dunia kini juga menggunakan sistem pelacakan dan pemantauan kinerja elektronik ini. Namun, Brasil telah mengintegrasikan pemantauan pemainnya secara ekstensif di semua tim liga putra, putri, dan yuniornya.

Informasi yang dikumpulkan setiap klub tentang pemain mereka diteruskan ke departemen ilmu olahraga timnas. Data ini memungkinkan para pelatih untuk memantau pemain sepanjang musim untuk persiapan pertandingan internasional. 

”Setiap hari, ketika kami tidak bersama para pemain, kami berkomunikasi dengan klub dan mereka mengirimkan informasi pemain dari sistem pelacakan,” kata kepala ilmu olahraga timnas Brasil, Guilherme Passos, dikutip dari BBC.

”Jadi, mudah untuk mengintegrasikannya ke dalam basis data kami dan menganalisis para pemain ketika mereka tidak bersama kami,” ucapnya kemudian.

Teknologi pelacakan pemain sangat membantu bagi timnas karena keterbatasan waktu dengan para pemain bintang. Sebagian besar anggota skuad bermain di liga berbeda, bahkan benua berbeda. Dengan teknologi tersebut, staf Brasil dapat memantau para pemain meskipun jarak mereka ribuan mil dari Brasil. 

”Kami tahu persis di mana para pemain berada dalam proses transisi ini,” kata Passos.

Brazil's Bruno Guimaraes (8) cools down with a splash of water in the first half during the World Cup Group C soccer match between Brazil and Morocco in East Rutherford, N.J., near New York, Saturday, June 13, 2026. (AP Photo/Adam Hunger)

Menentukan ”lineup” 

Data yang terkumpul sepanjang tahun dari rompi pelacak itu sebagian besar menjadi basis dalam pemilihan pemain, posisi mereka, dan peran taktis saat pertandingan. Data ini juga berguna dalam menilai program pemulihan pemain cedera ataupun beban kerja pemain di tingkat klub.

Salah satu fitur terpenting dalam sistem pelacakan itu adalah pengelolaan rehabilitasi cedera hamstring—masalah umum dalam sepak bola profesional. Passos menyebut, dengan memperhatikan metrik, seperti seberapa banyak pemain berlari cepat dan sprint dengan kecepatan tinggi, para ilmuwan olahraga dapat menilai apakah seorang pemain mampu pulih dengan aman atau tidak.

”Jika pemain tersebut adalah pemain dengan kecepatan tinggi, sangat penting untuk memperhatikan metrik ini, langkah-langkah kecil untuk memastikan otot pulih dengan baik,” katanya.

Keputusan taktis dapat juga merujuk pada data tersebut. Pemain yang sangat cepat mungkin merupakan pemain sayap yang kuat. Adapun metrik pemulihan dapat menjadi masukan apakah seorang pemain masuk sejak menit awal atau jadi pemain pengganti di akhir pertandingan. 

”Jika Anda memiliki pemain yang sangat, sangat cepat, pelatih mungkin dapat mempertimbangkan untuk menggunakan pemain tersebut dalam gaya permainan yang memungkinkan serangan balik,” ujar Passos.

Brasil akan menggunakan rompi pelacak itu sepanjang Piala Dunia dan memberikan data langsung di semua pertandingan. Pemantauan kelelahan dan pemulihan dapat membantu staf pelatih dalam memutuskan siapa yang siap bermain dan siapa yang butuh istirahat tambahan.

Brazil head coach Carlo Ancelotti reacts during the World Cup Group C soccer match between Brazil and Morocco in East Rutherford, N.J., near New York, Saturday, June 13, 2026. (AP Photo/Yuki Iwanmura)

Penilaian manusia

Meskipun kehadiran teknologi menjadi salah satu kebutuhan sepak bola modern, penilaian secara riil dari pelatih di lapangan tetap menjadi faktor penting. Data rompi pelacak mungkin memberikan informasi obyektif, tetapi sepak bola bukan olahraga yang dapat dinilai dari angka statistik saja. 

Passos punya contoh menarik terkait hal ini. Melalui data pelacakan, ia mengidentifikasi seorang pemain hanya menempuh jarak sekitar 6 kilometer selama pertandingan. Jumlah itu hanya separuh dari rata-rata jarak tempuh rekannya.

Kinerja pemain yang identitasnya dirahasiakan tersebut tampak buruk jika hanya melihat angka-angka itu. Namun, ketika para pelatih meninjau rekaman, temuannya justru sangat berbeda.

”Pemain spesifik ini selalu berada di tempat yang tepat dengan posisi taktis yang sempurna. Dia adalah pemain yang sangat efisien,” kata Passos.

Oleh sebab itu, meski teknologi dibutuhkan dalam sepak bola, timnas Brasil percaya, faktor penentu tidak berubah, yaitu penilaian manusia. ”Perbedaan utamanya adalah orang-orang yang ahli di balik teknologi yang menganalisis data dan menerjemahkannya menjadi keputusan praktis,” lanjutnya.

Brasil telah memulai laga perdananya di Piala Dunia 2026 melawan Maroko di Stadion New York, AS, Minggu (14/6/2026). Hasil 1-1 tentu tidak sesuai ekspektasi. Namun, ini baru permulaan dan terlalu cepat menilai kinerja Ancelotti sekaligus dampak teknologi rompi pelacak pada peningkatan performa timnas Brasil. (BBC/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yola Sastra
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti