piala dunia 2026

Brasil Vs Maroko: Ancelotti Minta Maaf, ”Samba” Kehilangan Magisnya

Brasil hanya mampu bermain imbang 1-1 lawan Maroko pada laga penyisihan Grup C Piala Dunia 2026. Tim asuhan Carlo Ancelotti kehilangan magis samba.

14 Jun 2026 14:34 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Prasetyo Eko Prihananto dari New Jersey, Amerika Serikat

Pada jumpa pers seusai laga melawan Maroko, Pelatih Brasil Carlo Ancelotti meminta maaf kepada para penggemar. Permintaan maaf itu muncul setelah seorang jurnalis menyinggung fakta bahwa Brasil tetap gagal menemukan magis samba meski mendapat dukungan mayoritas penonton di stadion.

Akibatnya, juara dunia lima kali itu pun harus puas bermain imbang 1-1. ”Saya berterima kasih kepada pendukung dengan atmosfer yang mereka ciptakan, tapi saya minta maaf dengan peforma tim,” kata pelatih asal Italia ini dalam jumpa pers yang dihadiri Kompas di Pusat Media Stadion MetLife, New Jersey, Sabtu (13/6/2026) sore waktu setempat.

Pendukung Brasil sudah menciptakan atmosfer samba, dengan energi meriah, dinamis, dan penuh kegembiraan sejak tiba di stadion. Beberapa jam sebelum laga dimulai, mereka sudah membentangkan banner bergambar para legenda Brasil dan bernyanyi gembira.

Banner raksasa itu kemudian mereka bentangkan di dalam stadion. Sayangnya, atmosfer itu tidak menular pada permainan para pemain ”Selecao”.

Apakah permintaan maaf itu cukup bagi publik Brasil? Pertanyaan bertubi-tubi terhadap Ancelotti pada jumpa pers seusai laga itu sepertinya mewakili frustrasi para pendukung.

Kecuali penampilan gemilang Vinicius Junior, penampilan tim Brasil memang jauh dari harapan. Pergantian pemain yang dilakukan Ancelotti tidak terlalu banyak mengangkat permainan tim.

Suasana konferensi pers Pelatih Brasil Carlo Ancelotti seusai laga melawan Maroko di New Jersey, Sabtu (13/6/2026).

Ancelotti juga dianggap terlalu berhati-hati dan kurang berani karena tidak mau memasukkan Endrick. Ditanya soal Endrick, Ancelotti mengatakan, ”Saya di sini bukan untuk berbicara individu pemain, saya hanya berbicara tentang tim.”

Karakter sepak bola Ancelotti yang mengutamakan pragmatisme dan pola terstuktur bisa mengekang ekspresi para pemain Brasil yang terbiasa bermain mengandalkan naluri individu.

Akibatnya, atmosfer samba, yaitu gaya bermain yang penuh energi, kegembiraan, dan kreativitas, terkekang struktur tegas dan kedisiplinan taktik eks pelatih Real Madrid itu.

Itu terlihat jelas saat Brasil kesulitan keluar dari tekanan Maroko yang justru bermain sebagai antitesis Brasil-nya Ancelotti. Diprediksi akan lebih fokus mengamankan pertahanan, para pemain Maroko justru sedikit lebih ekspresif, tanpa menghilangkan aura kedisiplinan mereka.

Hasilnya, tim ”Singa Atlas” mampu mencetak gol lebih dulu melalui skema serangan cepat dengan umpan yang menusuk pertahanan Brasil. Ismael Saibari mampu mengecoh penjaga gawang Alisson setelah menerima umpan terobosan Brahim Diaz.

TOPSHOT - Morocco's midfielder #11 Ismael Saibari (C) scores his team's first goal during the 2026 World Cup Group C football match between Brazil and Morocco at the New York/New Jersey Stadium in East Rutherford on June 13, 2026. (Photo by Angela WEISS / AFP)

Kekakuan taktik Ancelotti itu barangkali menjelaskan mengapa ia tidak memasukkan Endrick, remaja yang berpotensi bisa menciptakan keajaiban dengan talentanya. Pergantian pemain yang dilakukan Ancelotti adalah ciri khas pergantian untuk tetap mempertahankan struktur, bukan untuk mengubah jalannya pertandingan.

Dia mengganti pemain yang memiliki posisi serupa dengan harapan permainannya akan lebih baik. Bek kanan Roger Ibanez, misalnya, diganti Douglas Costa, sayap kanan yang kali ini ditempatkan lebih ke belakang. Gelandang bertahan Fabinho juga mengganti Casemiro.

Ketika didesak apakah ia terlalu lambat untuk mengganti pemain, Ancelotti mengatakan tidak ada yang bermasalah dengan keputusannya.

”Ada dua pergantian pemain pada menit ke-45 dan satu lagi pada menit ke-59. Apakah kamu dengar apa yang saya katakan? Ada dua pergantian dalam 45 menit dan satu lagi menit ke-59. Saya kira kami tidak akan segera kalah karena pergantian kami,” katanya.

Satu-satunya momen individu brilian tercipta oleh talenta Vinicius saat menyamakan kedudukan. Sebaliknya, itu satu-satunya momen Achraf Hakimi kehilangan fokus, di tengah penampilannya yang cemerlang. Melalui skill individunya, Vinicius menaklukkan Hakimi sebelum mencetak gol.

Menurut Ancelotti, bukan karena struktur, pemain tidak bisa mengembangkan performa. Dia menuding, pemainnya terlalu tegang menghadapi laga pertama. Ia juga kecewa dengan penampilan itu, tapi menekankan masih ada laga yang harus dimainkan.

”Ini adalah laga yang berat, terutama pada awal laga. Tim terlalu tegang. Kami tidak bisa menjaga bola. Tetapi, pada babak kedua, kami lebih baik. Itu masih belum cukup, tetapi saya yakin akan lebih baik pada laga berikutnya,” ujar Ancelotti.

Menurut pelatih berusia 67 tahun itu, Maroko adalah tim yang sulit dihadapi karena mereka sangat terorganisasi dan bermain bagus. Tapi, ia yakin Brasil akan bangkit. ”Anda tidak memenangi Piala Dunia pada laga pertama,” kata Ancelotti.

Vini mengatakan, mereka mengawali laga dengan sangat buruk. ”Kami kebobolan dulu, setelah itu sangat sulit. Kami harus memperbaiki penampilan,” ujarnya.

Hakimi kepada wartawan seusai laga juga mengatakan, laga melawan Brasil tidak mudah. ”Sangat sulit, kami bermain melawan tim tangguh, favorit turnamen. Kami imbang, tapi puas,” kata Hakimi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko Prihananto dari New Jersey, Amerika Serikat
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto