PIALA DUNIA 2026

Brasil Vs Maroko, Saat Vinicius ”Menghakimi” Hakimi

Satu-satunya duel di antara tim ranking 10 besar FIFA pada penyisihan grup Piala Dunia 2026, antara Brasil dan Maroko, berakhir imbang 1-1.

14 Jun 2026 08:18 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Prasetyo Eko Prihananto, dari New Jersey, Amerika Serikat

NEW JERSEY, KOMPAS — Laga Brasil melawan Maroko merupakan salah satu partai besar di awal Piala Dunia 2026. Ini adalah satu-satunya laga fase grup yang mempertemukan dua tim yang berada di dalam 10 besar ranking FIFA. Meski berakhir imbang, 1-1, kualitas permainan yang ditunjukkan kedua tim membuktikan hal tersebut.

Duel dua pemain kelas dunia, Vinicius Junior dan Achraf Hakimi, menjadi pusat perhatian dalam pertandingan di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Sabtu (13/6/2026) itu. Vini membuat satu gol dan membuatnya seolah memenangkan duel pribadinya melawan Hakimi.

Pada laga ini, Pelatih Brasil Carlo Ancelotti memutuskan menempatkan Vini di posisi favoritnya sebagai penyerang sayap kiri. Sebagai penyerang tengah, ada Igor Thiago dan Raphinha melengkapi trisula serang di sayap kanan. Hakimi yang berposisi sebagai bek kanan menjadi palang pintu yang meladeni permainan Vini.

Namun, sebelum duel kedua pemain itu berkembang, Maroko lebih dulu mengejutkan Brasil lewat agresivitas permainan mereka. Ketimbang bertahan, ”Singa Atlas” berani menekan sejak awal pertandingan. Setelah dua peluang Neil El Aynaoui dan Hakimi gagal berbuah gol, keberanian Maroko menekan Brasil membuahkan hasil pada menit ke-21.

Lewat skema serangan balik, umpan terobosan Brahim Diaz berhasil mengelabui duet bek Gabriel dan Marquinhos dan dimanfaatkan Ismael Saibari menjadi gol. Bek kanan Brasil, Roger Ibanez, yang terlambat menutup gerak Saibari ikut andil memicu terciptanya gol tersebut.

Penyerang Maroko, Ismael Saibari, mencetak gol ke gawang Brasil pada laga penyisihan Grup C di Stadion MetLife, New Jersey, AS, Sabtu (13/6/2026).

Gol itu memicu kepercayaan diri Maroko untuk terus menyerang dan mengurung pertahanan Brasil.

Salah satunya peluang berbahaya datang lewat Hakimi yang rajin membantu serangan. Setelah melewati hadangan sejumlah pemain Brasil, Hakimi yang menusuk ke tengah dari sayap kanan melepaskan tendangan keras menyusur tanah yang sayangnya masih melebar di kanan tiang gawang Alisson.

Lini tengah Maroko yang dijaga Neil El Aynaoui, Ayyoub Bouaddi, dan Bilal El Khannouss juga mampu membuat para gelandang bertahan Brasil, utamanya Casemiro, yang sering kalah cepat saat mengejar bola kedua.

Casemiro bahkan mendapat kartu kuning pada menit ke-36. Ibanez yang kerap terlambat menutup pertahanan juga diganjar kartu kuning pada menit ke-42.

Namun, bukan Brasil jika mereka tidak mampu keluar dari tekanan lawan. Ketinggalan satu gol, ”Selecao” berusaha bermain lebih tenang. Mereka memperlambat tempo permainan dan mencoba menciptakan peluang melalui keajaiban individu para pemain sayapnya.

Vini yang selama lebih setengah jam tidak efektif, sehingga memberi keleluasaan pada Hakimi untuk maju menyerang, menunjukkan bakat istimewanya. Ini menunjukkan istilah yang menyebutkan ”penampilan itu sementara, tetapi kelas itu permanen”.

Setelah melakukan umpan satu dua dengan Bruno Guimaraes, Vini yang menguasai bola di sisi kanan kotak penalti Maroko berhasil mengecoh Hakimi yang terlambat menutup ruang geraknya.

Dengan sekali gocek, tembakan keras Vini meluncur deras ke sisi kiri gawang Maroko yang dijaga Yassine Bounou. Brasil menyamakan kedudukan, 10 menit setelah kebobolan. Gol tersebut menjadi momen Vini berhasil ”menghakimi” Hakimi.

Bek kanan Maroko, Achraf Hakimi, berebut bola dengan penyerang Brasil, Vinicius Junior, pada laga penyisihan Grup C Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, New Jersey, AS, Sabtu (13/4/2026).

Menjelang akhir babak pertama, pemain Real Madrid ini masih menebar ancaman. Hakimi bahkan terpaksa mengganjal Vini yang tengah berusaha melewatinya.

Vini merasa itu pelanggaran, tetapi wasit tidak menggubrisnya. Kekesalannya ditunjukkan dengan menghampiri wasit Slavko Vincic untuk memprotes keputusan tersebut selepas peluit panjang babak pertama.

Di babak kedua, Ancelotti mengganti Casemiro dan Ibanez dengan memasukkan Fabinho dan Danilo. ”Don Carletto”, julukan pelatih Italia itu, juga mengganti striker Thiago dan gelandang serang Lucas Paqueta dengan Matheus Cunha dan Luiz Henrique pada menit ke-60.

Pelatih Maroko Mohamed Ouahbi juga melakukan penggantian. Dia menarik Diaz dan Azzedine Ounahi dengan memasukkan Chemsdine Talbi dan Samir El Mourabet.

Lewat sejumlah pergantian itu, kedua tim masih bernafsu mencari gol tambahan. Hakimi masih agresif. Raphinha, sayap serang Barcelona, yang masuk di babak kedua juga ingin membuat gol. Namun, hingga laga berakhir, tidak ada tambahan gol.

Dari sisi statistik, pertandingan kedua tim layak berakhir imbang. Namun, Maroko sebenarnya unggul tipis dari sisi peluang mencetak gol yang ditunjukkan angka xG (expected goals) lebih tinggi, yakni 1,52 berbanding 1,27.

Dari sisi tembakan, Maroko juga lebih banyak melepaskan tembakan, 14 berbanding 13. Namun, Brasil lebih banyak membuat tembakan ke gawang, yaitu 5 berbanding 3. Tentu saja, Brasil punya Vini yang dinobatkan menjadi pemain terbaik di laga ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko Prihananto, dari New Jersey, Amerika Serikat
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan