PIALA DUNIA 2026

Brasil Vs Maroko, Sama Kuat dengan Cara Berbeda

Brasil dan Maroko menuntaskan laga perdana di Piala Dunia dengan hasil imbang, 1-1. Kedua negara juga sama kuat membangun sepak bola meski dengan cara berbeda.

14 Jun 2026 11:45 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Laga pembuka Grup C di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Sabtu (13/6/2026) atau Minggu (14/6/2026) WIB, antara Brasil dan Maroko berakhir imbang, 1-1. Namun, di luar hasil itu, pertemuan merela memperlihatkan karakter dua negara membangun sepak bola. Sama kuat tetapi caranya berbeda.

Brasil dianggap sebagai dinasti sepak bola dunia. Negara ini bahkan tidak akrab dengan sebutan generasi emas. Brasil terbukti tangguh meregenerasi pemain di setiap zaman.

Selalu ada pemain bagus muncul ketika nama senior dimakan usia. Saat Neymar (34) meredup, bintang Real Madrid, Vinicius Junior (25), telah meneruskan estafet. Bila nanti Marquinhos (32) tak lagi tangguh sebagai palang pintu, Lucas Beraldo (22), yang sama-sama memperkuat Paris Saint-Germain, siap meneruskannya.

Para pemain Brasil merayakan gol yang dicetak Vinicius Junior (7) dalam pertandingan Grup C Piala Dunia FIFA 2026 antara Brasil dan Maroko di New Jersey pada 13 Juni.

Hal itu tak lepas dari kekuatan Brasil membangun kerajaan sepak bola dari mana saja. Bakat-bakat besar muncul dari jalanan, klub kecil, hingga tim dengan sejarah panjang.

Mengutip data TipsGG, platform penyedia data dunia olahraga dan esports, hingga 5 Juni 2026, sebanyak 26 pemain tim nasional Brasil kali ini berasal dari 20 akademi yang berbeda.

Flamengo, misalnya, menelurkan Vinicius yang bernilai 140 juta pound sterling serta Lucas Paqueta dan Wesley yang keduanya bernilai total 222 juta pound sterling.

Morocco Brazil WCup Soccer

Santos mungkin hanya menghasilkan Neymar yang pernah menjadi pemain termahal dunia. Namun, dia menyumbang 79 dari 150 gol internasional yang dicetak secara kolektif oleh semua 26 pemain.

Ada juga Avai FC dari Florianopolis, sebuah klub yang sebagian besar tahun-tahun terakhirnya berada di divisi kedua, menemukan Gabriel Magalhaes (75 juta pound sterling) dan Raphinha (80 juta pound sterling).

Anton Malyutin, CEO Tips.GG, mengatakan, angka yang dicapai Avai patut diperhatikan. ”Brasil memiliki lebih banyak talenta daripada segelintir akademi yang biasanya menjadi fokus orang,” katanya.

Kiper Maroko Yassine Bounou mengontrol dalam laga Grup C Piala Dunia 2026 antara Brasil dan Maroko di Stadion MetLife, New Jersey, 13 Juni 2026.

Kekuatan baru

Maroko muncul sebagai kekuatan baru. Prestasinya tak terdengar hingga menembus semifinal Piala Dunia Qatar, pesta bola dunia yang digelar kedua kalinya di Asia.

Uniknya, berada di Benua Afrika, Maroko mendadak dicintai warga belahan Asia. Bangsa-bangsa itu selama ini dianggap sebagai kelas dua di dunia sepak bola karena minim prestasi di Piala Dunia.

Setelah itu, beragam prestasi berdatangan. Maroko adalah juara AFCON 2025 setelah Senegal dicabut gelarnya hingga juara Piala Dunia U-20 FIFA 2025.

APTOPIX Morocco Brazil WCup Soccer

Namun, itu tidak muncul tiba-tiba. Dikutip AFP, sebuah sumber yang dekat dengan Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko menjelaskan kesuksesan negara tersebut bertumpu pada tiga pilar, yaitu tata kelola yang baik, investasi keuangan, dan sumber daya manusia yang kompeten.

”Maroko berinvestasi besar membangun ribuan lapangan sepak bola lokal yang dapat diakses semua orang.”

Selain infrastruktur publik tersebut, Maroko membangun kompleks dan akademi Mohammed VI di Maamoura, tepat di luar Rabat. Dilengkapi dengan lapangan yang terawat sempurna, peralatan fisioterapi terbaru, dan hotel di lokasi, kompleks ini lebih lengkap dibandingkan pusat-pusat teknik terbaik di dunia sepak bola, termasuk Clairefontaine di Perancis.

Achraf Hakimi (2) dari Maroko berebut bola melawan Vinicius Junior (7) dari Brasil dalam laga Grup C Piala Dunia FIFA 2026di Stadion MetLife, New Jersey, 13 Juni 2026.

Akademi ini telah menghasilkan talenta-talenta top, termasuk beberapa pemain inti untuk tim senior putra. Beberapa pemain itu di antaranya Nayef Aguerd dari Olympique de Marseille, Azzedine Ounahi dari Girona, dan Youssef En-Nesyri dari Al-Ittihad.

Bagian penting lainnya ketika mereka berhasil membujuk pemain diaspora untuk membela tim nasional. Berkat perubahan aturan tersebut, Maroko berhasil mendapatkan jasa pemain seperti Hakim Ziyech, Nordin Amrabat, dan Brahim Diaz.

Morocco Brazil WCup Soccer

Kemenangan terbaru bahkan didapatkan Maroko lewat kedatangan Ayyoub Bouaddi. Pemain berusia 18 tahun ini, gelandang Lille, adalah salah satu pemain muda terbaik di Perancis. Sempat diminta masuk Perancis, ia tetap memilih Maroko.

”Saya sudah mengambil keputusan dan saya sangat bangga akan hal itu. Saya harap ini akan membawa banyak hal indah di masa depan. Rasanya lega telah membuat pilihan ini,” katanya dikutip dari Morroco World News.

Namun, perjalanan Maroko masih butuh diuji lebih panjang. Hingga kini, dada pemain timnas belum berhias bintang. Artinya, belum ada Piala Dunia yang mereka bawa pulang. Selain itu, regenerasi juga masih harus diuji karena sejarah sepak bola mereka belum sepanjang Brasil.

Brasil juga menyimpan kelemahan. Punya nama mentereng dan selalu diunggulkan jadi juara setiap Piala Dunia, “Selecao” terakhir mengangkat piala di tahun 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Andalan mereka kala itu, Ronaldo, kini sudah berusia 49 tahun.

Kedatangan Carlo Ancelotti tidak lain untuk mengembalikan masa jaya itu. Lebih dari itu, Ancelotti sangat dibutuhkan untuk meringankan beban di pundak pemain.

Ada ironi di sana. Brasil yang identik dengan sepak bola indah kini berharap pada sentuhan Ancelotti, pelatih dari Italia yang bahkan negaranya tidak lolos putaran final Piala Dunia 2026.

Jalan panjang

Kuat dan lemahnya kedua tim itu terlihat nyata saat bertemu di hari Minggu hadapan lebih dari 80.000 penonton. Menurut data Transfermarkt, Brasil tampil dengan para megabintangnya yang bernilai 9,15 triliun atau 23 kali lipat lebih besar dari timnas Indonesia. Pemain termahal mereka, Vini, bahkan mencetak gol di menit ke-32.

Maroko juga pamer kerja kerasnya membentuk pemain terbaik. Pemain akademi terbaik mereka seperti Nayef Aguerd, Azzedine Ounahi hingga Ayyoub Bouaddi dimainkan. Pencetak gol Ismael Saibari yang lahir di Spanyol bahkan mencetak gol di menit ke-21.

TOPSHOT - Brazil's forward #11 Raphinha sits on the ground during the 2026 World Cup Group C football match between Brazil and Morocco at the New York/New Jersey Stadium in East Rutherford on June 13, 2026. (Photo by TIMOTHY A. CLARY / AFP)

Akan tetapi, kelemahan itu juga terpampang. Tim “Samba” belum bisa keluar dari tekanan harus menang. Permainan mereka jauh dari tim mewah saat terkurung di babak pertama. Pose Raphinha yang duduk lesu saat wasit meniup peluit akhir seperti menggambarkan penyesalan Brasil di laga pertama.

“Saya berharap awal yang lebih baik,” kata Ancelotti.

Morocco Brazil WCup Soccer

Maroko juga tetap butuh perbaikan regenerasi. Kualitas antarpemain belum merata. Ketangguhan di babak pertama melempem di babak kedua. Contoh Achraf Hakimi yang merajalela di babak pertama, ternyata bisa “dijinakan” Vini di babak kedua.

Skor 1-1 jelas tidak bisa menentukan siapa yang terbaik. Yang pasti, perjalanan kedua negara di Piala Dunia masih panjang. Bahkan, titik akhir membangun sepak bola bisa jadi tidak akan pernah usai. Cara mereka berbeda tapi semoga sama-sama kuat membangun iklim sepak bola dunia. (AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan