BRICS Bersatu Hadapi Ancaman Tarif Trump

Perang dagang dan perang tarif tidak memiliki pemenang. Proteksionisme tidak akan menghasilkan apa-apa.

09 Jul 2025 11:30 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

BRASIL, RABU — Setelah mengirim ”surat cinta” kepada sejumlah negara berisi penetapan tarif impor, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menebar ”tekanan”. Kali ini ia mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen kepada negara-negara anggota BRICS. Alasannya sederhana, Trump menilai BRICS anti-Amerika.

Sikap Trump itu, sebagaimana diberitakan kantor berita Reuters, Rabu (9/7/2025), menuai keluhan dari Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva. ”Kami tidak akan menerima keluhan apa pun tentang Konferensi Tingkat Tinggi BRICS. Kami tidak setuju dengan pernyataan Presiden AS yang mengisyaratkan bahwa ia akan mengenakan tarif pada negara-negara BRICS,” kata Lula.

Lagi pula, sebagaimana banyak diketahui, BRICS memastikan, mereka tidak anti-Amerika. Di sisi lain, BRICS juga menegaskan, memilih bersatu menghadapi ancaman Trump.

Pada Selasa (8/7/2025), Times memberitakan, Presiden Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan bagi negara-negara yang mendukung kebijakan anti-Amerika dari kelompok BRICS.

Sejauh ini, Trump tidak pernah secara eksplisit menjelaskan apa yang dimaksud dengan kebijakan anti-Amerika tersebut. Namun, merunut ke belakang usai kemenangan Trump dalam pemilu presiden tahun lalu, Trump telah memperingatkan forum itu untuk tidak menciptakan mata uang BRICS atau mendukung mata uang lain untuk menggantikan dollar AS.

Tanggapan BRICS

Ancaman Trump sempat membayangi pertemuan para pemimpin negara anggota BRICS di Brasil awal pekan ini. Namun, ancaman itu justru mendorong para pemimpin BRICS bersikap tegas.

Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di akhir KTT BRICS di Rio de Janeiro pada Senin menyatakan tanggapannya.

”Dunia telah berubah. Kami tidak menginginkan seorang kaisar,” ujar Lula. ”(BRICS) ini adalah sekelompok negara yang ingin menemukan cara lain untuk mengelola dunia dari perspektif ekonomi. Saya pikir itulah sebabnya BRICS membuat orang-orang tidak nyaman,” imbuhnya.

Para pemimpin dan pejabat negara-negara anggota BRICS berpose untuk foto bersama selama KTT BRICS di Rio de Janeiro, Brasil, Minggu (6/7/2025). Tampak dari kiri ke kanan, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, Perdana Menteri India Narendra Modi, Perdana Menteri China Li Qiang, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed, Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi

Presiden Brasil bukanlah satu-satunya pemimpin BRICS yang menentang ancaman Trump. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov pada hari Senin membantah bahwa BRICS berupaya melemahkan negara lain. Peskov mengatakan, Kremlin mengetahui ancaman tarif terbaru Trump terkait kebijakan anti-Amerika.

”Kita memang telah melihat pernyataan seperti itu dari Presiden Trump. Namun, sangat penting untuk dicatat di sini bahwa keunikan kelompok seperti BRICS adalah bahwa mereka merupakan sekelompok negara yang memiliki pendekatan dan pandangan dunia yang sama tentang cara bekerja sama berdasarkan kepentingan mereka sendiri,” kata Peskov. ”Kerja sama di dalam BRICS ini tidak pernah, dan tidak akan pernah, ditujukan terhadap negara ketiga mana pun,” imbuh Peskov.

Kementerian Luar Negeri China turut bereaksi. Kemenlu China menyatakan, mereka menentang tarif yang digunakan sebagai alat untuk memaksa negara lain. ”China sudah sangat jelas tentang posisinya terkait kenaikan tarif AS. Perang dagang dan perang tarif tidak memiliki pemenang. Proteksionisme tidak akan menghasilkan apa-apa,” kata Juru Bicara Kemenlu China Mao Ning.

Beijing juga membela BRICS sebagai platform penting untuk kerja sama di antara pasar negara-negara berkembang. ”China menganjurkan keterbukaan, inklusivitas, dan kerja sama yang saling menguntungkan,” kata Mao. ”China tidak terlibat dalam konfrontasi kubu dan tidak menargetkan negara mana pun,” imbuh Mao Ning.

Juru Bicara Kementerian Perdagangan Afrika Selatan Kaamil Alli kepada Reuters mengatakan, Afsel masih menunggu komunikasi formal dari AS terkait kesepakatan perdagangan kami. ”Namun, percakapan kami tetap konstruktif dan bermanfaat. Seperti yang telah kami komunikasikan sebelumnya, kami tidak anti-Amerika.,” tegas Kaamil.

Pernyataan para pemimpin BRICS tersebut semakin memperkuat deklarasi bersama yang ditandatangani para pemimpin dari negara-negara pada hari Minggu lalu. Bahkan, mereka menegaskan, BRICS akan tetap bersatu dalam menghadapi ancaman Trump.

(AFP/Reuters)

Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu (6/7/2025).

Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan