Sejumlah pihak bergotong royong membantu warga di kawasan Wonogiri selatan untuk terbebas dari krisis air. Upaya itu pun berbuah manis. Warga kini berkelimpahan air.
08 Jan 2025 07:06 WIB · Nusantara
Selama puluhan tahun, warga Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, terbelenggu krisis air bersih. Warga kawasan selatan Wonogiri itu harus berjalan kaki hingga ke provinsi lain atau harus merogoh dalam-dalam koceknya demi mendapatkan air. Berkat gotong royong berbagai pihak, daerah itu kini berkelimpahan air.
Lardi (49), warga Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, masih belum lupa rasa sakit badannya tatkala harus berjalan kaki naik turun bukit sejauh 3 kilometer menuju Luweng Wuni di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Tempat itu merupakan lokasi sumber air bersih yang paling dekat dari rumah Lardi.
"Hampir setiap hari, dari tahun 2003 sampai 2014, saya berjalan kaki sambil memikul 20 liter air dari sana. Air 20 liter itu habis dalam sehari untuk makan-minum lima orang, mandi-cuci, dan minum ternak," kata Lardi saat ditemui di Gendayakan, Rabu (18/12/2024).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/22/ac97ebf2-7de5-42b7-9df2-da7a6ba4e372_jpg.jpg)
Supaya hemat, Lardi dan keluarganya harus mandi dalam ember besar. Air yang digunakan untuk membasahi tubuh sebelum memakai sabun ditampung untuk memberi minum ternak atau merendam cucian kotor.
Tak hanya sakit fisik, tak jarang, Lardi juga harus menanggung kekecewaan. Hal itu terjadi jika dirinya tidak kebagian air setelah berjalan kaki 3 kilometer dan harus pulang dengan tangan kosong. Sampai di rumah, ia masih harus melihat raut kekecewaan dari keluarga yang telah berjam-jam menunggunya penuh harap. "Kalau ingat itu semua, saya selalu menangis. Rasanya sakit sekali," ucapnya seraya menahan air yang menggenang di pelupuk matanya.
Akibatnya, Lardi terpaksa harus berutang hingga menjual ternaknya untuk membeli air.
Pada tahun 2014, truk-truk tangki yang berjualan air mulai masuk ke Desa Gendayakan. Kehadiran truk-truk tangki itu membuat Lardi dan warga lain di desa itu tak lagi harus bersusah-susah mencari air sampai ke wilayah lain. Namun, kemudahan itu tidak murah. Untuk bisa mendapatkan satu tangki air dengan volume 4.500 liter mereka harus membayar sebesar Rp 100.000.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/22/b018af98-54c8-44b9-abb3-7ad6fda72cf4_jpg.jpg)
Seiring berjalannya waktu, harga air terus naik hingga pada 2019 mencapai Rp 170.000 per tangki. Pada masa tertentu, seperti pada saat Lebaran, harganya melambung hingga Rp 250.000 per tangki.
"Kalau harganya mahal tapi tetap dapat air masih mending. Kadang-kadang kami tidak kebagian air karena truk-truk tangki yang kami pesan itu sudah dicegat sama orang lain sebelum masuk desa. Para sopir ditawari harga yang lebih tinggi, jadi mereka menurut saja, ikut sama yang mau membayar lebih tinggi," imbuh Lardi.
Lardi menuturkan, musim kemarau tahun 2019, merupakan masa-masa tersulit bagi dirinya dan warga lain di Gendayakan. Kala itu, kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya, yakni sekitar delapan bulan. Selama masa itu, Lardi harus membeli 21 tangki air untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/22/ac612e5d-2463-477c-a3bb-c6954547de46_jpg.jpg)
Pada saat yang sama, aktivitas pertanian di Desa Gendayakan terganggu karena hujan tak kunjung turun. Kondisi itu pun menyebabkan pendapatan Lardi yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani, seret. Akibatnya, Lardi terpaksa harus berutang hingga menjual ternaknya untuk membeli air.
Wilayah Desa Gendayakan terdiri dari tanah-tanah karst yang kering. Lahan di kawasan itu juga kurang subur karena terbentuk dari batuan kapur yang tak mudah menahan air. Vegetasi yang tumbuh di wilayah itu umumnya berakar dangkal sehingga membuat air tak tersimpan dalam tanah. Hal itu membuat upaya penggalian tanah di wilayah tersebut untuk mencari sumber air sering kali tak membuahkan hasil.
Tugiyo (62), warga Dusun Puring, Desa Gendayakan, mengatakan, dulunya, masyarakat di wilayah itu mengandalkan air hujan yang mereka tampung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika cadangan air tersebut habis, warga mencari air ke sejumlah telaga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/22/1be23845-50f9-4136-8e48-b522e66d98a7_jpg.jpg)
"Dulu, di Paranggupito cukup banyak telaga. Orang-orang tidak kesusahan meski tidak ada sumur karena bisa ambil air dari telaga. Tapi, sejak tahun 1990-an, telaga-telaga itu mulai mengering kemudian mati satu per satu. Sejak saat itu, warga mulai mencari air sampai ke luar daerah," ujar Tugiyo.
Tugiyo tak tahu persis mengapa air di telaga-telaga tersebut mengering. Ia menduga, hal itu terjadi akibat perubahan iklim.
Baru sekali dalam hidup saya menyaksikan orang melihat air seperti melihat emas. Pas keluar dari gua, kami dipeluk sama warga. Berulang kali mereka mengucapkan terima kasih.
Persoalan yang dihadapi warga Desa Gendayakan mengetuk hati banyak pihak, termasuk Syarif Rahmat, pimpinan Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka). Ulama dari Jawa Barat yang rutin mengadakan pengajian di Wonogiri itu tergerak untuk meringankan penderitaan warga Desa Gendayakan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/22/3f920df3-416a-4e12-9d22-31e83f3efb42_jpg.jpg)
Awalnya, Padasuka membantu dengan cara menyalurkan bantuan berupa air bersih dan bahan makanan untuk warga. Seiring berjalannya waktu, pengurus Padasuka menilai cara itu bukanlah solusi yang terbaik. Penyaluran bantuan air dianggap sebagai solusi sesaat. Padahal, masyarakat membutuhkan solusi permanen.
Syarif lalu mengutus Ketua Tim Tanggap Darurat Padasuka Mohammad Wiyanto ke Desa Gendayakan pada September 2019. Di wilayah itu, Wiyanto, yang akrab disapa Yayan, berkeliling mencari potensi sumber air kemudian menemukan satu gua yang belum pernah dijamah, yaitu Gua Jomblang Ngejring. Gua itu disebut warga berpotensi menyimpan air karena di sekitarnya terdapat tumbuhan hijau yang rimbun, termasuk tanaman pakis.
Yayan, yang merupakan alumni Mahasiswa Pecinta Alam Gapadri Institut Teknologi Nasional, Yogyakarta, lalu mendatangi para juniornya untuk meminta bantuan agar Gua Jomblang Ngejring dieksplorasi. Salah satu anggota Mapala Gapadri yang dimintai tolong kala itu adalah Romel Nofrianto (29). Tanpa pikir panjang, Romel menyanggupi kemudian berangkat ke Gendayakan bersama teman-temannya anggota Mapala Gapadri lainnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/23/d8973b23-2db8-4e99-841c-67701fee0aeb_jpg.jpg)
Romel menceritakan, proses eksplorasi di Gua Jomblang Ngejring tidaklah mudah. Gua vertikal itu disebut belum pernah dimasuki oleh siapapun sehingga tidak pernah ada yang benar-benar tahu medan di dalamnya. Di dalam gua dengan kedalaman sekitar 180 meter itu juga rawan terjadi batuan jatuh. Nyawa orang-orang yang masuk melakukan eksplorasi pun terancam.
"Dari eksplorasi itu baru diketahui bahwa ada sungai di dasar Gua Jomblang Ngejring. Sampel air dari sungai kemudian diuji laboratorium dan dinyatakan layak dikonsumsi. Selanjutnya, kami memikirkan cara mengangkat air itu ke permukaan," kata Romel.
Untuk bisa mengangkat air dari dasar gua, mereka memerlukan setidaknya dua pompa untuk menyedot air. Pompa pertama untuk menyedot air dari dasar gua ke titik penampungan air di tengah gua dan pompa kedua untuk memompa air dari penampungan air ke permukaan gua.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/23/ca847d39-4c91-454c-8251-e3d587f93352_jpg.jpg)
Selain pompa air, mereka juga membeli tandon-tandon untuk menampung air di tengah-tengah gua dan permukaan gua. Adapun pipa-pipa yang menjadi jalan air dari dasar gua ke permukaan juga dibutuhkan.
Penggalangan dana pun dilakukan oleh Padasuka, Mapala Gapadri, dan warga hingga akhirnya terkumpul uang sekitar Rp 15 juta. Uang itu lalu digunakan untuk membeli peralatan-peralatan dengan harga yang paling murah.
Upaya-upaya itu kemudian berbuah manis. Air dari Gua Jomblang Ngejring pun berhasil dialirkan ke permukaan pada 7 Oktober 2019 pagi. Tangis warga yang selama berhari-hari menunggu pun pecah. Mereka merasakan kebahagiaan yang tak terkira karena harapan untuk bisa bebas dari krisis air pun perlahan terwujud.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/23/a02a45d0-483b-4e3a-b994-dcb31179b4a8_jpg.jpg)
"Baru sekali dalam hidup saya menyaksikan orang melihat air seperti melihat emas. Pas keluar dari gua, kami dipeluk sama warga. Berulang kali mereka mengucapkan terima kasih. Sampai sekarang, saya masih merinding kalau disuruh cerita soal momen itu," tutur Romel.
Kebahagiaan yang dirasakan warga pun menular pada Romel. Segala pengorbanan dan perjuangan bertaruh nyawa yang ia lakoni bersama teman-temannya untuk mengangkat air dari dasar gua pun rasanya seperti terbayar lunas.
Tak berhenti sampai di situ, Romel masih terus membantu warga dalam hal pemeliharaan jaringan air, hingga saat ini. Saat musim kemarau, Romel yang sehari-hari tinggal di Sragen, Jateng, datang jauh-jauh ke Gendayakan setidaknya sekali dalam sebulan untuk melakukan pemeliharaan, seperti mengganti selang yang pecah tertimpa longsoran batu, memperbaiki pompa yang bermasalah, dan lain-lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/22/368e4668-61ba-4699-98ad-7015671ebfea_jpg.jpg)
Bantuan untuk warga Desa Gendayakan juga datang dari Djarum Foundation. Mulanya, mereka membantu pembiayaan dalam proses mengalirkan air ke permukaan. Kemudian, mereka juga membantu pembiayaan untuk melancarkan proses distribusi air dari penampungan di permukaan gua menuju titik-titik komunal di empat dusun, yakni Gendayakan, Ngejring, Blimbing, dan Pucung. Hal itu dilakukan untuk memudahkan warga supaya mereka tak perlu lagi mengambil air di penampungan air di gua yang memiliki medan cukup terjal.
Selain itu, pada Agustus 2023, Bakti Sosial Djarum Foundation melakukan peningkatan sistem distribusi air dengan meningkatkan kapasitas kelistrikan, kualitas pompa air, dan jaringan perpipaan. Pipa PVC yang sebelumnya dipakai untuk menyalurkan air dari dasar gua terbuat dari plastik sehingga memiliki risiko rusak yang tinggi ketika terkena runtuhan batu. Untuk itu, pipa-pipa dari dasar gua hingga permukaan diganti dengan pipa dari baja nirkarat yang lebih kuat terhadap benturan dari batu yang runtuh.
Air bersih ini mengalir ke 63 titik penampungan air komunal dan telah dirasakan manfaatnya oleh 1.894 warga Desa Gendayakan.
Tak hanya itu, Djarum Foundation juga memasang steel grating di bibir gua untuk melindungi gua dari runtuhan batu. Pemasangan steel grating juga dimaksudkan untuk menghalau benda-benda asing yang berpotensi masuk ke mulut gua dan mencemari sumber mata air.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/22/a1c95da7-782f-428c-b80a-6dbff6d895de_jpg.jpg)
"Setelah pipanya diganti pakai stainless steel dan ada steel grating atau sekitar setahun lebih, belum ada persoalan. Ini juga membuat proses pemeliharaan tidak perlu dilakukan sesering dulu," ucap Romel.
Pada Desember 2024, Bakti Sosial Djarum Foundation kembali membantu memperluas jaringan distribusi air dari yang awalnya di empat dusun, bertambah tujuh dusun menjadi sebelas dusun. Tujuh dusun yang mendapatkan saluran air di 24 titik komunal baru, yaitu Glagah Ombo, Bangampel, Sumur, Tlogo Kajang, Puring, Ngledok, dan Sidoasri.
"Dengan penambahan jaringan distribusi air bersih ini, seluruh dusun di Desa Gendayakan sudah mendapat akses air yang mengalir dengan kapasitas 129.600 liter per hari. Air bersih ini mengalir ke 63 titik penampungan air komunal dan telah dirasakan manfaatnya oleh 1.894 warga Desa Gendayakan," kata Deputy Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation Achmad Budiharto saat menghadiri Syukuran Penambahan Jaringan Distribusi Air Bersih Gua Jomblang Ngejring di Gendayakan, Kamis (19/12/2024).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/22/0834e931-cf7a-40b8-be4b-7ff309d9c2ec_jpg.jpg)
Penambahan jaringan ke tujuh dusun tersebut disyukuri Kasmi (57), warga Dusun Sidoasri. Dengan air dari Gua Jomblang Ngejring, ia jadi punya tambahan suplai air bersih. Sebelumnya, sejak tahun 2022, Kasmi mendapatkan suplai air dari perusahaan daerah air minum (PDAM).
"Air yang dari Jomblang, saya gunakan untuk makan dan minum. Kemudian, air PDAM untuk mandi dan mencuci. Sebelumnya, saya harus menyaring dan mengendapkan air dari PDAM sebelum memasaknya karena airnya berwarna putih dan berbau kaporit. Kalau air yang dari Jomblang ini bening, tidak berwarna maupun berbau, jadi lebih tenang kalau langsung dipolah untuk keperluan makan-minum," ucap Kasmi.
Setiap pagi, Kasmi mengambil air dari penampungan air komunal yang ada di depan rumahnya. Untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum keluarganya, Kasmi mengambil dua hingga tiga ember air. Ke depan, Kasmi berharap bisa ada pipa-pipa sambungan dari titik komunal, langsung ke rumah-rumah warga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/22/ef7fd606-6a62-4832-8d79-ff91120528a8_jpg.jpg)
Air dari Gua Jomblang Ngejring itu didistribusikan ke tempat Kasmi dan warga lain di tujuh dusun lainnya menggunakan jenis pipa High-Density Polyethylene atau HDPE, bantuan produsen pipa nasional, PT Pralon. Pipa-pipa itu berdaya tahan tinggi terhadap benturan dan resisten terhadap arus listrik.
Marketing Manager Pralon Kevin Kowinto menuturkan, pipa jenis HDPE sangat cocok digunakan di kontur wilayah Desa Gendayakan yang sebagian besar perbukitan berbatu gamping. Dengan teknologi terkini dan daya tahan yang unggul, pipa HDPE diharapkan dapat menjadi solusi yang tepat agar masyarakat dapat menikmati akses air bersih dengan aman dan tanpa kendala.
"Pada umumnya, pipa dalam proses distribusi air bersih berada di dalam tanah. Namun karena kontur yang unik dari seluruh dusun yang ada di desa ini, instalasi pipa ada yang harus diletakkan di atas tanah sehingga melewati jalan desa. Dengan ketahanannya, warga tidak perlu khawatir jika pipa bocor atau sengaja dirusak oleh orang tidak bertanggung jawab karena diperlukan teknik khusus untuk memotong pipa HDPE ini," ungkap Kevin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/22/d3792f1a-ebf7-447e-857d-93cf0e6d6943_jpg.jpg)
Selain dari pihak swasta, upaya gotong royong mengentaskan Desa Gendayakan dari krisis air juga dilakukan oleh pemerintah. Kepala Desa Gendayakan, Heri Sutopo mengatakan, pada 2020, Pemerintah Kabupaten Wonogiri mulai memberikan akses air secara gratis kepada masyarakat di Desa Gendayakan melalui PDAM. Program itu lantas disempurnakan pada 2022 dengan total cakupan air PDAM kepada sebanyak 506 keluarga atau seluruh keluarga di Desa Gendayakan.
"Ketersediaan air ini penting untuk mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih sehat. Selain itu, bantuan berupa akses air, baik dari Pemkab Wonogiri maupun dari Djarum Foundation ini juga bisa mengentaskan kemiskinan. Dulu, masyarakat sampai harus menjual asetnya untuk membeli air. Sekarang, semua itu bisa didapatkan secara gratis," ujar Heri.
Dengan akses terhadap air, masyarakat di Desa Gendayakan disebut Heri, juga memiliki kesempatan menumbuhkan maupun mengembangkan usaha mikro. Usaha pertanian dan peternakan masyarakat yang sempat terhambat oleh krisis air juga diharapkan bisa kembali dikembangkan.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Hamzirwan .Foto:
Raditya Helabumi JayakarnaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .