Masyarakat etnis Toraja kecewa pada komika Pandji Pragiwaksono yang menjadikan ritual rambu solo’ sebagai bahan lawakan. Ritual itu sesungguhnya bukan sekadar pesta.
03 Nov 2025 18:59 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
Nama komika Pandji Pragiwaksono tetiba ramai disebut-sebut dalam berbagai platform media sosial dan grup diskusi masyarakat etnis Toraja di Sulawesi Selatan. Isi percakapan tak lain ungkapan kekecewaan dan kemarahan warga atas lawakan Pandji yang dinilai melecehkan adat dan budaya masyarakat Toraja.
Salah satu unggahan di akun Instagram Pandji bahkan dipenuhi komentar berisi kecaman dan kekecewaan warganet atas lawakan itu. Kontennya beredar luas di media sosial dalam video berdurasi 1 menit 44 detik.
Dalam potongan video ini, Pandji menyinggung soal rambu solo’, tradisi pemakaman keluarga yang dinilai membuat banyak orang Toraja jatuh miskin. Dia menyebut orang Toraja kerap harus memaksakan diri menggelar pesta besar-besaran untuk keluarga yang meninggal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/25/21c2709b7b3e7145dafac634d2c31f4b-IMG20250825142521.jpg)
Dia juga menjadikan materi candaan tentang jenazah keluarga yang belum dimakamkan dan ditempatkan di dalam rumah, seperti di depan televisi atau ruang tamu, yang memberi kesan horor. Candaan ini disertai mimik dan gerak tubuh yang dinilai sangat melecehkan.
Tak pelak, masyarakat etnis Toraja jadi geram. Candaan itu dinilai keterlaluan. Pandji disebut tak memahami konteks adat dan budaya yang sudah sangat lekat dan masih dipegang teguh hingga kini.
Amson Padolo, Ketua Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia Kota Makassar, menyebut candaan ini sangat melukai masyarakat. ”Saya menganggap Pandji itu komika yang cerdas. Tapi, kenapa soal adat dan budaya harus dijadikan materi lawakan. Lagi pula, dia bawa materi itu tanpa memahami konteks dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” katanya, Senin (3/11/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/07/12/1f8bd5cd-a6a8-4cad-b35f-f0580aafd9d3_jpeg.jpg)
Amson menyebut, ritual rambu solo’ dalam tradisi masyarakat Toraja adalah bentuk penghormatan terakhir sekaligus memuliakan keluarga yang meninggal. Esensi acara ini ada pada memuliakan dan bentuk kasih, bukan pada pestanya.
”Pesta itu digelar sesuai kemampuan keluarga. Bahkan, jika keluarga tak mampu, maka kerabat dan keluarga lain akan turun tangan membantu. Ada solidaritas dan gotong royong dalam pelaksanaan rambu solo’,” ujarnya.
Perihal penempatan jenazah di dalam rumah sebelum acara digelar, Amson juga menyebut itu salah kaprah. Pada masyarakat Toraja, jenazah memang diawetkan dan disimpan di rumah hingga ada kesepakatan kapan acara rambu solo’ digelar. Namun, jenazah ditempatkan di dalam bilik khusus dan bukan diletakkan begitu saja seperti di ruang tamu, di depan televisi, atau di tempat lain.
Saya menganggap Pandji itu komika yang cerdas. Tapi, kenapa soal adat dan budaya harus dijadikan materi lawakan.
Ayub M Pongrekun, Ketua Umum Pemuda Toraja Indonesia, tak kalah kecewa dan geram. Dia menuntut permintaan maaf sekaligus klarifikasi Pandji.
”Tim hukum kami sedang menyiapkan materi somasi yang akan kami ajukan ke Pandji. Sembari menyusun somasi, kami menunggu itikad baiknya untuk meminta maaf. Jika nanti somasi kami juga tak ditanggapi, kami siapkan langkah hukum,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/12/30/ADC8A538-395B-49D7-9F9F-C5038CAD1898_1640827584.jpeg)
Dalam masyarakat Toraja, rambu solo’ adalah wujud kasih dan penghormatan kepada keluarga yang meninggal. Masyarakat Toraja percaya, pesta kematian yang digelar adalah cara memuliakan orang yang meninggal.
Dalam pesta ini, seluruh keluarga berkumpul. Selama beberapa hari pesta digelar dengan menyajikan makanan bagi para tamu dan keluarga yang datang. Babi, kerbau, ikan, ayam, apa pun disajikan sebagai bentuk penghargaan.
Biasanya dalam acara seperti ini, solidaritas antarkeluarga, kerabat, dan tetangga akan tampak. Mereka datang membawa babi, kerbau, bahan makanan, bahkan tenaga. Mereka menyisihkan waktu berhari-hari untuk membantu sekaligus menghibur yang punya hajat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/07/12/7c080100-a26b-4237-8a7f-0fe5b99ed3f3.jpeg)
Amson dan Ayub menyebut rambu solo’ yang sudah turun-temurun dilaksanakan masyarakat Toraja bukan sekadar pesta. Di balik pelaksanaan ritual ini, ada nilai solidaritas dan kesalehan sosial atau kepedulian kepada sesama.
”Tidak semua kerbau atau babi yang disiapkan akan disembelih. Sebagian biasanya disumbangkan ke gereja atau warga tak mampu di sekitar. Ada juga yang disumbangkan kepada komunitas atau masyarakat untuk dijual dan uangnya dipakai membuat jalan tani, jembatan, dan lainnya,” tutur Amson.
Beberapa waktu lalu, Sulaeman Miting, salah seorang pemangku adat Lembang Rinding Batu dengan wilayah Tongkonan Belo Langi’, menyebut, di luar pesta adat, rambu solo’ adalah pemersatu keluarga dan masyarakat. Di dalamnya ada toleransi.
”Seluruh keluarga dari mana pun, bahkan yang berbeda agama, akan berkumpul dan bersatu di setiap acara rambu solo’. Itulah mengapa biasanya keluarga yang meninggal akan disimpan hingga seluruh keluarga bisa berkumpul,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/08/14/4def8558-e94b-466a-afa8-41692f47d2ed_jpg.jpg)
Dalam acara rambu solo’, semua hadir dalam persaudaraan, tak peduli latar belakang atau agamanya, karena inilah momen keluarga berkumpul.
Kompas telah beberapa kali meliput perihal toleransi dalam ritual rambu solo’. Suatu ketika dalam acara rambu solo’ di Kecamatan Rantetayo, di antara ratusan keluarga yang hadir, ada Yunita Mintin yang berdiri menyambut tamu. Dia adalah cucu dari almarhum Paulina yang hari itu akan dimakamkan. Keberadaan Yunita cukup mencolok karena di antara jejeran keluarga, dia satu-satunya yang berhijab. Dia adalah satu dari beberapa keluarga Muslim yang hadir saat itu.
”Anak saya Islam, tapi bagi kami tak masalah. Dia tetap anak dan tetap menjadi bagian keluarga. Kami tak menyoal agama. Dalam acara rambu solo’, semua hadir dalam persaudaraan, tak peduli latar belakang atau agamanya, karena inilah momen keluarga berkumpul. Ini momen mempererat persaudaraan dan kekerabatan,” kata AS Tondok Mintin, ayah Paulina.
Dalam banyak pelaksanaan rambu solo’, bahkan wisatawan bisa ikut menyaksikan acara. Kerap disiapkan bilik khusus bagi turis untuk melihat upacara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/08/14/59d5e549-32d0-457d-94ed-5942baf75838_jpg.jpg)
Rambu solo’ tak hanya sekadar pesta, tapi juga menghidupkan ekonomi. Ritual ini menjadi salah satu yang paling diminati turis lokal hingga mancanegara. Sektor wisata dan tentu perputaran ekonomi menjadi hidup. Ritual ini tak bisa dipisahkan dengan tongkonan, rumah adat Toraja, yang juga menjadi simbol pemersatu.
Dengan kenyataan ini, tak heran masyarakat Toraja menjadi geram dan kecewa dengan Pandji. Bagi mereka, ritual mulia dan sarat makna ini tak sepantasnya menjadi bahan olok-olokan.
Penulis:
Reny Sri AyuEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti