Pasar takjil adalah liminalitas yang memberi peluang warga keluar sejenak dari rutinitas dan peran sosial sehari-hari. Energi positifnya melampaui puasa dan Lebaran.
06 Mar 2026 13:00 WIB · Kolom
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Bulan puasa dan pasar takjil. Terbayang di sore hari hamparan penganan siap dipilih dan dibawa pulang, yang meliriknya saja membuat kita menelan ludah. Awas kalap, semua yang tersaji amat meyakinkan sebagai menu layak beli dan siap santap.
Godaan pasar takjil dipastikan selalu ada di setiap Ramadhan tiba. Beberapa di antaranya telah menjadi legenda hidup, seperti di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Pasar musiman yang mulai ada sejak medio 1985 itu bertransformasi dari sekadar tempat jual-beli menjadi ekspresi sukacita banyak orang dari berbagai kalangan. Pasar takjil di Bendungan Hilir atau Benhil ini sah disebut bagian tak terpisahkan dari budaya pop Ibu Kota.
Fenomena Benhil ditemui hampir di semua kota di Indonesia. Layaknya festival bunga, pesta kostum, sampai ritual perang tomat di beberapa kota di Amerika Latin dan Eropa, pasar-pasar takjil berulang setiap tahun dengan warga sebagai penggerak utama. Trotoar, bahu jalan, halaman masjid, pojok gang serentak berubah fungsi sementara.
Selama sebulan penuh, kota merenegosiasi dirinya sendiri demi mewadahi rutinitas itu. Warga mengambil lebih banyak ruang kota yang pada bulan-bulan biasanya tidak pernah mereka klaim. Begitu waktu berbuka puasa berlalu dan Ramadhan usai, lapak-lapak itu menghilang. Kota kembali seperti semula, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Meskipun demikian, beberapa tahun terakhir, publik juga merasakan bahwa pasar takjil tidak seramai dulu. Peminat bisa dikatakan tidak berkurang, tetapi daya belinya yang melemah.
Tengok di sekitar kita. Para pedagang menyebut transaksi turun dibandingkan tahun lalu. Jalanan di sekitar lapak tidak semacet biasanya. Pembeli tetap ada saja yang datang, hanya saja tanpa antrean panjang atau kerumunan berlebihan.
Tren ini antara lain terdeteksi dalam riset Center of Reform on Economics (CORE) tahun 2025. Laporan CORE menyebut lonjakan belanja kebutuhan hingga pekan ketiga Ramadhan atau makin mendekati Idul Fitri tahun lalu adalah sebuah anomali. Tingkat konsumsi tak begitu banyak beranjak.
Bisa jadi ini terkait dengan data BPS yang mencatat populasi kelas menengah Indonesia menyusut dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024. Jumlah kelas menengah yang mengecil ini berpengaruh pada tingkat penjualan apa pun, termasuk menggerus tulang punggung pembeli takjil.
BPS tetap mencatat pengeluaran rumah tangga Indonesia meningkat 10–20 persen selama bulan puasa dibandingkan bulan-bulan biasa. Lonjakan itu terasa di pasar tradisional, warung, dan lapak takjil pinggir jalan. Akan tetapi, dideteksi juga bahwa jumlah pedagang terus bertambah setiap tahun, sedangkan daya belinya justru menyusut. Persaingan makin ketat, tetapi kantong makin longgar cenderung kosong.
Meski begitu, pasar takjil tidak hilang. Pasar ini tetap selalu akan muncul karena kehadirannya menambah napas bertahan hidup bagi para pedagang ataupun produsen aneka makanan. Bagi masyarakat, kehadirannya sedikit banyak menghibur tanpa menguras kantong dalam-dalam. Menerbitkan rasa senang lagi hangat, mengendurkan ketegangan di tengah impitan kondisi.
Victor Turner, dalam The Ritual Process: Structure and Anti-Structure (1969), memperkenalkan dua konsep yang rasanya tepat menjelaskan mengapa warga secara umum tak peduli latar belakang agama, ekonomi, hingga suku dan rasnya, menerima dan bergembira menyambut pasar takjil.
Hal pertama, menurut Turner, yaitu liminalitas atau suatu kondisi di antara dua keadaan, yang memberi peluang orang ataupun masyarakat keluar sejenak dari rutinitas dan peran sosial sehari-hari. Ramadhan adalah momen liminal itu. Bukan hari biasa, bukan hari libur biasa, tapi ada sesuatu di sana.
Dari kondisi liminal ini lahir apa yang Turner sebut sebagai communitas. Communitas diartikan sebagai rasa kesatuan yang melampaui hierarki sosial, di mana orang bertemu bukan sebagai atasan-bawahan atau tetangga yang tidak saling kenal, melainkan sebagai sesama yang berbagi momen menyenangkan bersama.
Hampir di semua pusat takjil, pembelinya bisa dipastikan bukan hanya yang beragama Islam dan yang berpuasa. Selama dua tahun terakhir, istilah war takjil melejit merujuk pada tren pekerja ataupun keluarga yang tidak berpuasa justru bersemangat ikut belanja takjil.
Mereka melihat dan merasakan ada sesuatu dalam keramaian itu yang menarik, yang membuat nyaman dan ada rasa memiliki. Aroma gorengan, suara pedagang memanggil, langkah kaki melambat, aktivitas melihat-lihat hingga rasa puas membungkus aneka kudapan. Semua itu adalah communitas dalam versi urban, khususnya di perkotaan Indonesia.
Bernadette Quinn, dalam riset terbarunya ”Understanding Urban Cultural Festivals as Social Infrastructure” (2025), memperluas pemahaman terori Turner. Ia berargumen bahwa festival urban, yang tumbuh dari akar keagamaan seperti pasar takjil, bukan sekadar tontonan sesaat yang bisa diukur dari jumlah pengunjung atau omzetnya. Festival adalah infrastruktur sosial, yaitu praktik sosial-budaya yang tertanam dan berkelanjutan. Peristiwa yang turut menopang kehidupan kota sepanjang tahun, jauh melampaui hari-hari festival itu sendiri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/f9296b3cbd2157504858d9fee32c22fb-DSC01539.jpeg)
Pasar takjil yang menjamur setiap bulan puasa adalah bagian dari infrastruktur sosial yang membuat kota tetap hidup sebagai komunitas. Quinn menyebut festival semacam ini membangun modal sosial yang bekerja jauh setelah festival berakhir.
Tetangga yang sebelumnya asing menjadi kenal, warga biasa ataupun pedagang kecil yang biasanya tersisih mendapat ruang untuk berusaha. Warga kota menemukan kembali dimensi kolektif dari kehidupan yang mereka jalani.
Kini, konsep yang sama diadopsi masuk ke dalam mal sampai restoran hotel berbintang. Namun, di lapak kaki lima yang tidak tertata rapi, sedikit kumuh, warga tetap menemukan pasar takjil otentik, hangat, enak di lidah ataupun kantong. Tempat di mana siapa saja bisa mengaksesnya.
Memang, selalu saja ada kritik terkait meningkatnya konsumsi selama bulan puasa. Ramadhan mengajarkan menahan diri dari segala hal, tapi mengapa nafsu belanja justru dibiarkan menggelora. THR habis untuk mudik dan belanja, termasuk di pasar takjil. Beberapa ahli melihat upaya komodifikasi fenomena yang lahir dari rakyat menjadi yang semakin konsumtif.
Kritik itu sah saja dan sebagian dari pendapat tersebut mungkin benar. Akan tetapi, coba sekali lagi melihat ke sekeliling kita sendiri. Bagi sebagian orang, momentum puasa adalah masa mencoba peruntungan. Berdagang makanan untuk berbuka puasa adalah salah satu peluang untuk merintis usaha sendiri, mencoba mencari pintu rezeki.
Di sisi pembeli, ada yang tidak bisa direduksi semata sebagai perilaku konsumtif. Ikut antre mendapatkan kolak di lapak kaki lima di Blok M, Jakarta Selatan, yang tengah viral, misalnya, bukan sekedar karena tertular “virus” fear of missing out (FOMO). Namun, ketika bersua banyak orang, adrenalin terpompa saat berjuang mendapat jatah kolak, rasa senang dan bahagia muncul. Itu bukti bahwa manusia butuh perayaan bersama dan hal tersebut punya nilai yang tidak selalu bisa diukur dengan rupiah.
Kala kelas menengah yang jumlahnya menyusut, harga kebutuhan sehari-hari naik, ketidakpastian terasa di mana-mana, pasar takjil ikut memompa optimisme. Ada sesuatu di luar kalkulasi untung-rugi yang mendorong manusia untuk berbagi dan merayakannya bersama orang lain, di ruang terbuka, di bawah langit yang sama. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan di supermarket atau dipesan lewat aplikasi.
Fenomena pasar takjil yang telah menjadi bagian dari kultur pop urban terbukti melampaui hierarki dan menebar energi positif. Rasanya tak sabar menunggu sore.
Penulis:
Neli TrianaEditor:
Gesit Ariyanto