Juara bertahan Filipina biasanya selalu menghantui timnas basket Indonesia di setiap edisi SEA Games. Namun, kali ini, bukan mereka ketakutan terbesar bagi timnas.
07 Des 2025 07:03 WIB · Olahraga
KOMPAS/KELVIN HIANUSA
Sekitar sepekan menjelang laga pembuka cabang olahraga bola basket di SEA Games Thailand 2025, beberapa negara mulai mengumumkan daftar skuad mereka. Filipina, tim juara bertahan sekaligus langganan peraih emas dalam ajang dua tahunan itu, menjadi salah satu yang paling awal menentukan 12 nama pemain.
Skuad Filipina masih tampak mentereng dengan nama besar, seperti Bobby Ray Parks Jr (32) yang sudah meraih tiga emas SEA Games. Namun, itu bukan skuad terbaik mereka. Tidak satu pun pemain dari tim juara di edisi Kamboja 2023 yang datang ke Thailand. Semua itu akibat larangan pemain naturalisasi dari tuan rumah.
”Setelah proses bolak-balik yang melelahkan akibat aturan kelayakan pemain yang awalnya tidak jelas dan terus berubah, kami telah menyerahkan daftar (pemain) ini kepada panitia penyelenggara lokal dan telah melalui proses verifikasi serta pra-persetujuan,” ujar Federasi Bola Basket Filipina (SBP) lewat pernyataan resmi.
SEA Games kali ini berbanding terbalik dengan edisi sebelumnya. Di Kamboja tidak ada batasan dalam penggunaan pemain naturalisasi. Tim Kamboja bahkan sempat dijuluki ”skuad cadangan Amerika Serikat” karena begitu banyak pemain naturalisasi. Di Thailand, pemain yang berganti paspor setelah berusia 16 tahun dilarang ikut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/16/8f6bb7ab94391246a499aa66a99a5914-DSCF4673.jpg)
Itulah keistimewaan SEA Games. Tuan rumah punya kewenangan menentukan aturan. Thailand yang berburu emas pertama di bola basket mencari celah aturan yang bisa menguntungkan. Kebetulan, mereka memiliki beberapa pemain berdarah campuran yang dihitung kategori ”lokal” oleh FIBA, seperti Freddie Lish dan Moses Morgan.
Saat Thailand bisa menurunkan skuad terbaik, para pesaing terpincang-pincang. Indonesia, peraih emas edisi Vietnam 2021, misalnya. Tim ”Merah Putih” hanya bisa menggunakan satu pemain naturalisasi, yaitu Dame Diagne. Dame berpindah kewarganegaraan, dari semula Senegal, sejak berusia 15 tahun.
Aturan di Thailand juga berbeda dari versi FIBA. Dalam ajang FIBA, setiap tim boleh diperkuat satu pemain naturalisasi. Tidak ada aturan batasan usia saat perpindahan kewarganegaraan sang pebasket. Jika aturan itu yang dipakai, Indonesia memiliki lebih banyak pilihan pemain naturalisasi, antara lain Jerome Beane Jr dan Lester Prosper.
Kenyataannya tidak begitu. Indonesia kini harus bertumpu pada para pemain lokal, dari Abraham Damar Grahita hingga Andakara Prastawa. Dame berstatus naturalisasi, tetapi dia lebih sering menjadi pelengkap dari bangku cadangan. Tidak seperti Beane dan Prosper yang memimpin timnas pada edisi sebelumnya.
Meraih emas di Thailand tentu sangat sulit. Bukan tidak mungkin, kami akan mencoba semaksimal mungkin untuk mencapai yang terbaik.
Pelatih Timnas Basket Indonesia David Singleton berkata, situasi di SEA Games sangat menguntungkan tuan rumah. ”Thailand adalah tim terkuat di antara para peserta. Skuad mereka sangat lengkap. Mereka akan menjadi lawan tersulit untuk kami. Baru setelah itu, Filipina patut diwaspadai,” ujarnya di Jakarta, Jumat (5/12/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/16/ed3d01501dfcd2121f91667661e0f4c9-cropped_image.jpg)
Di Kamboja, Indonesia dan Thailand pernah saling mengalahkan. Indonesia menang dalam laga terakhir babak grup, sedangkan Thailand membalaskan dendam dalam partai perebutan perunggu. Situasi nanti akan jauh berbeda karena tuan rumah turun dengan skuad yang sama kuat, sedangkan timnas kehilangan senjata terkuat.
Karena itu, Singleton mencoba lebih realistis dengan target timnas. ”Meraih emas di Thailand tentu sangat sulit. Bukan tidak mungkin, kami akan mencoba semaksimal mungkin untuk mencapai yang terbaik. Tetapi, jika ingin realistis, target utama kami adalah bisa meraih medali (apa pun),” ucap pelatih asal Amerika Serikat itu.
Singleton baru saja ditunjuk sebagai pelatih kepala timnas pada pertengahan tahun ini. Waktu persiapannya terbilang singkat untuk menghasilkan formula terbaik di SEA Games, apalagi tanpa laga resmi yang dihadapi sejauh ini. Adapun sang pelatih baru akan menjalani debutnya di Thailand.
Persiapan intens selama tiga bulan terakhir dipercaya jadi modal besar bagi timnas. Tim asuhan Singleton menjalani pemusatan latihan dan uji coba di Australia. Mereka berlatih dan sparing dengan para pebasket yang lebih berkualitas. Abraham dan rekan-rekan ditempa agar lebih menyatu dalam sistem sang pelatih.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/05/22/c368f9aa-e0c6-4c24-a47d-f09cf7c0d70a_jpg.jpg)
Kabar baik untuk timnas, forward bintang Derrick Michael Xzavierro dipastikan bisa masuk skuad. Terakhir kali Derrick bermain di SEA Games, edisi 2021, Indonesia berhasil meraih emas pertama dalam sejarah keikutsertaan. Belakangan ini, Derrick jarang dipanggil timnas karena sedang fokus mengembangkan diri di AS.
Tantangan terbesar timnas sudah hadir sejak awal turnamen. Mereka berada satu grup dengan Myamnar, Singapura, dan Thailand. Hanya satu tim yang berhak lolos langsung ke semifinal. Adapun tim peringkat kedua dan ketiga di grup masih harus melewati satu laga lagi untuk lolos ke semifinal.
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Kelvin Hianusa, Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto