Bukan Pasta Gigi, Atasi  Gas Air Mata dengan Air Mengalir

Penggunaan pasta gigi tidak efektif untuk mengatasi paparan gas air mata. Cara yang lebih tepat, membasuhnya dengan air mengalir serta jauhi sumber paparan.

30 Agt 2025 17:16 WIB · Kesehatan

Oleh Deonisia Arlinta

JAKARTA, KOMPAS — Paparan gas air mata dapat menimbulkan efek samping yang tidak nyaman berupa iritasi pada bagian mata, hidung, mulut, dan kulit. Untuk mengatasi dampak tersebut, pastikan segera menjauhi area yang tinggi kandungan gas air mata serta cuci wajah dengan air mengalir.

Dokter spesialis penyakit dalam yang juga staf pengajar di Divisi Respirologi dan Penyakit Kritis Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Hadiki Habib, mengatakan, jika terkena paparan gas air mata, pastikan untuk segera menjauhi area yang tinggi paparan gas air mata. Lebih baik segera mencari area yang terbuka.

Ia menuturkan bahwa penggunaan pasta gigi yang seringkali digunakan untuk menghalau dampak gas air mata sebenarnya tidak terlalu efektif. ”Pasta gigi tidak efektif mencegah dampak gas air mata. Apabila terpapar, perlu ada irigasi mata dengan air bersih mengalir,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (30/8/2025).

Hadiki mengungkapkan, apabila terpapar gas air mata, sebaiknya segera mencari tempat terbuka yang tidak ada paparan gas air mata. Setelah itu cuci wajah dan mata dengan air bersih yang mengalir. Hindari pula untuk menggosok bagian mata.

Quote

Pasta gigi tidak efektif mencegah dampak gas air mata. Apabila terpapar, perlu ada irigasi mata dengan air bersih mengalir.

Paparan gas air mata dapat menimbulkan berbagai dampak bagi tubuh. Itu mulai dari iritasi pada area mukosa akibat uap gas air mata yang menimbulkan mata merah, nyeri, hidung meler, hidung tersumbat, sesak napas, batuk, mual, dan muntah.

Dampak yang lebih buruk bisa sampai menyebabkan iritasi pada saluran napas berat yang dapat menimbulkan sesak napas berat hingga pingsan atau kehilangan kesadaran akibat kekurangan oksigen.

Kandungan gas air mata

Dikutip dalam laman Universitas Airlangga, pakar toksikologi yang juga dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Shoim Hidayat, menyampaikan, dalam gas air mata biasanya mengandung senyawa-senyawa kimia, antara lain chlorobenzylidene malononitrile (CS), diphenylamine chloroarsine (DM), dibenzoxazepine (CR), chloroacetophenone (CN), serta semprotan merica atau ekstrak minyak cabai (oleoresin capsicum).

Petugas kepolisian mengoleskan pasta gigi di bawah pelipis matanya untuk mengurangi rasa pedih akibat paparan gas air mata saat terjadi unjuk rasa menolak Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang telah disahkan menjadi Undang-Undang oleh DPR RI di kawasan Patung Kuda, Gambir, Jakarta, Selasa (13/10/2020). Pihak DPR menyampaikan bahwa draf omnibus law RUU Cipta Kerja setebal 812 halaman yang telah disetujui pada rapat paripurna minggu lalu itu akan diserahkan kepada Presiden Joko Widodo pada Rabu (14/10/2020).Kompas/Wawan H Prabowo

Senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam gas air mata tersebut memiliki sifat dasar iritan yang kuat. Karena itu, senyawa ini mudah menyebabkan iritasi dan merangsang bagian mukosa atau selaput lendir di dalam organ tubuh manusia, seperti sklera pada mata, saluran pernapasan, dan saluran pencernaan.

Tingkat keparahan atau efek dari paparan gas air mata akan sangat bergantung pada tingkat konsentrasi dan durasi dari paparan. Selain itu, semakin lama durasi paparan gas air mata yang ditembakkan, efek yang ditimbulkan bisa semakin parah.

“Jadi, kalau kadarnya itu rendah dan sebentar, efeknya akan terasa sekitar 20 detik dan hilang sekitar 30 menit sampai 1 jam. Tapi, kalau parah, itu akan terjadi komplikasi, dan itulah yang akan mengakibatkan kematian dan sebagainya,” tuturnya.

Dihubungi secara terpisah, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Zullies Ikawati menjelaskan, gas air mata sebenarnya bukan benar-benar gas. Senyawa yang terkandung dalam gas air mata berbentuk aerosol. Ia pun menyarankan agar orang yang terpapar gas air mata untuk segera menjauh dari sumber paparan.

Sangat disarankan untuk mencuci wajah dengan air mengalir atau bisa menggunakan larutan saline atau larutan garam NaCl. Pastikan juga untuk melepas atau mengganti pakaian yang telah terkontaminasi.

”Bila gejala sampai berat, seperti sesak napas, perlu segera mendapatkan pertolongan medis,” tuturnya.

infografik Komposisi Utama Serbuk dari Gas Air Mata

Zullies menambahkan, penggunaan gas air mata yang kedaluwarsa harus dihindari. Gas air mata yang kedaluwarsa sangat berbahaya karena zat aktif di dalamnya bisa terurai menjadi senyawa toksik atau beracun lain. Tabung dari gas tersebut juga berisiko meledak.

Efek kesehatan yang terjadi dari paparan gas air mata kedaluwarsa bisa lebih buruk dibandingkan dengan produk yang masih layak guna. Ia juga tidak menyarankan untuk menggunakan pasta gigi untuk menangkal paparan gas air mata.

”Pasta gigi tidak menetralkan zat kimia pada gas air mata. Justru bisa menambah iritasi pada kulit dan mata,” ucap Zullies.


Kerabat Kerja

Penulis:

Deonisia Arlinta
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto