Indonesia memburu kemenangan pertama atas Bulgaria dalam pertemuan keempat sejak 1957. John Herdman siapkan perubahan susunan 11 utama dibandingkan laga pertama.
29 Mar 2026 18:38 WIB · Olahraga
ANTARA FOTO
JAKARTA, KOMPAS — Jika Saint Kitts dan Nevis ibarat kesempatan tim nasional Indonesia melatih taktik dan pendekatan permainan anyar bersama John Herdman, duel final FIFA Series 2026 kontra Bulgaria, Senin (30/3/2026), pukul 20.00 WIB, ialah pertandingan yang sebenarnya bagi skuad ”Garuda”. Laga nanti adalah pertemuan pertama kedua tim sejak lebih dari 50 tahun.
Suporter Indonesia bisa tersenyum menyambut kemenangan empat gol dan nirbobol menghadapi Saint Kitts dan Nevis. Hal itu berpeluang kian memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada laga kedua. Setidaknya, melebihi 26.703 pasang mata yang datang langsung, Jumat (27/3/2026).
Tentu, Jay Idzes dan kawan-kawan tidak akan menang dengan skor mutlak. Raihan positif dengan skor tipis sudah patut dirayakan merujuk kualitas Bulgaria yang berada di peringkat 90 besar dunia. Mereka juga rutin menghadapi tiga kekuatan sepak bola Eropa, yakni Spanyol, Turki, dan Georgia, selama tahun 2025 pada kualifikasi Piala Dunia 2026.
Merujuk aturan FIFA Series, apabila pertandingan berakhir imbang hingga 90 menit, penentu kemenangan akan dijalani melalui babak adu penalti. Itu artinya laga nanti adalah kesempatan Indonesia untuk mengakhiri catatan buruk dalam tiga duel sebelumnya menghadapi Bulgaria.
”Terlepas dari gim pertama, masih banyak hal yang harus dibenahi. Kami juga harus tetap rendah hati. Sebab, kami masih dalam tahap awal dalam pembentukan tim,” ucap Pelatih Indonesia John Herdman setelah sesi latihan resmi, Minggu (29/3/2026) sore, di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/27/afca755b-46fa-4500-b39c-71fd10ad5ccb.jpg)
Ia menambahkan, ”Bulgaria adalah tim yang bagus. Mereka lebih kuat secara taktik, secara individu lebih berkualitas, dan memiliki tim yang terorganisasi dengan sangat baik. Kami tidak boleh lengah. Sebab, jika kebobolan lebih dulu, akan sulit bagi kami.”
Hubungan sepak bola Indonesia dengan Bulgaria sudah dimulai sejak awal dekade 1950-an. Pada periode itu, Bulgaria adalah tim Eropa kedua yang pernah menyambut undangan laga uji coba Indonesia. Setelah Yugoslavia mengirimkan tim pelapis pada Januari 1956, Bulgaria membentuk gabungan pemain senior dan yunior dalam tim Bulgaria XI menyambangi Jakarta untuk menjalani turnamen segitiga, Desember 1957.
Satu tim lain ikut serta dalam turnamen mini itu ialah SC Wacker, klub asal Austria. Indonesia tumbang 0-2 pada pertemuan pertama menghadapi Bulgaria. Duel itu berlangsung di Lapangan Ikada yang kini telah menjadi kawasan Monumen Nasional (Monas).
Kemudian, Januari 1959, Bulgaria XI kembali menjalani laga uji coba di Jakarta. Saat itu, pertandingan berakhir remis tanpa gol. Terakhir kali Bulgaria tampil di Jakarta—sudah di SUGBK—tercipta pada gim ekshibisi pada Februari 1973. Tim berjuluk ”Lavovete” kembali mampu menerkam Garuda dengan skor mutlak 4-0.
Kondisi itu ingin dibenahi oleh Herdman. Apalagi, Indonesia juga memiliki kualitas pemain yang berkembang di liga-liga top Eropa, seperti Liga Italia, Liga Jerman, dan Liga Perancis. Sebaliknya, Bulgaria hanya dihuni dua pemain yang berkarier di Italia, yaitu Rosen Bozhinov (Pisa) dan Petko Hristov (Spezia).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/29/f9e6b6f1a213b06dc8eea0bf04880726-20260329YGA05.jpg)
Dengan jejak historis itu, Herdman berharap bisa memberikan sejarah bagi timnas Indonesia. ”Kami berambisi memberikan kemenangan pertama dalam sejarah Indonesia menghadapi tim Eropa,” kata Herdman yang berasal dari Inggris.
Bek sayap kanan, Kevin Diks, sepakat dengan sang pelatih. ”Bulgaria adalah tantangan yang besar bagi kami. Kesempatan bagi kami untuk membuktikan diri menghadapi tim Eropa,” ujar Diks.
Di sela mengamati latihan tim, Ketua Badan Tim Nasional PSSI Sumardji mengakui, laga menghadapi Bulgaria akan berjalan sulit bagi skuad Garuda.
”Saya berharap kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menikmati saja pertandingan melawan Bulgaria. Meski begitu, kami akan berjuang untuk meraih hasil positif dan meraih juara FIFA Series ini,” ucap Sumardji.
Dari analisis yang dilakukan tim staf Indonesia, Herdman menyebut, anak asuhannya harus disiplin dan konsisten menjalani rencana taktik sejak menit pertama. Hal itu tidak hanya meliputi dalam situasi pertandingan—dengan dan tanpa bola—melainkan pula pada situasi bola mati. Dalam situasi bola mati, misalnya, pelatih bola mati Andrej Kostolansky selalu berdiri untuk memberikan instruksi.
”Pemain harus membenahi kohesi taktik. Saya rasa kami bermain baik di gim pertama. Akan tetapi, pada 15 menit awal, mereka bermain sendiri. Jika itu tercipta menghadapi Bulgaria, kami akan menderita,” kata Herdman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/29/40b69d4dbd413636e72453b18ad1cf0f-20260329YGA18.jpg)
Ia melanjutkan, ”Turnamen (FIFA Series) ini penting bagi pemain untuk menunjukkan komitmen pada cetak biru rencana permainan sejak menit awal. Kami harus lebih kuat dan siap secara mental sejak awal gim.”
Dalam hal taktik, Herdman berpeluang melakukan sejumlah perubahan dalam susunan 11 pertama dibandingkan gim pertama. Di bawah mistar, Emil Audero berpeluang besar diturunkan untuk mengganti peran Maarten Paes yang bermain penuh kontra Saint Kitts dan Nevis.
Keempat kiper Indonesia berlatih dibagi dua kelompok pada sesi latihan resmi menjelang laga, Minggu (29/3/2026) sore, di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta. Emil dan Nadeo Argawinata dibimbing Kostolansky, sedangkan Maarten Paes dan Cahya Supriadi dibimbing asisten pelatih kiper, Damian van Rensburg.
Indikasi Audero tampil sejak menit awal terlihat karena diasuh Kostolansky dan berlatih di gawang utama yang berada di sisi lapangan. Kondisi itu dijalani Paes pada sesi latihan resmi sehari sebelum duel pertama.
Di posisi bek tengah, kans Justin Hubner juga cukup besar untuk tampil sejak sepak mula. Perubahan juga berpeluang hadir di sisi sayap, terutama demi memberikan kesempatan tampil kepada Nathan Tjoe-A-On yang merupakan satu-satunya pemain outfield yang tidak bermain di laga pertama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/29/b6d30ee6d4a799fdb1d6de8299cd1221-cropped_image.jpg)
Di pos penyerang, Mauro Zijlstra dipastikan tidak bisa tampil akibat cedera lutut yang membuatnya belum tampil prima sejak bergabung dengan Persija, Februari lalu, serta kambuh pada gim kontra Saint Kitts dan Nevis. Tempatnya digantikan oleh penyerang Bali United, Jens Raven, yang masuk dalam daftar 41 nama skuad sementara.
Raven pun telah bergabung latihan dengan 22 rekannya pada sesi latihan Minggu sore. Adapun Zijlstra berlatih ringan individu di sisi lapangan. Ia mengenakan sepatu olahraga biasa, bukan sepatu sepak bola.
”Mauro (Zijlstra) mengalami cedera grade dua, jadi pulih dua hingga tiga bulan. Raven dipilih karena berposisi sama di posisi penyerang,” kata Sumardji.
Sementara itu, Pelatih Bulgaria Aleksandar Dimitrov mengakui, banyak hal yang masih perlu dibenahi anak asuhannya meski mencatatkan salah satu kemenangan terbesar dalam sejarah dengan membungkam Kepulauan Solomon 10-2. Ia berharap timnya bisa kembali tampil lebih dominan atas lawan dalam penguasaan bola dan kreasi peluang.
”Setelah melakukan pemulihan dan mengamati laga Indonesia, kami sudah mempersiapkan diri untuk membenahi pekerjaan rumah kami demi tampil dengan performa meningkat di laga kedua,” ucap Dimitrov.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto