Bersiap untuk Bumi yang Akan Lebih Panas

Suhu global rata-rata akan meningkat antara 1,3 dan 1,9 derajat celsius di atas suhu rata-rata level praindustri dalam lima tahun ke depan.

30 Mei 2026 09:00 WIB · Internasional

AFP / PABLO COZZAGLIO

Oleh Helena Fransisca Nababan

Bila sekarang kita sudah kerap merasa suhu udara terlalu panas, kita perlu bersiap suhu udara di waktu mendatang masih akan sepanas ini, bahkan lebih panas. Dalam lima tahun ke depan, suhu rata-rata global diprediksi akan terus berada pada atau mendekati rekor tertinggi.

Sementara itu, anomali suhu di Kutub Utara atau Arktik diproyeksikan terus berlanjut. Suhu di wilayah itu akan memanas lebih cepat dibandingkan wilayah lain di Bumi.

Demikian terungkap dalam laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Kantor Meteorologi Inggris (UK Met Office) yang diterbitkan pada Kamis (28/5/2026). Proyeksi itu menegaskan bahwa tren pemanasan global jangka panjang masih terus berlanjut.

WMO memproyeksikan, setiap tahun antara tahun 2026 dan 2030, akan terjadi kenaikan suhu antara 1,3 derajat celsius dan 1,9 derajat celsius di atas suhu rata-rata level praindustri atau pada periode 1850-1900.

Laporan WMO tersebut menyebutkan terdapat peluang 75 persen di mana suhu global rata-rata antara tahun 2026 dan 2030, akan melebihi 1,5 derajat celsius di atas suhu global rata-rata pada masa praindustri.

Ambang 1,5 derajat celsius merupakan batas pemanasan global yang disepakati. Ambang itu dihitung dari hasil rata-rata suhu global selama 20 tahun. Ambang batas kenaikan suhu itu ditetapkan pada 2015 dalam perjanjian iklim Paris.

Terdapat pula kemungkinan 86 persen di mana satu tahun di antara tahun 2026 dan 2030 menjadi tahun paling panas. Suhu panas di satu tahun itu akan melebihi suhu panas di tahun 2024 yang tercatat sebagai tahun terpanas yang pernah terjadi. Bisa jadi suhu di satu tahun itu akan memecahkan rekor suhu di tahun 2024 itu.

Jika rata-rata suhu global dalam lima tahun ke depan lebih dari 1,5 derajat celsius sejak zaman praindustri, merujuk The Associated Press (AP), maka itu berarti Bumi akan menghangat seperempat derajat celsius dalam satu dekade.

Hal ini berarti terjadi laju pemanasan Bumi yang lebih cepat daripada laju pemanasan sebelumnya. Laju pemanasan sebelumnya mendekati dua persepuluh derajat celsius per dekade.

Pedestrians walk through the streets of Toulouse with an umbrella to protect themselves from the sun, on May 27, 2026, in Toulouse, southwestern France. The UN climate chief said on May 27, 2026 that a record-breaking early heatwave scorching a swathe of western Europe was "a brutal reminder of the spiraling impacts of the climate crisis". The UK and France have reported their hottest ever May days this week as a "heat dome" brought sizzling temperatures more typical of midsummer to western Europe. (Photo by Lionel BONAVENTURE / AFP)

Dampak kenaikan suhu

AP dengan merujuk laporan PBB menyebutkan, bila suhu global rata-rata melebihi angka 1,5 derajat celsius, maka terdapat kemungkinan besar akan terjadi kematian, bahaya, dan hilangnya spesies. Meskipun kenaikan suhu itu hanya beberapa persepuluh derajat, beberapa ekosistem di Bumi seperti terumbu karang dan gletser tidak dapat menahan tekanan suhu panas.

Melissa Seabrook, ilmuwan iklim pada Kantor Meteorologi Inggris (UK Met Office) dan juga salah satu penulis laporan mengatakan, ”Setiap kenaikan 0,1 derajat memiliki dampak yang semakin parah.”

Sementara Friederike Otto, ilmuwan iklim pada Imperial College of London mengatakan, ”Satu tahun penuh atau lebih di atas angka 1,5 derajat celsius berarti serangkaian peristiwa cuaca ekstrem, mungkin banyak yang sangat panas atau basah atau kering sehingga melebihi apa pun yang pernah kita alami di masa lalu.”

Artinya, bisa jadi melebihi hal-hal yang telah diantisipasi oleh perencanaan kota, pertanian, dan lain-lainnya. ”Ini berarti banyak orang akan kehilangan nyawa, kita akan menghadapi banyak guncangan harga pangan, dan kebakaran hutan yang lebih hebat,” imbuh Otto.

A man sunbath on the Garonne river bank, on May 27, 2026, in Toulouse, southwestern France. The UN climate chief said on May 27, 2026 that a record-breaking early heatwave scorching a swathe of western Europe was "a brutal reminder of the spiraling impacts of the climate crisis". The UK and France have reported their hottest ever May days this week as a "heat dome" brought sizzling temperatures more typical of midsummer to western Europe. (Photo by Lionel BONAVENTURE / AFP)

Efek El Nino

Laporan WMO tersebut juga menyinggung kemungkinan pembentukan El Nino yang kuat. El Nino merupakan fenomena iklim alami di sebagian wilayah Pasifik tengah yang menghangatkan suhu permukaan di Samudra Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur.

Biasanya El Nino terjadi setiap dua hingga tujuh tahun dan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan. El Nino membawa perubahan di seluruh dunia dalam pola angin, tekanan, curah hujan, dan meningkatkan suhu global.

El Nino khususnya diprediksi terjadi pada 2027 dan 2028. Leon Hermanson selaku penulis utama laporan Pembaruan Tahunan-ke-Dekadal Global WMO mengatakan, ”Ada prediksi El Nino pada akhir tahun 2026. Prediksi itu meningkatkan kemungkinan di tahun 2027 terjadi rekor suhu baru.”

El Nino terakhir menjadikan 2023 sebagai tahun terpanas kedua yang pernah tercatat. Tahun 2024 menjadi tahun terpanas sepanjang masa dengan suhu sekitar 1,55 derajat C di atas rata-rata praindustri.

Pemandangan Gletser San Rafael di wilayah Aysen, Chili selatan, Minggu (13/2/2022). Mencairnya gletser adalah fenomena alam yang dipercepat oleh perubahan iklim secara signifikan, AFP/PABLO COZZAGLIO 13-02-2022 *** Local Caption *** View of the San Rafael Glacier in the region of Aysen, southern Chile, on February 13, 2022. - The melting of the glaciers is a natural phenomena which climate change has accelerated significantly, told AFP Jorge O'Kuinghttons, chief of the Regional Unit of Glaciology of the General Water Directorate (DGA). (Photo by PABLO COZZAGLIO / AFP)

Anomali

Dengan proyeksi kenaikan suhu global rata-rata, WMO menyebutkan terdapat anomali suhu di Arktik. Pemanasan di Arktik diperkirakan meningkat 3,5 kali lebih cepat daripada wilayah lain di dunia.

Suhu saat musim dingin antara 2026 dan 2030 di Arktik diprediksi akan 2,8 derajat Celcius di atas suhu rata-rata untuk tahun 1991-2020. Menurut Seabrook, hal ini terjadi karena ada lebih sedikit es dan salju yang memantulkan radiasi matahari ke luar angkasa. Ini menjadi lingkaran setan.

”Saat suhu meningkat, semakin banyak es laut yang mencair, semakin buruk dampaknya,” kata Seabrook.

Laporan tersebut memperkirakan es laut Arktik akan terus menyusut di musim panas. Selain itu, laporan juga memperkirakan kondisi yang lebih hangat dan sangat kering di lembah Amazon.

”Hal itu bisa menghancurkan bagi penduduk setempat dan planet secara keseluruhan,” kata Seabrook.

Masyarakat bergantung pada Amazon untuk air. Kondisi yang lebih panas dan kering akan meningkatkan risiko kebakaran hutan. Padahal, hutan Amazon saat ini berperan penting menyerap karbon dioksida.

Anomali juga terjadi di Afrika. Wilayah Sahel di Afrika yang menjadi wilayah sangat kering, kemungkinan akan mendapatkan curah hujan lebih dari biasanya. ”Itu dapat menyebabkan banjir,” kata Seabrook.

TOPSHOT - This handout satellite image by Vantor received on December 2, 2025 shows flooded fields in Hat Yai, Thailand's southern Songkhla province on November 29, 2025. The toll in deadly flooding and landslides across parts of Asia climbed past 1,160 on December 1 as hardest-hit Sri Lanka and Indonesia deployed military personnel to help survivors. (Photo by Handout / Satellite image ©2025 Vantor / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO/ SATELLITE IMAGE ©2025 VANTOR" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS - THE WATERMARK MAY NOT BE REMOVED/CROPPED

Para pejabat PBB mengatakan upaya untuk mengekang perubahan iklim belum cukup. ”Meskipun terdapat kemajuan dalam beberapa tahun terakhir, jelas pemanasan global masih melampaui upaya global untuk mengendalikannya,” kata Kepala Iklim PBB, Simon Stiell terkait laporan WMO itu.

”Suhu yang sangat panas di Eropa, India, dan tempat lain sekali lagi menunjukkan dampak brutal terhadap manusia dan ekonomi akibat umat manusia masih membakar sejumlah besar batu bara, minyak, dan gas,” imbuh Stiell. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase