Bungkus Jajanan Mengandung Mikroplastik, Masalah Kesehatan Mengintai Anak Sekolah

Kandungan mikroplastik terdapat di wadah penganan anak sekolah, seperti plastik bening, kertas minyak, dan bungkus roti.

21 Nov 2024 12:17 WIB · Nasional

Oleh Pradipta Pandu

JAKARTA, KOMPAS — Anak sekolah masih berpotensi mengalami masalah kesehatan karena ketersediaan pangan yang banyak mengandung karbohidrat, gula, dan lemak. Bahkan, hasil riset menemukan kandungan mikroplastik yang menjadi wadah jajanan anak sekolah.

Manajer Program Kota Berkelanjutan Yayasan Gita Pertiwi Khoirunnisa mengatakan, pihaknya telah melakukan riset status gizi dan preferensi anak sekolah. Hasilnya, 38 persen siswa sekolah mengalami kemudahan obesitas akibat mayoritas jajanan di kantin sekolah banyak yang mengandung karbohidrat, gula, dan lemak.

Quote

Plastik bila terkena panas akan rontok, tetapi kita tidak bisa melihatnya.

”Dengan ketersediaan pangan di sekolah yang banyak mengandung karbohidrat, gula, dan lemak ini membuat siswa berpotensi terpapar zat berbahaya. Kesehatan siswa semakin terancam mengingat sebagian besar waktu mereka dihabiskan di sekolah,” ujarnya dalam dialog tentang mikroplastik dalam jajanan sekolah secara daring, Kamis (21/11/2024).

Pada 2023, Yayasan Gita Pertiwi juga melakukan riset tentang timbulan sampah di sekolah. Hasil riset menunjukkan komposisi sampah terbanyak berasal dari jenis plastik bening yang menjadi kemasan pangan sebanyak 5,65 kilogram per hari. Sementara sampah organik berupa sampah daun sebanyak 3,96 kg/hari dan sampah pangan 3,87 kg/hari.

Seorang siswa jajan minuman di salah satu warung di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta, Senin (15/5/2023). Pulau Untung Jawa memiliki dua Satuan PAUD Sejenis (SPS), satu Taman Kanak-Kanak (TK), satu Sekolah Dasar (SD), dan satu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ada sekitar 400 siswa yang bersekolah di pulau ini dari total jumlah penduduk sekitar 2.000 jiwa. Pada tahun 2022, Kabupaten Kepulauan Seribu menduduki peringkat tertinggi tingkat buta huruf di DKI Jakarta dengan angka 1,88 persen. Selain itu, rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah di Kabupaten Kepulauan Seribu juga menjadi yang terendah di DKI Jakarta dengan angka 9,02 tahun dan 12,65 tahun. Dengan data tersebut diharapkan pemerintah terus memperhatikan pendidikan masyarakat DKI Jakarta baik di kota maupun kepulauan agar setara secara akses dan kualitas pendidikan. Fakhri Fadlurrohman (Z19) 15-05-2023

Dari riset tentang timbulan sampah ini, Yayasan Gita Pertiwi kembali melakukan riset tentang kandungan mikroplastik pada penganan jajanan anak sekolah. Hasil riset menemukan kandungan mikroplastik berukuran 17-465 mikrometer.

Kandungan mikroplastik ini terdapat di tiga sampel wadah panganan yang diuji, yakni plastik bening (bungkus jajanan risol), kertas minyak (bungkus nasi goreng), dan bungkus roti. Kandungan mikroplastik mayoritas dalam bentuk fiber yang merupakan kontaminasi dari proses produksi dan fragmen dari kontaminasi kemasan.

Guna membatasi jajanan anak sekolah yang tidak sehat, Yayasan Gita Pertiwi telah menginisiasi kegiatan Kantin Sekolah Sehat Ramah Anak sejak 2018. Kantin Sekolah Sehat Ramah Anak merupakan upaya untuk mewujudkan hak anak dengan memberikan pangan dan lingkungan yang aman dan sehat serta ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat.

”Pada 2019, kami juga menyusun standar Kantin Sekolah Sehat Ramah Anak yang di dalamnya ada lima komponen, yaitu manajemen kantin, monev dan promosi, fisik dan bangunan, pangan jajanan anak sekolah, serta pengelola kantin dan supplier (pemasok) itu sendiri. Pada manajemen kantin kami juga mendorong komitmen dari sekolah,” kata Khoirunnisa.

Selain itu, untuk keamanan pangan, perlu juga didorong agar pemasok pangan dan jajanan yang ada di kantin sekolah untuk memberikan hasil uji laboratorium dari dinas kesehatan. Hasil uji laboratorium menjadi bukti bahwa pangan yang dijual di sekolah bebas dari kontaminan maupun bahan beracun dan berbahaya bagi siswa.

”Replikasi kegiatan ini di sekolah negeri masih terbatas karena adanya aturan, birokrasi, dan anggaran. Tantangan kedua yaitu adanya kebijakan makan siang bergizi di sekolah, terutama di keamanan pangan, menu, dan kemasan,” ujarnya.

Sifat plastik

Kepala Laboratorium Mikroplastik Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) Rafika Aprillianti menyatakan, anak-anak berusia di bawah 17 tahun kerap mengonsumsi makanan dan minuman manis dalam kemasan. Selain memiliki kadar gula tinggi, senyawa racun plastik juga berpotensi terlepas dalam minuman kemasan ini.

”Plastik secara umum mengandung 16.000 bahan kimia aditif yang tidak terikat secara kovalen dengan polimer induk sehingga mudah lepas. Jadi, plastik bila terkena panas akan rontok, tetapi kita tidak bisa melihatnya karena harus menggunakan mikroskop,” ujarnya.

Infografik Dampak Mikroplastik

Mikroplastik dan senyawa kimia plastik dapat terlepas ke makanan dan lingkungan karena berbagai faktor, di antaranya faktor suhu akibat terkena sinar matahari langsung atau suhu tinggi, sinar ultraviolet, perubahan derajat keasaman (pH), waktu kontak paparan, kualitas bahan plastik, serta faktor fisik, seperti tekanan dan gesekan.

Identifikasi yang dilakukan Ecoton menemukan mikroplastik dalam kemasan plastik sejumlah minuman berpemanis. Setelah diamati dengan mikroskop, kelimpahan rata-rata mikroplastik yang ditemukan yakni 0,0495 partikel per mililiter. Adapun rata-rata ukuran partikel mikroplastik yang ditemukan dalam sampel ialah 0,11-3,72 mikrometer.

Terlepasnya mikroplastik ini sangat berbahaya tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga kesehatan manusia. Banyak hasil penelitian menunjukkan paparan mikroplastik dapat mencemari darah manusia hingga menyebabkan berbagai gangguan metabolisme.

Siswa SD Percobaan Padang sedang menikmati bekal makanan saat jam istirahat, Kelurahan Ujung Gurun, Kecamatan Padang Barat, Padang, Sumatera Barat, Senin (4/1/2021). Saat sekolah tatap muka, siswa membawa bekal makanan dan tidak dibolehkan jajan.

Guru Besar Ekologi dan Keamanan Pangan Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Semarang, Budi Widianarko menambahkan, risiko keamanan pangan dan kesehatan hanya dapat diminimalkan dengan mereduksi semaksimal mungkin paparan mikroplastik pada bahan pangan dan manusia.

”Nilai ambang batas mikroplastik dalam pangan belum tersedia. Namun, dari perspektif pangan perlu kemurnian bahan pangan dari kontaminan fisik. Kemudian konsumen harus memiliki ekspektasi terhadap bahan pangan yang bebas mikroplastik baik dari bentuk, warna, tekstur, maupun komposisi,” ungkapnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Pradipta Pandu
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan