Tanggapan cepat dan keras Kim Jong Un menunjukkan keseriusannya dalam meningkatkan kemampuan militer dan disiplin di dalam negeri.
26 Mei 2025 17:30 WIB · Internasional
PYONGYANG, SENIN — Korea Utara berusaha memperbaiki kapal perusak angkatan laut yang rusak karena gagal meluncur, pekan lalu. Investigasi kecelakaan tersebut pun berlanjut. Pihak berwenang telah menahan empat pejabat.
Kantor berita KCNA, Senin (26/5/2025), melaporkan, pemulihan keseimbangan kapal perang berlangsung secara aktif di lokasi kecelakaan sesuai dengan jadwal. Pemulihan terjadi di bawah bimbingan teknis dari kelompok ahli.
”Kelompok investigasi kecelakaan peluncuran kapal perusak memberi tahu Komite Militer Pusat (CMC) Partai Pekerja Korea Utara tentang pekerjaannya pada 25 Mei,” bunyi laporan KCNA.
Korut menyatakan, kerusakan kapal itu tidak besar, yaitu lambung kapal sisi kanan tergores dan air laut mengalir ke buritan. Butuh waktu sekitar 10 hari untuk memperbaiki kapal itu. Namun, pengamat luar berpendapat, Korut mungkin berusaha mengecilkan kerusakan kapal.
Seperti dilaporkan, pada 21 Mei 2025, kapal perusak seberat 5.000 ton itu tergelincir karena dudukan pengangkut di buritan kapal terlepas lebih awal selama upacara peluncuran di pelabuhan timur laut Chongjin. Pemimpin Korut Kim Jong Un yang hadir dalam acara ini ini murka karenanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/26/2380c493-5008-4fcd-b739-f5a78378590d_jpg.jpg)
Citra satelit menunjukkan, kapal tergeletak miring dan terbungkus penutup biru. Beberapa bagian kapal terendam. Padahal, kapal itu dibangun untuk menjadi kapal perusak kedua Korut sebagai bagian dari rencana Kim memodernisasi angkatan laut.
Kim menyalahkan pejabat militer, ilmuwan, dan operator galangan kapal. Ia menyebut kecelakaan tersebut sebagai ”tindakan kriminal yang disebabkan oleh kecerobohan mutlak, tidak bertanggung jawab, dan empirisme yang tidak ilmiah”.
Menurut KCNA, berdasarkan data investigasi, pihak berwenang menahan Ri Hyong Son, Wakil Direktur Departemen di Departemen Industri Amunisi Komite Sentral Partai. Ri disebut ”bertanggung jawab besar atas terjadinya kecelakaan serius itu”.
Selain Ri, tiga pejabat lain sudah ditahan. Mereka adalah Kepala Teknisi Galangan Kapal Chongjin Kang Jong Chol, Kepala Bengkel Konstruksi Lambung Kapal Han Kyong Hak, dan Wakil Manajer Urusan Administrasi Kim Yong Hak.
Sebelumnya, Manajer Galangan Kapal Hong Kil Ho juga dipanggil untuk diinterogasi.
Selama ini, Korut jarang mengungkapkan kecelakaan lokal terhadap publik. Kali ini, media pemerintah melaporkan kecelakaan kapal itu secara terbuka. Pyongyang cuma pernah beberapa kali melakukannya, salah satunya ketika gagal meluncurkan satelit.
Menurut BBC, sejumlah pengamat meyakini, tanggapan cepat dan keras Kim menunjukkan keseriusannya dalam meningkatkan kemampuan militer dan disiplin di dalam negeri.
”Saya khawatir ini mungkin merupakan tanda kepercayaan diri dan unjuk ketahanan. Dengan jajaran kapal baru ini, Korea Utara tampaknya berniat menantang kedaulatan Korea Selatan dengan sungguh-sungguh,” tutur Chun In-bum, mantan Komandan Pasukan Khusus Korea Selatan, kepada BBC.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/19/3248de05-90ca-45b8-89a5-7e153ec8660c.jpg)
Belum jelas hukuman apa yang akan diterima para pejabat yang ditangkap. Dalam instruksi kepada penyidik, CMC, pada 22 Mei 2025, menyatakan, mereka yang bertanggung jawab ”tidak akan pernah bisa lepas dari tanggung jawab atas kejahatan tersebut”.
Korut selama ini terkenal sering menjatuhkan hukuman kerja paksa, bahkan hukuman mati, kepada pejabat yang terbukti melakukan kesalahan.
Pada awal pemerintahannya, Kim terkenal karena merencanakan serangkaian eksekusi dan pembersihan pejabat senior, termasuk pembunuhan pamannya. Pengamat menilai, aksi-aksi tersebut sebagian besar bertujuan untuk memperkuat kekuasaan dan menghilangkan potensi ancaman pada kekuasaannya.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin sedikit laporan tentang eksekusi atau pembersihan di pemerintahan Korut. Kim telah membangun kekuasaan absolut yang mirip dengan mendiang ayahnya, Kim Jong Il, dan kakeknya, Kim Il Sung.
Michael Madden, pakar Korut dari Stimson Center, mengatakan, respons Kim merupakan tanda pengembangan kapal perang merupakan prioritas tinggi. Kecelakaan itu mungkin terjadi karena para pejabat ”berusaha melakukan terlalu banyak hal sekaligus”.
”Tampaknya ada tekanan internal yang tidak biasa pada personel dan unit produksi untuk menyelesaikan semua ini,” ujar Madden.
Kim tampaknya ingin mencapai kemajuan besar dalam pengembangan persenjataan Korut. Rencana ini telah ditetapkan selama kongres partai, awal 2021. Menurut dia, Korut membutuhkan kekuatan angkatan laut yang lebih besar, rudal berkemampuan nuklir, dan senjata canggih lain untuk mengatasi ancaman keamanan dari Amerika Serikat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/30/5a0788688e4faa34e918d09569099e24-Koreas_Tensions_129376762.jpg)
Ada laporan bahwa Kim memberikan perlakuan istimewa kepada ilmuwan dan insinyur yang terlibat dalam industri pengembangan senjata. Ia mengalokasikan apartemen baru untuk mereka di Pyongyang.
Setelah peluncuran satelit mata-mata militer gagal tahun lalu, ia mengeluarkan pesan berisi dukungan kepada para ilmuwan. ”Kegagalan selalu merupakan prasyarat untuk keberhasilan,” kata Kim.
Sebelum kecelakaan peluncuran kapal pada 21 Mei 2025, Korut telah meluncurkan kapal perusak pertama dengan berat 5.000 ton, bulan lalu. Kapal tersebut menjadi kapal perang terbesar dan tercanggih milik Korut karena bisa membawa rudal nuklir. Kim menyebut pembangunan kapal itu sebagai ”terobosan”. (AP)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Nur Adji