Tidak mudah bertahan di Premier League. Burnley, Leeds, dan Sunderland harus belajar dari pengalaman enam tim promosi terakhir agar tak jadi tim ”yoyo”.
14 Agt 2025 12:20 WIB · Olahraga
Burnley, Leeds, dan Sunderland akan memulai perjalanan mereka di Liga Inggris 2025-2026 hanya dalam hitungan hari. Perjalanan ini akan dibayangi tren, atau semacam kutukan, menjadi tim ”yoyo” yang baru naik kasta dan turun lagi musim berikutnya. Akankah mereka bisa bertahan dan mematahkan kutukan itu?
Mencapai Premier League adalah ambisi utama bagi klub-klub kasta kedua. Namun, bertahan di kasta tertinggi juga bukan perkara mudah. Kesenjangan yang kian melebar antara kualitas tim berbeda divisi menjadi tantangan bagi tim-tim yang naik kasta.
Dalam dua musim terakhir, tiga tim yang promosi ke Liga Inggris langsung terdegradasi kembali ke Liga Championship. Ketika pada dua musim lalu Luton, Burnley, dan Sheffield United langsung terdegradasi setelah promosi dari Liga Championship, fenomena ini ”hanya” tampak mengulangi momen yang sudah lampau terjadi, yakni pada musim 1997-1998.
Namun, ketika hal serupa terjadi pada Southampton, Leicester City, dan Ipswich Town pada musim lalu, fenomena tim yoyo seolah telah menjadi tren atau bahkan kutukan. Apalagi, ketiga tim itu bahkan kembali turun kasta dengan tidak banyak memberi perlawanan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/11/cfeb8378860fe6fd1e43065f1cfcdd84-Britain_Soccer_Premier_League_15_.jpeg)
Ketiga tim ini total mengumpulkan hanya 59 poin, lebih sedikit dari Luton, Burnley, dan Sheffield United pada musim sebelumnya dengan total 66 poin. Perjuangan menghindari degradasi musim lalu juga berakhir dengan empat pertandingan tersisa atau paling awal dalam sejarah Premier League. Tim promosi terbaik, Leicester, finis dengan selisih 13 poin dari tim posisi ke-17, selisih terbesar antara degradasi dan zona aman dalam sejarah liga.
Pakar keuangan sepak bola, Kieran Maguire, mengatakan, uang jelas merupakan faktor penyebab tim promosi langsung degradasi pada musim berikutnya. Dengan aturan Profit and Sustainability Rules (PSR), ekosistem keuangan Liga Inggris sangat menguntungkan klub-klub yang sudah bertahan di kasta tersebut.
Klub-klub mapan diizinkan kehilangan hingga 105 juta pound sterling selama periode tiga tahun, sedangkan tim-tim yang baru promosi sering kali dibatasi hingga 61 juta pound. Ketimpangan ini membuat tim-tim promosi hampir mustahil untuk bersaing secara setara.
”Klub-klub yang baru promosi memang dirugikan,” ujarnya kepada BBC Sport.
Namun, terlepas dari ekosistem keuangan yang tidak mendukung mereka, enam tim promosi sebelumnya juga memang gagal beradaptasi dengan baik di persaingan yang baru. Mereka lupa bahwa Liga Inggris berada pada level yang berbeda sehingga akan sulit jika berkukuh mempertahankan banyak hal dari kasta sebelumnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/649fdcc9-ca31-4810-a058-f18ecf4663bf_jpg.jpg)
Southampton, misalnya, naik kasta sebagai tim yang bermain dominan, menyerang, dan memiliki penguasaan bola lebih banyak (65,6 persen) daripada tim lain mana pun di Championship. Namun, saat berlaga di Liga Inggris, mereka kesulitan bersaing dengan idealisme serupa. Apalagi ketika tim sudah kebobolan gol demi gol karena mencoba mengoper bola dari belakang.
Pelatih Russel Martin menolak menyesuaikan taktiknya sehingga berujung rekor satu kemenangan dan 13 kekalahan dalam 16 pertandingan dengan tim kebobolan 36 gol dan mencetak 11 gol. Keputusan untuk memecat Martin juga datang terlambat sehingga klub tak terselamatkan.
Sebaliknya, Leicester memilih untuk memecat Steve Cooper jauh lebih awal dari perkiraan banyak orang. Mereka lantas merekrut Ruud van Nistelrooy, yang dengan cepat membawa klub turun ke zona degradasi, dan kemudian mencetak rekor di sepak bola Inggris dengan kalah delapan pertandingan kandang berturut-turut tanpa mencetak gol.
Maka, adaptasi permainan sangat penting ketika tim promosi naik kasta. Pemilihan waktu juga merupakan hal yang perlu diperhatikan saat klub mengganti pelatih. Kesalahan dalam memilih pelatih juga dapat berakibat fatal. Hal yang sama berlaku untuk rekrutmen pemain.
Liga Inggris adalah liga yang jauh lebih menuntut secara fisik dan teknis. Klub akan tergoda untuk mengumpulkan skuad yang lebih besar agar mampu menghadapi tuntutan bermain melawan lawan yang lebih tangguh, tetapi pemain yang direkrut harus memiliki profil yang tepat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/14/2bca6cee2620b95b830332116a4d1f47-Ireland_Soccer_Friendly_131758650.jpg)
Leeds menerjemahkan hal ini sebagai kebutuhan untuk menguatkan aspek fisik. Tujuh pemain baru Leeds memiliki tinggi rata-rata 190 sentimeter, menunjukkan keyakinan kuat mereka bahwa perbedaan antara bertahan di liga utama dan langsung turun kasta adalah tinggi badan, kekuatan, dan kemampuan untuk memenangkan duel udara di kedua kotak penalti.
Di sisi lain, Leeds harus mengatasi tantangan adaptasi pendekatan yang berbeda di Liga Inggris. Apalagi, mereka memenangkan Championship dengan gaya permainan dominan. Tetap menggunakan pendekatan tersebut ketika melawan tim-tim Premier League yang juga dominan penguasaan bola, menekan tinggi, dan mematikan dalam serangan balik bukanlah perkara mudah.
Namun, tim asuhan Daniel Farke ini sepertinya tidak akan berubah total. ”Kami berbicara tentang cara kami ingin bermain, bagaimana kami ingin mendekati musim ini, dan bagaimana kami tidak akan mengubah pendekatan kami,” kata pemain sayap Wilfried Gnonto kepada The Athletic.
”Levelnya tinggi, tetapi kami ingin agresif, kami ingin mendominasi pertandingan. Semoga, itulah yang akan terjadi. Ketika Anda bermain melawan tim-tim top, itu tidak selalu memungkinkan, tetapi bagus untuk memiliki pendekatan dan mentalitas seperti ini,” ujarnya lagi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/14/8272e81e79577e434cb35e04415c7a9f-Britain_Soccer_Burnley_Lazio_131758533.jpg)
Adapun Burnley menyadari pentingnya mengatasi kesenjangan fisik agar bisa bertahan di Liga Inggris. Direktur Performa Burnley Damian Roden mengatakan, perbedaan terbesar antara tim kasta kedua dan kasta pertama adalah pada aspek fisik.
Untuk itu, Burnley akan berusaha mempersiapkan hal ini dan tetap adaptif secara taktis setiap saat di musim mendatang. ”Kami mempersiapkan musim ini dengan prinsip yang sama seperti yang kami lakukan tahun lalu, untuk menjadi tim yang pekerja keras, berintensitas tinggi, dan dinamis,” ujarnya kepada laman web resmi klub.
”Perbedaannya terletak pada perbedaan fisik antara Premier League dan Championship. Kami hampir berada di puncak statistik fisik musim lalu di Championship. Namun, jika dibandingkan dengan statistik Premier League, kami tidak akan berada di dekat puncak,” ujarnya lagi.
Sementara itu, Sunderland yang berambisi untuk tak menyia-nyiakan kesempatan kembali ke Liga Inggris setelah penantian delapan tahun menyadari bahwa belanja pemain besar-besaran tidak menjamin kelangsungan hidup mereka di kasta tertinggi. Namun, Sunderland tampaknya berinvestasi dengan cukup cerdik dengan merekrut pemain-pemain penting.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/14/ab23f1d06c205ab76fd710d705028173-Sunderland_Guiu_Soccer_131714442.jpg)
Sunderland, yang menghabiskan 132 juta pound untuk merekrut 11 pemain, telah memperkuat lini tengah dengan mengubah status Enzo Le Fee menjadi transfer resmi setelah pinjaman dari AS Roma. Mereka juga mendatangkan Granit Xhaka dari Bayer Leverkusen dan gelandang Strasbourg, Habib Diarra.
Burnley, Leeds, dan Sunderland akan berusaha dengan segala upaya untuk mempertahankan posisi mereka di Premier League. Jika upaya mereka berhasil, persaingan Premier League tidak lagi monoton dengan menjadi arena tertutup hanya bagi 17 tim.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan