Ngatirah, buruh tani di Sumatera Utara, menabung Rp 5.000 per hari demi bisa ke Tanah Suci. Ikhtiarnya berbuah manis tahun ini.
05 Mei 2025 15:02 WIB · Nusantara
Ngatirah (60) tak bisa menahan haru setelah tiba di Asrama Haji Medan, Sumatera Utara, Senin (5/5/2025). Jemaah calon haji dari Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, itu sudah 30 tahun menabung di celengan kayu. Buruh tani itu menyisihkan Rp 5.000 setiap hari.
”Beberapa tahun sejak menikah, saya membulatkan tekad untuk melaksanakan ibadah haji. Saya lalu menabung di celengan yang saya buat sendiri dari papan kayu. Saya enggak menabung di bank karena buta huruf,” kata Ngatirah.
Ngatirah sehari-hari bekerja sebagai buruh tani di Desa Paya Bakung. Dia bekerja berkelompok bersama buruh tani lainnya. Sebagai pekerja harian lepas, Ngatirah mendapat upah Rp 50.000 sampai Rp 80.000 per hari, tergantung luasan lahan yang bisa dikerjakan.
Sejak awal menikah, Ngatirah membulatkan niatnya untuk melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci. Dia tidak ingat persis kapan dia mulai menabung. ”Yang saya ingat, saya mulai menabung beberapa tahun sejak anak saya lahir sebelum dia bersekolah. Anak saya sekarang umurnya sudah hampir 40 tahun,” kata Ngatirah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/05/0a5e8fd2-e39a-4073-9eba-81251e4ad3a0_jpeg.jpg)
Dengan kebulatan niat untuk melaksanakan ibadah haji, Ngatirah membuat celengan dari kayu. Setiap pulang bekerja, dia menyisihkan Rp 5.000. Kadang lebih, kadang kurang. Niat untuk berangkat ke Tanah Suci juga menjadi penyemangat bagi Ngatirah untuk bekerja setiap hari.
Dia sudah bangun pukul 04.00 WIB untuk mempersiapkan kebutuhan keluarganya, seperti memasak, mencuci pakaian, hingga mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Setelah selesai shalat Subuh, dia berangkat ke ladang dalam kelompok buruh tani yang berjumlah 12 orang.
”Kami mendapat upah borongan untuk menyiangi rumput, bertanam, atau memanen hasil pertanian. Berapa pun hasilnya, kami bagi sama rata,” kata Ngatirah.
Ngatirah biasanya mendapat sekitar Rp 50.000 per hari. Dia lalu belanja kebutuhan pokok sehari-hari, seperti beras, lauk-pauk, dan sayur-sayuran. Dia lalu menyisihkan untuk tabungan keluarga dan untuk tabungan haji.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/05/86d99ce4-92c9-4443-8f1c-13badc1ce80f_jpeg.jpg)
Suami Ngatirah juga bekerja serabutan sebagai tukang bangunan, buruh tani, atau pekerjaan lainnya. Penghasilan suaminya kurang lebih sama dengan Ngatirah. Uang itu mereka gunakan untuk membiayai sekolah kelima anaknya.
”Lima anak saya semuanya tamat SMA dan satu orang lulus sarjana dan sekarang jadi guru agama,” kata Ngatirah, yang hanya sekolah SD, tetapi tidak tamat.
Ngatirah awalnya berniat untuk bisa naik haji bersama suaminya. Namun, suaminya meninggal sebelum bisa mendaftar ibadah haji. Pada tahun 2013, Ngatirah membongkar celengannya. ”Saya tidak menyangka tabungan saya sudah Rp 14,5 juta. Saya langsung mendaftar haji,” katanya.
Dia tak membuang peti kayu celengannya itu. Dia memakunya kembali dan menggunakannya lagi untuk menabung lebih giat karena dia harus mengejar pelunasan biaya haji. Beberapa tahun kemudian, dia berhasil mengumpulkan Rp 11,5 juta, Rp 10,5 juta, hingga akhirnya melunasi semua biaya hajinya.
Dia sempat waswas karena setelah lebih dari 10 tahun dia tak kunjung dipanggil untuk ikut ibadah haji. ”Apalagi, umur saya, kan, sudah tua,” katanya.
Tahun lalu, seorang petugas pemberangkatan haji mendatangi rumahnya. Petugas itu memberitahukan bahwa Ngatirah akan berangkat haji pada 2025. Dia langsung bersujud syukur dan menangis haru akhirnya bisa berangkat haji.
Perjuangan untuk bisa melaksanakan ibadah haji juga dilakukan Nurlin Adlah (80). Pedagang tauco itu menabung selama 12 tahun untuk biaya ibadah hajinya. Dia mendaftar haji pada 2013 saat berusia 68 tahun.
”Saya sangat terharu akhirnya bisa ikut ibadah haji di hari tua saya,” kata Nurlin, warga Desa Tanjung Morawa Pekan, Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang.
Nurlin sehari-hari membuat tauco rumahan. Dia memenuhi pesanan para pelanggan rumah makan dan pedagang eceran. Nurlin mendaftar pada 2013 dari hasil tabungannya. Selama 12 tahun terakhir, dia menabung dari hasil penjualan tauconya.
Di usianya yang sudah sepuh, Nurlin percaya bahwa dia akan diberikan kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji. Tahun lalu, dia mendapat pemberitahuan bahwa dia terdaftar sebagai cadangan untuk ikut ibadah haji pada 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/14/efb8a0a7-693f-4704-9566-2cdd4648bf41_png.png)
Beberapa bulan lalu, seorang petugas menghubunginya menyebut bahwa Nurlin dipilih menggantikan orang yang tidak bisa ikut tahun ini. ”Saya menangis terharu akhirnya bisa melaksanakan ibadah haji,” kata Nurlin.
Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Medan 1446 H/2025 M Ahmad Qosbi mengatakan, tahun ini jemaah haji yang berangkat dari Sumut sebanyak 8.328 orang. Sebanyak 416 di antaranya merupakan jemaah lanjut usia, 24 orang tim pemandu haji Indonesia (TPHI), 23 orang tim pembimbing ibadah haji Indonesia (TPIHI), 24 orang dokter, dan 24 orang perawat.
”Jemaah haji dari Sumut tergabung dalam 24 kelompok terbang (kloter),” kata Qosbi. Sumut pun sudah memberangkatkan tiga kloter jemaah calon haji dengan jumlah total 1.073 orang hingga Minggu (4/5/2025).
Qosbi menyebut, jemaah haji tertua tahun ini berusia 95 tahun, yakni Salam Alifiah dari Serdang Bedagai. Sementara jemaah termuda berusia 18 tahun, yaitu Juanda Pratama dari Medan. Dia menyebut, daftar tunggu jemaah haji Sumut sampai Mei 2025 sebanyak 54.790 orang.
Dengan jumlah daftar tunggu itu, masa tunggu berangkat haji 21 tahun. Jika mendaftar tahun ini, kemungkinan akan berangkat haji pada 2046. Dia mengajak agar seluruh jemaah haji selalu bersyukur bisa ikut melaksanakan ibadah haji….
Penulis:
Nikson SinagaEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto