Bus Shalawat Inklusif,  Transportasi Ibadah Haji Ramah Disabilitas dan Lansia

Layanan ibadah haji ramah lansia dan jemaah berkebutuhan khusus terus ditingkatkan. Salah satunya dengan penyediaan layanan bus inklusif.

13 Mei 2025 06:53 WIB · Humaniora

Oleh Reny Sri Ayu, dari Mekkah, Arab Saudi

Di Mekkah, satu tempat yang sering dikunjungi jemaah adalah Masjidil Haram. Setelah melaksanakan umrah wajib, banyak anggota jemaah menghabiskan waktu di masjid ini, baik untuk shalat lima waktu maupun berzikir.

Senin (12/5/2025), Sunaryo (66), anggota jemaah asal Banyumas, Jawa Tengah, misalnya, duduk di kursi roda di Terminal Syib Amir di Mekkah.

Ditemani anaknya, dia baru melaksanakan shalat Ashar di Masjidil Haram. Dia tengah menunggu bus untuk kembali ke hotel.

”Bapak harus pakai kursi roda dan tidak bisa lagi berjalan jauh. Saya mendampingi Bapak untuk berhaji,” kata Dewanti, putrinya.

Walau hanya berdua dan tak didampingi anggota jemaah lain, mereka merasa aman bepergian. Hampir setiap hari Dewanti membawa ayahnya bolak-balik hotel dan Masjidil Haram untuk shalat.

Sejumlah anggota jemaah yang menggunakan kursi roda bersiap melakukan ibadah di Masjidil Haram, Senin (12/5/2025). Pemerintah menyediakan layanan bus inklusif untuk lansia dan jemaah berkebutuhan khusus.

Kondisi ayahnya yang harus duduk atau dipapah tak menjadi soal. Bus shalawat yang mengantar dan menjemput mereka tersedia setiap saat. Bus memastikan Sunaryo dan Dewanti yang mendampingi tak kesulitan naik dan turun bus.

Bus inklusif

Bus shalawat adalah layanan transportasi yang disediakan Pemerintah Indonesia untuk mengangkut jemaah bolak-balik hotel dan Masjidil Haram.

Shalawat adalah singkatan dari shalat lima waktu. Penamaan ini tentu saja sejalan dengan tujuan bus ini, yakni mengantar jemput jemaah yang akan shalat lima waktu di Masjidil Haram.

Karena itu pula, layanan bus ini tersedia 24 jam walau di waktu-waktu tertentu dihentikan sementara karena kebijakan otoritas Arab Saudi.

Karena sebagian anggota jemaah berusia lanjut dan tidak sedikit pula yang berkebutuhan khusus, bus shalawat inklusif juga disiapkan.

”Kami siapkan layanan inklusi, dengan hadirkan bus shalawat yang ramah dengan jemaah lansia dan berkebutuhan khusus,” kata Direktur Layanan Haji Luar Negeri Muchlis M Hanafi di Mekkah, Minggu (11/5/2025).

Jemaah turun dari bus shalawat yang mengantar mereka ke Masjidil Haram, Senin (12/5/2025). Bus shalawat termasuk bus inklusif adalah salah satu layanan transportasi yang disiapkan untuk jemaah.

Dia menyebut, setidaknya ada 32 bus shalawat dengan spesifikasi ramah bagi pengguna kursi roda, penyandang disabilitas, dan jemaah berkebutuhan khusus lainnya.

Bus didesain khusus dengan kursi yang rendah dan bisa dilewati kursi roda. Pada bagian dalam juga disiapkan tempat khusus untuk menyimpan kursi roda.

”Seluruh armada telah dipasang GPS dan CCTV yang dapat diakses petugas,” tambah Muchlis.

Mujib Roni, Kepala Bidang Transportasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, mengatakan, bus shalawat dioperasikan dengan rute hotel-hotel tempat jemaah tinggal.

Di Mekkah, setidaknya terdapat 205 hotel yang menjadi tempat penginapan jemaah asal Indonesia. Rute bus-bus ini terhubung dengan tiga terminal di sekitar Masjidil Haram.

Tiga terminal ini ialah Syib Amir, Jiad atau Ajyat, dan Jabal Ka’bah. Terminal ini pula yang menjadi tempat menurunkan dan menjemput jemaah.

Terdapat 27 rute yang dilalui bus yang mencakup empat wilayah. Bus melewati 93 halte.

Halte bus shalawat biasanya terletak di depan hotel atau paling jauh sekitar 100 meter dari hotel tempat jemaah menginap.

Salah satu pintu untuk menurunkan dan menjemput jemaah yang menggunakan bus shalawat di Terminal Syib Amir, Mekkah, Senin (12/5/2025).

Sebagai contoh, jemaah yang tinggal di wilayah Syisah dan Raudhah akan menggunakan Terminal Syib Amir. Jemaah yang tinggal di wilayah Jarwal akan memggunakan Terminal Jabal Ka’bah. Sementara jemaah yang tinggal di wilayah Misfalah akan menggunakan Terminal Ajyad.

Menurut Mujib, tahun ini PPIH bekerja sama dengan lima perusahaan otobus untuk penyiapan layanan bus shalawat. Lima perusahaan itu adalah Abu Sarhad, Dallah, Durrat Al Munawwara, Mawakeb Al Khair, dan Rawahel Al Mashaer.

Layanan transportasi ini sudah masuk dalam biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH). Pengemudi bus pun sudah dibayar. Karena itu, jemaah tak perlu lagi memberi tip.

Untuk memudahkan jemaah, pintu-pintu pemberhentian dan penjemputan sudah diatur agar mudah dikenali. Sebagai contoh di Syib Amir, bus menurunkan dan menaikkan penumpang di Gate C yang ditandai dengan plang berwarna hijau dan Gate D dengan plang berwarna ungu.

Di tempat ini juga terdapat layanan penyewaan kursi roda bagi jemaah yang ingin menggunakan jasa pendorong kursi roda. Nomor bus juga tertera di bagian depan dan samping bus.

Tujuannya, memudahkan jemaah mengenali bus yang melewati atau berhenti di terminal terdekat dari hotel tempat mereka menginap.

Jemaah mulai berdatangan dan meramaikan Masjidil Haram, Minggu (11/5/2025). Di kawasan ini pemeriksaan berlapis dilakukan aparat keamanan dan ketertiban saran Saudi.

Kemudahan lain juga diberikan dengan penyediaan kartu bus. Kartu ini dapat membantu petugas menunjukkan bus yang harus digunakan jika jemaah bingung harus naik bus yang mana.

Mujib mengatakan, selama masa pelaksanaan ibadah haji hingga kepulangan jemaah, sedikitnya ada 11.000 bus yang disiapkan untuk melayani 203.320 anggota jemaah haji reguler.

Sebelumnya, Dante Rigmalia, Ketua Komnas Disabilitas, mengatakan, penting untuk membangun perspektif terkait dengan penyandang disabilitas, terutama untuk pemenuhan hak beribadah.

Jemaah lansia duduk di kursi roda dan bersiap diantar ke Masjidil Haram untuk beribadah, Senin (12/5/2025). Mobilisasi dari hotel ke Masjidil Haram menjadi mudah dengan kehadiran bus shalawat.

”Tahun ini saya ikut jadi petugas haji. Kehadiran kami tentu bukan sekadar menjadi petugas, tapi juga untuk melihat langsung bagaimana pelayanan haji bagi penyandang disabilitas. Hasilnya akan menjadi masukan dan bahan diskusi terkait dengan pelayanan haji bagi penyandang disabilitas di tahun-tahun berikutnya,” katanya.

Dia mengatakan, tahun ini ada lebih kurang 400 anggota jemaah penyandang disabilitas. ”Tapi, ini disabilitas yang tampak. Yang tidak terlihat tidak ketahuan. Misalnya, disabilitas mental, disabilitas intelektual, gangguan pendengaran, dan lainnya,” tambah Dante.

Sementara itu, Direktur Bina Haji Kementerian Agama Musta’in Ahmad mengatakan, salah satu poin penting pelayanan ibadah haji tahun ini adalah inklusi. Ini di antaranya haji yang ramah disabilitas, lanjut usia, dan perempuan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Reny Sri Ayu, dari Mekkah, Arab Saudi
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .