Walau BYD tidak dijual di Amerika Serikat, penjualannya mengalahkan Tesla. Kini Tesla menyiapkan strategi baru dari Taxi Otomatis hingga jasa robot humanoid.
03 Jan 2026 12:52 WIB · Internasional
AFP/Chanakarn Laosarakham and Sergei GAP
Produsen mobil listrik (EV) Amerika Serikat, Tesla, kembali kehilangan posisi sebagai EV terlaris. Mengulang sukses di tahun 2023, pabrikan mobil listrik asal China, BYD, mencatatkan diri lagi sebagai ”raja”.
Sepanjang tahun 2025, BYD berhasil menjual 2,26 juta unit kendaraan listrik di seluruh dunia. Angka itu jauh di atas perolehan Tesla yang mencatatkan angka penjualan sebanyak 1,64 juta unit.
Penurunan itu berimbas pada harga saham Tesla di bursa Wall Street. Di lantai bursa, saham Tesla turun 2,6 persen pada pembukaan tanggal 2 Januari 2026.
Padahal, saat diwawancara Bloomberg tahun 2011, Elon Musk, pendiri dan pemilik Tesla, pernah menertawakan kehadiran BYD. Kala itu, Musk mengatakan, BYD—sebagai pesaing baru—tidak menarik dan teknologinya tidak mumpuni.
Akan tetapi, kondisi saat ini terbalik. Pada kuartal terakhir 2025, penjualan Tesla hanya mencapai 418.227 unit. Total penjualan Tesla tahun 2025 turun 8 persen dari tahun 2024. Padahal, BYD tidak dijual di pasar Amerika Serikat. Sementara Tesla dijual di pasar China.
Tesla sempat unggul tipis atas BYD dalam penjualan tahun 2024. Tesla mampu menjual 1,79 juta unit pada tahun 2024, sementara BYD hanya membukukan penjualan 1,76 juta unit. Sayang, keunggulan itu tidak mampu dipertahankan pada tahun 2025.
”Buruknya” pencapaian Tesla pada kuartal terakhir 2025 telah dipredikisi sebelumnya oleh para analis Factset Consencus. Sebelumnya mereka memprakirakan, penjualan Tesla berada di bawah 449.000 unit dalam kuartal terakhir 2025. Perkiraan mereka tepat!
Tesla mengalami sederet masalah, antara lain adalah munculnya sentimen negatif konsumen kepada Musk. Pemicunya adalah keputusan Musk bergabung ke pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan menjadi Menteri Efisiensi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/2039e286-1d28-4db2-9b75-830c426e327c_jpg.jpg)
Saat menjabat sebagai menteri, Musk memangkas jumlah pegawai negeri dan berbagai program sebelum akhirnya mundur pada Mei 2025 untuk kembali mengawaki Tesla. Selain itu, penghentian diskon pajak kredit EV sebesar 7.500 dollar AS oleh Washington juga dianggap menjadi faktor merosotnya minat konsumen membeli Tesla.
Dalam laporan CBS disebutkan, Musk sebenarnya masih punya strategi lain dengan mengembangkan bisnis, yakni layanan robotaxi, yaitu taksi nir-pengemudi. Selain ada pula robot humanoid yang dapat mengerjakan tugas rumah tangga dan perkantoran. Akan tetapi, kinerja Tesla tak terdongkrak. Bahkan keterlibatan Trump yang turut mengiklankan kendaraan listrik Tesla ternyata tak banyak membantu.
Di sisi lain, Tesla pun ”kehilangan” pamornya dalam persaingan ketat di pasar luar AS. Perlahan-lahan kehadirannya digerus oleh BYD dan pabrikan EV China lain serta rival-rival EV buatan Eropa.
Dikenal sebagai ”Biyadi” dalam Mandarin atau dalam Inggris disebut ”Build Your Dreams”, BYD didirikan tahun 1995 dari sebuah pabrikan baterai. Setelah bertransformasi menjadi pabrikan kendaraan listrik, kini BYD berhasil mendominasi pasar domestik China yang sangat kompetitif di pasar kendaraan listrik. China saat ini menjadi pasar terbesar EV di dunia.
Berbekal keberhasilan di China, BYD kini terus mengembangkan pasar mancanegara, terlebih persaingan di dalam negeri menggerus marjin laba mereka. Pada saat BYD dan pabrikan EV China lainnya menghadapi perang tarif AS, mereka tak hilang akal. BYD dan pabrikan EV China menggarap pasar Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Eropa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/25/425ea8fe4c433e683a1c148958e722c7-000_37HW623.jpg)
Meski demikian, Dan Ives, analis Wedbush Sekuritas, mencatat penjualan Tesla lebih baik dari perkiraan mereka. Ives semula menilai Tesla mengalami kesulitan terkait dengan berakhirnya pemberian kredit pajak EV di Amerika Serikat pada saat penjualan mereka di Eropa belum mencapai harapan.
Saat ini Tesla masih kesulitan mendapat persetujuan atas sejumlah aturan di Eropa terkait dengan teknologi swakemudi. Namun, angka penjualan Tesla diprakirakan bakal melonjak begitu perizinan swakemudi diberikan di pasar Eropa.
”Penjualan di pasar negara kecil mulai berkembang bagi EV sehingga menjadi alternatif di saat pasar besar seperti China dan Eropa mengalami penurunan,” kata Ives.
Dia memperkirakan, dalam waktu dekat, pengembangan akal imitasi (AI) dan kendaraan otonom akan membuka ceruk pasar senilai 1 triliun dollar AS bagi Tesla.
Peluang lain yang kini dicoba Tesla ialah dengan memangkas harga. Cara yang tengah ditempuh Tesla ialah merilis model dengan fitur yang dikurangi, semisal pada Model Y dan Model 3. Strategi itu ditempuh untuk mampu bersaing dengan produk China dan Eropa.
Pada Oktober 2025, harga jual Model Y di bawah 40.000 dollar AS (Rp 650 juta) dan Model 3 yang paling murah dijual di bawah 37.000 dollar AS (Rp 600 juta). Langkah tersebut diharapkan dapat membuat Tesla bersaing dengan BYD dan produk EV China lainnya di Eropa dan Asia.
Untuk pasar seperti Indonesia, strategi itu mungkin belum mampu ”mendidihkan persaingan”. Saat ini, untuk varian entry level, Atto 1 misalnya, BYD berani menjualnya di bawah Tesla, yakni di kisaran harga Rp 200 juta atau sekitar 12.000 dollar AS.
Pada saat yang sama, BYD juga membuka pabrik di Indonesia dan Thailand. Akan tetapi, ada ”ruang lain” yang memungkinkan Tesla dapat mengambil kesempatan. Melimpahnya deposit nikel—bahan baku baterai—di Indonesia, Filipina, dan beberapa negara Amerika Latin menjadi peluang bagi pabrikan EV, termasuk Tesla dan BYD, untuk membangun industri baterai di Indonesia dan membangun mata rantai pasok global. (AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji