”Cacing Cacing Naga Naga” Patrick Kluivert dan Dosa Kolektif Kegagalan Timnas

Bagaimana prinsip soal ”cacing cacing naga naga” membuat Patrick Kluivert kehilangan posisinya sebagai pelatih kepala timnas Indonesia hanya dalam sembilan bulan?

17 Okt 2025 14:26 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Belakangan ini, masyarakat Indonesia sering bertualang ke dunia khayal. Mereka menggunakan kata ”seandainya” untuk sedikit mengobati luka dalam akibat kegagalan tim nasional Indonesia ke Piala Dunia 2026 meskipun itu justru menambah rasa perih karena tamparan realitas yang datang lebih keras. 

Petualangan melibatkan Patrick Kluivert, sosok antagonis terbesar bagi publik sepak bola Tanah Air saat ini. Seandainya Kluivert tak melatih Indonesia. Seandainya dia tak bereksperimen di laga terpenting timnas. Itu bagian kecil dari segudang perandaian yang mewakili kekecewaan dan kemarahan publik.

Namun, teori waktu berjalan ke depan. Tak bisa mundur. Mimpi timnas sudah telanjur kandas. Sebagai konsekuensi, kontrak Kluivert diputus oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Kluivert, pelatih kepala timnas, dinilai paling bertanggung jawab dalam kegagalan tersebut.

Ada hal menarik dari kisah tragis Kluivert. Bagaimana mantan penyerang kelas dunia itu terdepak? Padahal, empat bulan sebelumnya, dia dihujani puja-puji seusai dua kemenangan dari empat laga di putaran ketiga. Pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong, hanya menang sekali dalam enam laga.

Mari kembali ke semester pertama 2025, saat Jay Idzes dan rekan-rekan menang atas Bahrain dan China. Timnas menang karena bermain pragmatis dengan formasi tiga bek tengah, jarak pemain rapat, strategi transisi, garis pertahanan tidak terlalu tinggi, dan banyak lagi warisan Shin. 

Quote

Bermain dengan gaya nyaman itu penting, dan paling utama adalah menang dan lolos ke Piala Dunia.

Jika seseorang terlewat kabar timnas setahun terakhir, dia tak akan tahu perubahan di kursi pelatih. Pendekatan Kluivert tidak banyak berbeda dengan Shin. Hanya beberapa pemain diaspora baru yang memberi warna baru, seperti penyerang Ole Romeny atau gelandang Joel Pelupessy.

Pelatih baru tim nasional Indonesia Patrick Kluivert memperlihatkan jersei dalam jumpa pers di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Minggu (12/1/2025). Kluivert akan dibantu dua asistennya, Alex Pastoor dan Denny Landzaat. Kluivert dikontrak dua tahun dari 2025 hingga 2027 dengan opsi perpanjangan.  

KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS)
12-01-2025

Kluivert meninggalkan filosofi ofensif yang ditampilkan pada laga debutnya. Di kandang tim langganan Piala Dunia, Australia, dia mencoba bermain agresif dengan pertahanan blok tinggi dan tekanan man-to-man ala klub Liga Inggris. Hasilnya, timnas pulang dengan keunggulan penguasaan bola 60-40 persen dan jumlah tembakan 11-9, serta rasa malu karena takluk 1-5.

Matanya terbuka sesaat. Mantan pemain timnas Belanda dan Barcelona ahli waris filosofi total football itu mengakui, prinsip pragmatis ala Shin lebih efektif untuk timnas. ”Bermain dengan gaya nyaman itu penting, dan paling utama adalah menang dan lolos ke Piala Dunia,” ujar Kluivert seusai menang atas China, Juni 2025. 

”Tobat sambal”

Ke mana hilangnya sosok bijak itu pada putaran keempat? Kluivert hanya ”tobat sambal”. Dia datang lagi dengan ide bereksperimen di laga terpenting dalam sejarah timnas, versus tuan rumah Arab Saudi, awal Oktober lalu. Formasi empat bek sejajar yang akrab dengan sepak bola modern diperkenalkan.

Pergantian formasi hanya gunung es dari banyak problem lain. Kluivert menurunkan pemain yang tak sesuai posisi asli, seperti Yakob Sayuri di bek sayap kanan. Trio bek tengah Idzes, Rizky Ridho, dan Justin Hubner yang selalu menjadi jimat kemenangan timnas dilewatkan begitu saja.

Tak perlu arsitek ternama untuk melihat kemiringan Menara Pisa. Sama halnya dengan timnas, tidak perlu ahli taktik untuk melihat betapa janggal taktik Kluivert saat bertemu Arab Saudi. Akibat jarak pemain terlalu lebar, serangan dan pertahanan tim ”Garuda” kehilangan struktur. 

Pertahanan Indonesia tak setinggi di Australia. Skema man-to-man juga dilupakan. Namun, semua tetap kacau karena disiplin dan penempatan posisi yang buruk. Para pemain tampak kaget dengan sistem dari formasi baru. Jika bukan karena aksi heroik Maarten Paes, timnas pasti kalah lebih dari 2-3.

Jika diibaratkan, Shin adalah teknisi yang menciptakan mobil dengan batas kecepatan 100 kilometer per jam. Kluivert mengambil alih mobil, lalu berakselerasi melebihi batas. Masalahnya, dia mengulang kesalahan di saat sudah mengetahui kapasitas mobil. Kecelakaan di Australia bisa dimaafkan, tetapi tidak dengan di Arab Saudi yang penuh kenaifan.

Pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert menyapa suporter Indonesia usai pertnadingan melawan Timnas China pada laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 putaran ketiga Grup C di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/6/2025). Timnas Indonesia mengalahkan China dengan skor 1-0. ANTARA FOTO/Fauzan/mrh/tom.

Setelah kalah, alasan utama Kluivert adalah waktu persiapan yang minim. Dia tidak bisa menyiapkan skema dengan sempurna. ”Fakta bahwa pemain bermain di luar negeri, kami tidak bisa berlatih bersama. Pemain terakhir datang kemarin dan itu tidak bagus untuk mempersiapkan diri,” katanya.

Kluivert sangat sadar tentang keterbatasan waktu. Lantas, mengapa dia masih bereksperimen untuk hal yang belum terbukti bisa berhasil di momen hidup atau mati? Dia seolah mengambil jalur berliku yang penuh dengan jurang saat ada jalan lurus sederhana di depan mata. 

”Cacing” atau ”naga”

Keputusan itu membuatnya seolah bertaruh dalam prinsip ”cacing cacing naga naga” yang sering digunakan dalam konteks investasi akhir-akhir ini. Prinsip tersebut berarti mempertaruhkan segala yang dimiliki. Hasilnya antara menang besar dan jadi ”naga” atau justru kalah total dan jadi ”cacing”.

Bayangkan jika timnas menang atas Arab Saudi, lalu lolos ke Piala Dunia. Kluivert pasti sudah dipuji setinggi langit dan dielu-elukan sebagai seorang jenius taktik. Sebaliknya, ketika kalah, konsekuensinya adalah dihujat ratusan juta penduduk Indonesia seperti yang terjadi sepekan terakhir. 

Kluivert dengan sadar mengambil konsekuensi itu. Dari perspektifnya, semua terasa masuk akal. Lebih baik gagal dengan cara sendiri daripada sukses di balik bayang-bayang orang lain. Apalagi, dia datang sebagai pelatih yang punya filosofi sendiri. Filosofinya bagai bumi dan langit dengan Shin.

Ego dalam diri Kluivert pada akhirnya menang, tetapi sang pelatih kalah dalam pertaruhan besarnya. Dia menjadi ”cacing” yang tidak berdaya, dipecat PSSI dan kehilangan rasa hormat dari masyarakat. Kluivert dan tim kepelatihan dijadikan kambing hitam kegagalan Indonesia.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir bersalaman dengan Pelatih timnas Indonesia Patrick Kluivert pada pelepasan tim menuju Sydney, Australia, Minggu (16/3/2025). Kluivert akan jalani debut sebagai pelatih skuad "Garuda" menghadapi Australia, 20 Maret.

Sangat jelas, hal yang membuat Kluivert dipecat adalah dirinya sendiri. Namun, kegagalan timnas merupakan dosa kolektif. Apakah dia datang dengan inisiatif sendiri untuk melatih Indonesia? Dia hanyalah seorang pelatih profesional yang bekerja setelah dikontrak.

Kluivert direkrut dengan sadar bersama filosofi yang berbanding terbalik dengan pelatih sebelumnya dan rekam jejak yang terbilang meragukan. Bibit masalah itu yang kemudian bermekaran pada hari ini. Lalu, sampai kapan ”cacing” yang sudah tak berdaya itu akan terus-terusan diinjak sendirian?


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji