Perlombaan panjat tebing speed kian sengit, catatan waktu makin cepat: 4,6 detik! Rekor dunia Samuel Watson melecut semangat para pemanjat Indonesia merebutnya lagi.
04 Mei 2025 13:35 WIB · Olahraga
Apa yang bisa kamu lakukan dalam waktu 4,648 detik? Untuk membaca pertanyaan tersebut secara jelas saja, kita barangkali butuh waktu sepersekian detik lebih lama. Namun, pemanjat tebing speed Amerika Serikat, Samuel Watson, mampu menaklukkan dinding panjat setinggi 15 meter selama waktu tersebut.
Di dinding panjat yang berdiri di tepi laut Pulau Peninsula kawasan Nusa Dua, Badung, Bali, Sabtu (3/5/2025), Watson memecahkan rekor dunia panjat tebing atas namanya sendiri. Dia menajamkan catatan waktunya… dua kali!
Pemecahan rekor pertama tercipta pada pada babak semifinal seri Piala Dunia Panjat Tebing 2025 Bali dengan watu 4,67 detik. Watson lebih cepat dari rekor sebelumnya yang dipecahkan di Olimpiade Paris 2024 dengan 4,74 detik. Lalu, pada babak final, Watson menajamkannya lagi menjadi 4,64 detik.
”Penontonnya sangat luar biasa, cuacanya mendukung, semua cenderung berjalan lancar. Jadi, ini adalah tempat yang pas untuk melakukannya (memecahkan rekor dunia),” ucap Watson.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/04/cf95a9f8-9cfa-43ab-a275-63d5c91b3a8c_jpg.jpg)
Saat Watson memecahkan rekor dunia pada putaran final, matahari sudah tidak seterik saat babak kualifikasi. Awan yang berada di atas arena perlombaan sempat membuat sinar matahari tidak langsung menyoroti bumi.
Watson sebenarnya sudah sesumbar akan memecahkan rekor dunia sejak sebelum perlombaan seri Piala Dunia 2025 di Wujiang, China, pekan lalu. Apalagi, saat latihan, pemanjat berusia 19 tahun ini sudah bisa melakukannya.
Namun, di Wujiang, Watson gagal mewujudkan ambisi itu. Tak ada rekor dunia baru dari Watson ataupun pemanjat lainnya. Dia juga pulang tangan hampa setelah dikalahkan pemanjat Indonesia, Kiromal Katibin, pada babak semifinal.
Watson lalu membayarnya tuntas di Bali. Setelah mencatatkan waktu tercepat kedua pada babak kualifikasi, Watson konsisten finis dalam waktu di bawah 5 detik pada putaran final. Dia juga meraih medali emas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/04/18035450-4c5e-44ab-93bb-d26b73d803c0_jpg.jpg)
Di satu sisi, panjat tebing adalah olahraga yang pada dasarnya tidak memungkinkan Anda untuk 100 persen konsisten.
Saat semifinal, Watson berhadapan dengan wakil Indonesia, Raharjati Nursama. Di atas kertas, jika menilik rekor catatan waktu keduanya, Watson unggul atas Raharjati. Masuk akal apabila Watson lebih percaya diri untuk menjadikan pemanjatan itu ajang memecahkan rekor pribadi.
Saat final, kondisinya lebih ideal. Lawan Watson, Ryo Omasa (Jepang), false start. Berdasarkan aturan Federasi Panjat Tebing Internasional (IFSC), pemanjat diperbolehkan mengulang pemanjatannya apabila perlombaan dihentikan karena lawannya false start.
Watson akhirnya memanjat kembali sendirian. Peraih medali perunggu Olimpiade Paris 2024 ini tampak lebih nyaman dan percaya diri dibandingkan dengan pemanjatan-pemanjatan sebelumnya. Apalagi, dia mendapatkan dukungan juga dari penonton.
Sejak awal perlombaan, setiap nama Watson dipanggil pembaca acara, selalu terdengar sorak-sorai dari penonton. Watson disambut antusias oleh mereka.
Para penonton, yang rela berpanas-panasan, tidak ingin melewatkan aksi sang pemegang rekor dunia. Mereka akhirnya mendapatkan suguhan menarik dari Watson.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/04/a0606ffa-c772-43fa-8a3e-8fad72531c47_jpg.jpg)
”Sejujurnya, tidak banyak perbedaan antara Wujiang dan Bali. Di satu sisi, panjat tebing adalah olahraga yang pada dasarnya tidak memungkinkan Anda untuk 100 persen konsisten. Saya hampir menang di Wujiang, jadi saya tidak terlalu kecewa dengan itu,” ucap Watson.
”Pulang sebagai peringkat keempat, sedikit di bawah ekspektasi. Namun, setelah kompetisi, saya menelepon pelatih saya, dan dia mengatakan kepada saya untuk menerima daya saing saya, menerima hal-hal yang membuat saya hebat, dan melakukan apa yang saya lakukan lagi, dan hasilnya luar biasa,” ujarnya lagi.
Rekor Watson menunjukkan bagaimana persaingan panjat tebing kian sengit. Dia telah melesat, menciptakan batas atas yang semakin cepat, serta membuatnya menjaga jarak dari para pemanjat tebing lainnya.
Di sisi lain, pemecahan rekor dunia ini juga semakin memberi tantangan dan cambukan bagi pemanjat Indonesia untuk kembali melakukan hal yang sama. Sebelum Watson muncul dalam daftar pemegang rekor dunia, nama pemanjat Indonesia lebih dulu menghiasi daftar itu sejak 2021.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/03/ba10f2fc-cf85-4562-918b-5eab85f0a47f_jpg.jpg)
Kiromal merupakan pemanjat putra Indonesia yang mengawali sejarah pemecahan rekor dunia dengan melampaui catatan waktu pemanjat Iran, Reza Alipour (5,48 detik), yang dicetak pada seri Piala Dunia 2017 di Nanjing, China. Dia memecahkan rekor dunia milik Alipour dengan catatan 5,25 detik pada seri Piala Dunia 2021 di Salt Lake City, Amerika Serikat, 28 Mei 2021.
Rekor itu dipecahkan di ajang yang sama oleh pemanjat Indonesia, Veddriq Leonardo, dengan 5,20 detik. Setelah itu, Veddriq dan Kiromal bergantian memecahkan rekor dunia.
Pada 2022, Kiromal kembali memecahkan rekor dunia dan menajamkannya hingga empat kali dalam beberapa seri Piala Dunia. Kiromal bahkan menjadi pemanjat pertama yang bisa memanjat dalam waktu 5 detik pada Piala Dunia Chamonix, Perancis, 2022.
Rekor itu dipecahkan setahun kemudian oleh Veddriq. Di Piala Dunia Seoul, Veddriq menjadi manusia pertama yang bisa memanjat di bawah lima detik, tepatnya 4,98 detik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/04/6462e83b-7777-48b8-ae10-191721e21467_jpg.jpg)
Sementara nama Kiromal ”menghilang” dari daftar pencetak rekor dunia sepanjang 2023 dan 2024, Veddriq tergantikan Watson sejak seri Piala Dunia 2024 Wujiang. Watson juga dua kali memecahkan rekor dunia pada ajang tersebut.
Sebenarnya, di panggung Olimpiade Paris 2024, Veddriq sempat memecahkan rekor dunia. Veddriq menyamai catatan waktu 4,79 detik milik Watson.
Namun, Watson menajamkan catatan waktunya dua kali untuk meneguhkan posisinya sebagai pemegang rekor dunia. Setelah mencatatkan 4,75 detik pada babak eliminasi, Watson menajamkannya menjadi 4,74 pada small final atau perebutan tempat ketiga.
Watson kembali menjauh. Sejak saat itu, belum ada yang menggoyahkan posisinya sebagai manusia tercepat di dinding panjat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/03/fc59b7fe-e755-498e-8e12-5d5ef4704861_jpg.jpg)
Tahun ini, ketika panjat tebing speed Indonesia diprogramkan dalam fase cooling down setelah melewati tahun yang padat pada 2024, para atletnya kembali berburu rekor dunia. Ada pola pikir berbeda ketika yang dikejar adalah rekor, alih-alih medali.
Kiromal, misalnya, sempat terpeleset ketika mencoba melakukannya pada semifinal. Kata pemanjat asal Batang, Jawa Tengah, ini, dia mengeluarkan tenaganya 100 persen. Risikonya tinggi. Jika fokus terganggu sedikit saja, terpeleset akan sangat mungkin terjadi.
Dengan rekor dunia yang makin mengecil waktunya, Kiromal semakin termotivasi untuk mengejar. Pemanjat berusia 24 tahun ini sudah menunjukkan peningkatan dengan memecahkan rekor pribadi 4,75 detik di Wujiang. Saat itu, dia menipiskan jarak ke rekor dunia hanya menjadi 0,01 detik saja.
Target Kiromal adalah menajamkan waktunya menjadi 4,6 detik. Dengan Watson sudah mencapai angka itu, dia bertekad untuk meraih waktu lebih cepat lagi. ”Saya optimistis itu bisa dipecahkan,” kata Kiromal selepas meraih medali perunggu di Bali.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/04/91681581393534308e146fb2683a44a8-DSC06284.JPG)
Veddriq juga sama. Pemecahan rekor dunia menjadi target utama para pemanjat Indonesia, termasuk Veddriq, ketika ditanya ambisi mereka pada tahun ini.
”Saya ingin catatan waktu lebih tajam, lebih kecil. Kalau bisa memang pecah rekor lagi, itu jadi target, apalagi dulu pernah pegang rekor dunia. Jadi, harapannya bisa meraih prestasi itu lagi, selain mempertahankan prestasi di Olimpiade,” ujar Veddriq.
Target itu tentu tidak terlalu muluk bagi Veddriq yang punya pengalaman memecahkan rekor dunia sekaligus meraih medali emas Olimpiade. Namun, tahun ini, dia juga berpacu dengan pemulihan cedera jari yang sudah menderanya sejak sebelum Olimpiade.
Di Wujiang, yang jadi turnamen pertamanya tahun ini, Veddriq tersisih pada babak kualifikasi. Pada dua kali pemanjatan, catatan waktu Veddriq masih pada angka 5 detik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/04/ec2efe78-fe80-4f9f-aa1d-50d64a38f0c1_jpg.jpg)
Hingga babak 16 besar di Bali, catatan waktu Veddriq juga masih pada angka 5 detik. Namun, meski belum berhasil mengantarnya ke semifinal, Veddriq berhasil memanjat lebih cepat pada perempat final dengan finis dalam waktu 4,97 detik.
Sementara itu, pada sektor putri, rekor dunia masih dipegang oleh Aleksandra ”Ola” Miroslaw sejak 2021. Ola bahkan makin mendekati pencapaian baru setelah menajamkan rekornya di Olimpiade Paris 2024 dengan catatan waktu 6,06 detik.
Rekor Ola juga jadi tantangan dan cambuk bagi pemanjat putri Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi. Setelah Aries Susanti memecahkan rekor dunia pada 2019, belum ada lagi pemanjat putri Indonesia melakukan hal yang sama.
Desak pernah mencetak waktu 6,364 detik, memecahkan rekor Asia pada Asian Games Hangzhou 2022. Pemanjat asal Buleleng, Bali, ini menargetkan tak hanya melampaui waktu Ola, tetapi juga menjadi pemanjat putri pertama yang bisa meraih waktu di bawah 6 detik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/04/b3ce63a2-7f5b-4561-a9ad-d38028b46623_jpg.jpg)
”Biarkan Ola menjadi Ola dan Desak menjadi Desak. Yang penting Desak fokus pada tujuan sendiri,” ucap Desak saat ditanya optimismenya mengejar Ola.
Dengan rekor dunia yang terus terpecahkan berulang kali, dunia panjat tebing speed bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Pada titik inilah, para pemanjat, terutama dari Indonesia, membawa ambisi untuk terus menantang diri, menembus batas kemampuan, bahkan jika itu melawan gravitasi.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .