PENYAKIT MENULAR

Campak Juga Terjadi pada Usia Dewasa, Gejala Tidak Khas dan Bisa Lebih Berat

Penularan campak pada usia dewasa bisa lebih berat, terutama pada mereka yang belum pernah menjalani vaksinasi campak serta memiliki penyakit penyerta.

11 Mar 2026 14:36 WIB · Kesehatan

KOMPAS/RIZA FATHONI

Oleh Deonisia Arlinta

JAKARTA, KOMPAS — Penyakit campak biasanya identik dengan penularan terhadap anak-anak. Namun, penyakit ini juga harus diwaspadai oleh orang dewasa. Campak di usia dewasa bisa memberikan dampak lebih serius. Gejalanya pun sering kali tidak khas sehingga kerap terlambat ditangani.

Sekretaris Departemen Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung yang juga Ketua Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia (Perdalin) Cabang Bandung Rudi Wisaksana mengatakan, campak merupakan penyakit infeksi yang sangat menular. Penyakit ini tidak hanya menular kepada anak-anak, tetapi juga orang dewasa.

Gejala campak pada orang dewasa sebenarnya tidak berbeda dari anak-anak. Gejalanya yang biasa muncul adalah demam, bantuk, dan pilek. Setelah itu, muncul gejala berupa bercak khas di rongga mulut dan diikuti dengan ruam pada kulit. Ruam umumnya muncul dari bagian kepala lalu menyebar ke seluruh tubuh hingga kaki.

”Pada orang dewasa, penyakit ini bisa menjadi lebih serius dan perjalanan klinisnya sering kali lebih berat,” ujar Rudi dalam seminar web bertajuk ”Ancaman KLB Campak 2026: Respons Klinis Multidisiplin dan Ketahanan Sistem Kesehatan”, di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

infografik capaian imunisasi campak-rubela 2022-2025

Gejala yang lebih serius pada usia dewasa terutama terjadi terhadap individu yang belum memiliki kekebalan memadai. Sebagian populasi dewasa belum terpapar dengan program Imunisasi Campak Nasional sehingga belum pernah divaksin campak. Hal itu membuat mereka tidak mendapatkan perlindungan yang memadai terhadap virus campak.

Quote

Gejala yang lebih serius pada usia dewasa terutama terjadi terhadap individu yang belum memiliki kekebalan yang memadai.

Di lain sisi, sekalipun gejala campak tak jauh berbeda antara dewasa dan anak-anak, gejala pada dewasa kadang tak khas. Pada dewasa, gejala batuk, pilek, dan demam mungkin tak selalu ada. Ruam yang muncul juga bisa tidak khas. Hal itu bisa menyulitkan diagnosis pada tahap awal munculnya penyakit.

Komplikasi

Rudi menambahkan, risiko komplikasi campak juga patut diwaspadai pada usia dewasa. Sekitar 30 persen kasus dapat mengalami komplikasi yang sampai memerlukan penanganan medis lebih lanjut. Bahkan, pada beberapa kasus membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit yang lebih tinggi.

”Pneumonia adalah komplikasi yang paling sering dan dampaknya bisa fatal,” ucapnya. Pneumonia (radang paru-paru) bisa disebabkan langsung oleh virus campak atauupun oleh infeksi bakteri yang muncul karena daya tahan tubuh yang melemah.

Siswa MTs Negeri Model Makassar, Sulawesi Selatan, diimunisasi di ruang kelas, Rabu (1/8/2018). Sekolah ini juga menjadi tempat pencanangan gerakan imunisasi campak-rubela fase kedua nasional.
Seorang siswa SD YPPK PIce Tehu Sibena, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat terlihat tegang saat diimunisasi campak-rubela pada Agustus 2018 lalu. Papua Barat merupakan provinsi pertama di luar Jawa yang berhasil mencapai target cakupan  imunisasi MR minimal 95 persen.

Selain pneumonia, komplikasi lainnya berupa gangguan neurologis. Meski kondisi jarang ditemui, komplikasi ini tetap harus diwaspadai. Salah satu gangguan neurologis tersebut adalah ensefalitis akut. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan otak permanen atau kejang.

Rudi menyampaikan, campak juga dapat memicu terjadinya gangguan pada organ lain, seperti hati dan sistem pencernaan. Beberapa pasien dengan campak ditemukan dengan kondisi peningkatan enzim hati, penyakit kuning, serta diare yang berat.

Adanya komorbid atau penyakit penyerta memengaruhi risiko perburukan pada pasien yang tertular campak. Beberapa komorbid itu meliputi antara lain HIV, gangguan imunitas yang membutuhkan obat imunosupresan, penyakit paru kronis, diabetes melitus, malnutrisi, serta kehamilan.

Untuk penanganan campak, terapi yang diberikan lebih bersifat suportif. Sampai saat ini belum ada antivirus atau obat yang spesifik untuk virus campak. Penanganan difokuskan pada hidrasi atau pemenuhan cairan tubuh, pengendalian demam, serta pengobatan lain untuk mengatasi gejala yang muncul.

”Isolasi pasien juga sangat penting untuk mencegah penularan pada orang lain. Biasanya isolasi dilakukan sekitar empat hari sebelum ruam muncul sampai empat hari sesuai ruam muncul. Puncak penularan terjadi saat ruam muncul dengan gejala ISPA,” tutur Rudi.

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni menyampaikan, kewaspadaan akan penularan campak masih harus ditingkatkan.

Tercatat sepanjang 2025-2026 telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) campak di 102 kabupaten atau kota di 18 provinsi. Pada periode yang sama dilaporkan pula setidaknya 73 kasus kematian terjadi karena campak.

”Kondisi ini menunjukkan transmisi campak masih terjadi di masyarakat sehingga perlu kewaspadaan dan penguatan pengendalian berkelanjutan. Hal ini perlu menjadi perhatian mengingat campak merupakan penyakit amat menular dan bisa menimbulkan komplikasi berat,” tuturnya.

Imunisasi

Andi menyampaikan, imunisasi campak merupakan salah satu upaya yang efektif untuk mencegah terjadinya penularan serta risiko komplikasi akibat campak. Sayangnya, cakupan imunisasi campak masih rendah dan belum merata di Indonesia.

Pada 2025, cakupan imunisasi campak-rubella untuk dosis pertama sebesar 82,6 persen, sementara dosis kedua sebesar 77,6 persen. Padahal, cakupan imunisasi seharusnya lebih dari 95 persen.

Sebaran kasus campak di Indonesia pada 2025
Sebaran kasus campak di Indonesia pada 2026

”Kesenjangan cakupan imunisasi tersebut menyebabkan terbentuknya kelompok masyarakat yang rentan dan banyaknya daerah kantong imunisasi sehingga memudahkan terjadinya penularan dan berpotensi memicu kejadian luar biasa atau KLB,” tuturnya.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang juga dokter spesialis anak konsultan infeksi dan penyakit tropis RS Hasan Sadikin Bandung, Anggraini Alam, menuturkan, faktor lingkungan mempercepat risiko penyebaran virus campak. Faktor itu meliputi antara lain kepadatan penduduk, ventilasi buruk, dan sirkulasi udara yang kurang baik.

Untuk itu, warga diimbau agar bisa lebih waspada saat terjadi mobilitas tinggi, seperti libur panjang atau mudik Lebaran. Pertemuan dengan banyak orang dalam ruang tertutup meningkatkan risiko penularan penyakit. Perlindungan dengan imunisasi perlu dipastikan untuk mengurangi risiko penularan tersebut.

”Imunisasi merupakan cara paling efektif untuk melindungi anak dari campak dan komplikasinya. Anak perlu mendapatkan imunisasi campak sesuai jadwal agar kekebalan tubuh terbentuk secara optimal,” ujar Anggraini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Deonisia Arlinta
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra