BerandaUtamaCampak Masih Mengancam An...

Campak Masih Mengancam Anak-anak

Wabah campak melanda Madagaskar, negara di pantai timur Afrika. Campak masih mengancam anak-anak. Tak hanya di negara berkembang seperti Madagaskar, Filipina atau Indonesia, bahkan di Amerika Serikat yang telah mendeklarasikan eliminasi campak tahun 2000, masih ada kejadian luar biasa campak. Meski sangat menular, campak mudah dicegah, yakni dengan vaksinasi MMR atau MMRV.

15 Apr 2019 22:48 WIB · Utama

Oleh ATIKA WALUJANI MOEDJIONO

 Siswa SD YPPK PIce Tehu Sibena, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, diimunisasi campak-rubela pada Agustus 2018 lalu. Papua Barat merupakan provinsi pertama di luar Jawa yang berhasil mencapai target cakupan imunisasi MR minimal 95 persen.

Wabah campak melanda Madagaskar, negara kepulauan di pantai timur Afrika. Dalam tujuh bulan terakhir, di negara  dengan jumlah penduduk 26,2 juta itu dilaporkan ada  115.000 kasus campak, yang umumnya di bawah usia 15 tahun. Sebanyak 1.200 orang meninggal.

Sebelumnya, wabah campak  dilaporkan di Amerika Serikat. Menurut laman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, sejak 1 Januari hingga 4 April 2019 tercatat ada 465 kasus di 19 negara bagian. Ini merupakan kejadian kedua meski campak dinyatakan telah dieliminasi dari AS tahun 2000.

Awal  2019, sejumlah wilayah di Filipina, seperti Luzon, Calabarzon, Mindanao, dan Visayas, termasuk Metro Manila, juga dilanda wabah campak. Pengumuman  resmi disampaikan pada Februari 2019. Sejauh ini dilaporkan ada 23.563 kasus dengan 338 kematian.

Sangat menular

Campak merupakan penyakit sangat menular yang disebabkan  golongan Paramixovirus. Penularan terjadi lewat udara saat penderita batuk atau bersin. Gejala campak adalah  demam  lebih dari 38 derajat Celsius, batuk, pilek, dan mata merah berair. Dua-tiga hari kemudian timbul bercak putih (Koplik spots) di  mulut. Selanjutnya, timbul bercak merah di muka, menjalar ke seluruh tubuh.

Umumnya yang terkena campak adalah mereka yang tidak mendapat vaksinasi. Data UNICEF, cakupan imunisasi di Filipina saat ini  74 persen, turun dari 10-15 tahun lalu yang 88 persen.

 Nome memangku Dauphin (6) yang mengalami gagal tumbuh (stunting) dan terinfeksi campak di dekat klinik di Fort dauphin, Madagaskar, Kamis (28/3/2019).

Sementara cakupan imunisasi campak di Madagaskar hanya 58 persen. Jumlah itu jauh dari cakupan  yang diperlukan untuk mencegah wabah, yakni 90-95 persen. Selain cakupan imunisasi rendah, hampir 50 persen anak di negara itu berstatus kurang gizi. Hal itulah yang memicu merebaknya campak.

Sebelum vaksin campak ditemukan tahun 1963, diperkirakan 3 juta-4 juta orang di AS terkena campak setiap tahun. Sebanyak 400-500 orang di antaranya meninggal.

Vaksin campak (measles) biasanya dikombinasikan dengan vaksin gondong (mumps), campak jerman (rubella) menjadi vaksin MMR. Bisa juga ditambah vaksin cacar air (varicella) sehingga menjadi vaksin MMRV.

Situasi Indonesia

Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan 2018, sepanjang   2010-2015 diperkirakan terdapat 23.164 kasus campak dan 30.463 kasus rubella. Jumlah kasus ini diperkirakan masih rendah dibanding angka sebenarnya di lapangan. Hal itu mengingat masih banyak kasus tidak terlaporkan.

Incidence rate campak di Indonesia pada  2011-2017 cenderung menurun, dari 9,2 menjadi 5,6 per 100.000 penduduk.

 Petugas memberi imunisasi campak rubela (measles-rubella/MR) kepada siswa SD di Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Selasa (7/8/2018). Di tengah pro dan kontra pemberian imunisasi, pemerintah daerah tetap melaksanakan program imunisasi MR tanpa paksaan demi generasi yang lebih terlindungi.

Pengendalian campak di Indonesia diawali  tahun 1982 lewat Program Imunisasi Nasional. Dosis pertama vaksin MMR diberikan pada anak usia 9 bulan. Dosis kedua diberikan pada anak kelas I sekolah dasar saat kegiatan  Bulan Imunisasi Anak Sekolah.

KLB campak meningkat dari 27 provinsi di tahun 2015 menjadi 30 provinsi di tahun 2017. Hal ini  disebabkan peningkatan kewaspadaan dini terhadap kasus campak. Kondisi ini  ditindaklanjuti dengan upaya penanggulangan, antara lain melalui kampanye imunisasi campak rubella (MR) pada  Agustus dan September tahun 2017 yang menurunkan KLB campak secara signifikan. Indonesia menargetkan eliminasi campak pada 2020.


Kerabat Kerja

Penulis:

ATIKA WALUJANI MOEDJIONO
 | 

Editor:

hamzirwan