PENYAKIT MENULAR

Campak yang Terabaikan

Kewaspadaan akan penularan penyakit campak ditingkatkan seiring dengan adanya notifikasi dua warga negara Australia terkena campak sepulang dari Indonesia.

03 Mar 2026 07:08 WIB · Tajuk Rencana

KOMPAS/RIZA FATHONI

Oleh Redaksi

Penyebaran campak di Indonesia tak kunjung usai. Kewaspadaan akan penularan penyakit infeksi tersebut ditingkatkan berkaitan dengan adanya dua warga negara Australia yang tertular campak sepulang dari Indonesia.

Pemerintah Indonesia baru-baru ini secara resmi menerima notifikasi dua kasus campak warga negara Australia dengan riwayat perjalanan dari Indonesia. Satu kasus berusia 18 tahun sepulang dari Bandung, sedangkan kasus kedua berusia 6 tahun dengan riwayat perjalanan dari Sumatera dan Jakarta. Keduanya dinyatakan telah sembuh.

Penyelidikan epidemiologi dilakukan selama 24 jam setelah penemuan kasus disertai komunikasi dengan Australia’s International Health Regulations National Focal Point (IHR NFP). Surveilans campak pun diperkuat, terutama di wilayah-wilayah yang melaporkan kejadian luar biasa (KLB) pada 2025-2026.

Sejak 1 Januari sampai 23 Februari 2026, Kementerian Kesehatan telah menemukan 8.224 kasus campak dengan empat kematian di Indonesia. Pada periode itu ada 21 KLB suspek campak di 17 kabupaten atau kota di 11 provinsi (Kompas, 27/2/2026).

Infografik Kasus Campak di Indonesia Sepanjang 2025

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), campak merupakan penyakit infeksi virus yang mudah menyebar melalui udara dari percikan cairan dari saluran napas orang yang terinfeksi ketika batuk dan bersin. Campak paling umum terjadi pada anak-anak.

Gejala campak berupa batuk, pilek, mata meradang, sakit tenggorokan, demam, dan ruam kulit. Pasien dengan daya tahan tubuh rendah maupun malanutrisi bisa mengalami komplikasi serius seperti kebutaan, diare parah dan dehidrasi, infeksi telinga, radang paru, radang otak, bahkan kematian.

Jika seorang perempuan tertular campak selama kehamilan, hal ini dapat membahayakan ibu dan mengakibatkan bayi lahir prematur dengan berat badan rendah. Komplikasi paling sering terjadi pada anak-anak berusia di bawah lima tahun dan orang dewasa berusia di atas 30 tahun.

Di Indonesia, penemuan kasus campak melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Kasus suspek campak pada 2024 yang dilaporkan 25.639 kasus. Angka kasus melonjak tahun 2025 dengan jumlah pasien suspek campak 64.822 orang dan 18 kasus kematian. Mayoritas anak yang meninggal belum divaksin campak.

Anak mendapatkan vaksinasi campak  saat berlangsung Pekan Imunisasi Serentak di Posyandu Garuda, Kelurahan Tegalsari,  Kecamatan Tegalsari, Surabaya, Senin (15/9/2025). Pekan Imunisasi Serentak berlangsung dari 15-30 September 2025. Imunisasi bertujuan untuk melindungi anak dari penyakit berbahaya terutama campak. Khusus Imunisasi Tambahan Campak (ITC) dilakukan di 26 wilayah puskesmas sementara untuk Imunisasi Kejar Serentak (IKS) untuk melengkapi imunisasi rutin yang terlewat di seluruh wilayah puskesmas di Surabaya.

Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Tingginya kasus penyakit itu menunjukkan cakupan imunisasi campak belum optimal. Vaksinasi merupakan cara terbaik mencegah tertular campak atau menyebarkannya kepada orang lain. Meski vaksin yang aman dan hemat biaya telah tersedia, cakupan imunisasi campak di Indonesia terus menurun beberapa tahun terakhir.

Cakupan imunisasi

Data Kementerian Kesehatan mencatat, cakupan imunisasi campak-rubela dosis satu pada 2024 sebesar 92 persen dan turun jadi 82 persen pada 2025, dan cakupan imunisasi campak-rubela dosis kedua turun dari 82,3 persen pada 2024 jadi 77,6 persen pada 2025. Daerah dengan cakupan imunisasi rendah meliputi antara lain Papua dan Aceh.

Sekitar 800.000 anak belum mendapatkan imunisasi campak lengkap. Pada 2024 tercatat 823.646 anak di Indonesia belum mendapatkan imunisasi campak lengkap sampai dua dosis dan 597.446 anak di antaranya belum mendapat satu dosis pun vaksin campak.

Turunnya cakupan imunisasi membuat herd immunity atau kekebalan kelompok pada campak tak tercapai. Untuk mencapai target kekebalan kelompok, cakupan imunisasi lengkap harus lebih dari 95 persen. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan penularan campak terus meluas.

Tenaga kesehatan dari Puskesmas Kelurahan Cililitan memberikan suntikan imunisasi kepada anak balita di permukiman di kawasan RW 01 Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (22/8/2022). Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan 715.782 anak usia 9-59 di ibu kota bisa divaksinasi dalam kegiatan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) yang digelar pada 1-31 Agustus 2022. Imunisasi jemput bola ini dilakukan untuk menjangkau ke pemukiman warga yang Balitanya belum diimunisasi di Posyandu dan mengejar target layanan. Imunisasi BIAN dalam rangka akselerasi cakupan imunisasi Campak Rubela bagi anak usai 9-59 bulan. Selama 2 tahun terakhir sejak 2020 hingga 2021 cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi turun drastis. Pada 2020 target imunisasi sebanyak 92 persen sementara cakupan yang dicapai 84 persen pada 2021. Penurunan cakupan imunisasi diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Ada sekitar lebih dari 1,7 juta bayi yang belum mendapatkan imunisasi dasar selama periode 2019-2021. Pemerintah mengejar cakupan imunisasi yang kurang itu dengan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN). Hingga Juni 2022, sudah lebih dari 11 juta anak telah mendapatkan imunisasi campak rubela. Pelaksanaan BIAN dibagi atas dua tahap, tahap pertama diberikan bagi semua provinsi yang berada di luar Pulau Jawa dan Bali mulai bulan Mei 2022. Adapun tahap 2 dilaksanakan mulai Agustus 2022 di provinsi yang ada di Jawa dan Bali. Kompas/Riza Fathoni (RZF) 22-08-2022

Peningkatan kasus dan kejadian luar biasa campak di beberapa daerah juga menambah beban bagi masyarakat, tenaga kesehatan, dan negara. Penularan ini turut meningkatkan angka kesakitan dan kematian, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak.

Terkait hal itu, daerah-daerah dengan cakupan imunisasi rendah mesti mendapat perhatian lebih. Selain melakukan imunisasi kembali dengan outbreak response, sosialisasi secara masif mengenai pentingnya imunisasi mesti melibatkan semua pihak terkait, termasuk tokoh agama.

Lonjakan kasus campak tak hanya menjadi tanda cakupan imunisasi campak buruk, tetapi juga mencerminkan layanan kesehatan primer belum menjangkau populasi paling berisiko. Upaya kolektif harus segera dilakukan untuk menjangkau kelompok rentan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar