Demi menarik wisatawan untuk datang, Afghanistan membuat video promosi wisata. Gabungan visual kekerasan dan keindahan alam dalam video menuai reaksi.
09 Jul 2025 17:03 WIB · Internasional
Konflik selama hampir empat dekade membuat wisatawan asing ataupun pengunjung menjauhi Afghanistan. Setelah Taliban mengambil alih kekuasaan pada 2021, Afghanistan kini mulai membuka diri. Pariwisata menjadi pintu masuk bagi para wisatawan ataupun pengunjung lain ke Afghanistan.
Namun, sebuah video promosi wisata Taliban bisa jadi malah membuat calon wisatawan mundur dan enggan datang ke negara yang berbagi perbatasan dengan Pakistan, Iran, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tajikistan itu. The Economic Times pada Selasa (8/7/2025) memberitakan, demi menarik kunjungan wisatawan, penguasa Taliban membuat video promosi pariwisata.
Video perjalanan berdurasi satu menit itu dibagikan melalui akun @afghanarabc di X pada Sabtu (5/7/2025). Dihadapkan pada video perjalanan, tentu pemirsa ingin mendapat suguhan menarik seperti pemandangan alam indah atau bangunan bersejarah hingga kuliner yang menggugah selera.
Memang, video itu menampilkan jalur pegunungan menarik, pasar tradisional, hingga lanskap gurun. Namun, tiba-tiba video juga menampilkan rekaman vulgar yang menyerupai adegan sandera yang tengah diancam dengan senjata. Adegannya mirip dalam film-film berlatar militer.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/09/85da2325f5ebf1985dcbb798ea3a5107-AFGHANISTAN_LIFESTYLE_130986017.jpg)
Semua gambar dalam video ditampilkan dengan cara penyuntingan seperti yang dilakukan para pemengaruh modern dalam vlog-vlog perjalanan mereka. Tepatnya mulai dari penggunaan musik latar yang ceria hingga transisi gambar, semua meniru vlog perjalanan bergaya pemengaruh modern.
Tentu saja video tersebut mengejutkan penonton di seluruh dunia. Perpaduan aneh antara ”kekerasan” dan keindahan alam ini jelas ditujukan untuk mengubah citra Afghanistan di mata dunia. Meskipun mencoba menawarkan ketegangan ala film bergenre perang, video tersebut mendapat reaksi cukup keras. Video itu juga memicu perdebatan mengenai upaya Taliban mengubah citra mereka.
Dengan musik yang ceria dan ”pertunjukan keras”, video tersebut meninggalkan kesan mengerikan. Perpaduan perang dan pariwisata dinilai meresahkan dan menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan, propaganda, dan hak asasi manusia di Afghanistan yang dipimpin Taliban.
Dengan cepat video itu menuai reaksi dari penonton di X dan sejumlah platform media sosial. Penonton menggambarkan video perjalanan tersebut sebagai ”menyeramkan”, ”mengganggu”, dan ”sangat ironis”.
Seorang pengguna media sosial berkomentar, ”Bagaimana mereka bisa mempromosikan pariwisata dengan gambar yang terlihat seperti kejahatan perang?” Pengguna lain menulis, ”Ini bukan iklan perjalanan. Ini peringatan.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/09/c0b95075709cd845b84dbd027c6b86f8-AFGHANISTAN_RELIGION_ISLAM_SHIITE_ASHURA_131055879.jpg)
Sementara para pengamat menyebut video tersebut merupakan bentuk propaganda lunak. Taliban mencoba membentuk persepsi publik sambil tetap mempertahankan identitas militan mereka.
Ibraheem Bahiss, analis urusan Afghanistan, kepada Al Jazeera pada bulan Maret mengatakan, ”Taliban sangat sadar akan citra mereka, tetapi sering salah memperhitungkan apa yang menarik bagi dunia luar.”
Namun, Taliban tak gentar. Sejak kembali berkuasa pada Agustus 2021, Taliban telah mencoba berbagai cara agar tampak lebih ”normal” di mata dunia luar. Mempromosikan pariwisata adalah salah satu upaya Taliban.
”Orang-orang Afghanistan hangat dan ramah dan ingin menerima wisatawan dari negara lain dan berinteraksi dengan mereka,” kata Wakil Menteri Pariwisata Afghanistan Qudratullah Jamal kepada The Associated Press (AP) dalam sebuah wawancara pada awal Juni.
”Pariwisata membawa banyak manfaat bagi suatu negara. Kami telah mempertimbangkan manfaat tersebut dan bertujuan agar negara kami memanfaatkannya sepenuhnya,” ucap Jamal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/09/01f04e4f28ecd4f296339e561e9332be-Afghanistan_Tourism_130893707.jpg)
Pariwisata merupakan industri penting bernilai miliaran dollar AS bagi banyak negara. Afghanistan yang kesulitan menarik investasi asing kemudian menaruh perhatian ke sektor pariwisata.
Demi kemudahan kunjungan, Taliban membuat visa turis dapat diperoleh dengan cepat dan mudah. Selain itu, volume penerbangan dari bandara-bandara transit seperti Dubai dan Istanbul ke Kabul ditingkatkan. Pemerintah juga mendirikan lembaga pelatihan khusus untuk pria yang mencari pekerjaan di sektor perhotelan dan pariwisata.
Sejauh ini jumlah wisatawan asing masih sedikit. Namun, angkanya terus meningkat. Hampir 9.000 wisatawan asing mengunjungi Afghanistan tahun lalu. ”Sementara hampir 3.000 orang berkunjung dalam tiga bulan pertama tahun ini,” kata Jamal.
Menurut Business Insider, hampir 14.500 orang asing telah mengunjungi Afghanistan sejak Taliban mengambil alih kekuasaan. Banyak dari pengunjung ini berasal dari Rusia, China, Turki, dan negara-negara Timur Tengah. Mereka yang berkunjung adalah para pemengaruh dan vloger yang suka mencari sensasi.
”Saat ini kami memperoleh pendapatan yang cukup besar dari industri ini. Kami berharap pendapatan ini akan semakin meningkat di masa mendatang,” kata Jamal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/09/7af1a51ddd120846109fab9cfa511a41-AFGHANISTAN_LIFESTYLE_ECONOMY_131080915.jpg)
Uang yang dibelanjakan para pengunjung dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat daripada pendapatan dari industri lain. Jamal optimistis, sektor pariwisata akan berkembang menjadi ekonomi besar, yang mendatangkan manfaat yang signifikan.
”Sektor ini memainkan peran penting dalam memperkuat ekonomi nasional kita,” ujar Jamal.
Sayangnya, meski pemberontakan sudah berakhir, tensi kekerasan masih terjadi di sejumlah wilayah di Afghanistan. Serangan masih terjadi. Afiliasi ISIS di Afghanistan masih aktif.
Dalam serangan bersenjata pada Mei 2024 di Bamiyan, sejumlah orang dengan senapan serbu menyerang dan menewaskan enam orang, termasuk tiga turis dari Spanyol. Bamiyan merupakan salah satu obyek wisata utama di Afghanistan. Di tempat itu terdapat patung Buddha raksasa berusia berabad-abad yang diukir di tebing dan diledakkan Taliban pada tahun 2001.
Alhasil, negara-negara Barat masih menyarankan warganya untuk tidak bepergian ke Afghanistan. Negara-negara Barat melarang dengan alasan keamanan dan keselamatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/09/2fe18190e547de569a70b04112f9f3ce-Afghanistan_Tourism_130893701.jpg)
Jamal pun meyakinkan bahwa seluruh wilayah Afghanistan aman untuk wisatawan asing. ”Afghanistan telah melalui perang dan kesulitan selama bertahun-tahun. Sekarang, kami ingin wisatawan datang dan melihat tradisi dan adat istiadat Afghanistan yang sebenarnya, untuk memahami kehidupan, kreativitas, dan ketahanan Afghanistan,” tutur Jamal.
Selain isu keamanan, pertanyaan tentang etika berkunjung mengemuka. Pemerintah Taliban dikenal sangat mendiskriminasi separuh penduduk negara itu dengan sangat ketat.
Pendidikan di atas jenjang sekolah dasar dilarang bagi anak perempuan dan perempuan. Hanya sedikit profesi yang terbuka bagi mereka.
Perempuan tidak diperbolehkan memasuki taman, kebun, atau pusat kebugaran. Salon kecantikan dilarang. Pihak berwenang mendikte cara berpakaian perempuan dan mewajibkan mereka menutupi wajah di depan umum. Di Kabul, aturan ini masih dilanggar oleh banyak orang.
Menurut Human Rights Watch dan Amnesty International, Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban mengalami penindasan yang meluas, terutama terhadap perempuan, minoritas, dan jurnalis. Pada tahun 2024, Afghanistan menduduki peringkat salah satu negara paling tidak bebas di dunia menurut Freedom House.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/09/27111814a1dfadb135baccf4f1108022-TOPSHOT_AFGHANISTAN_LIFESTYLE_WOMEN_130923965.jpg)
Perlakuan terhadap perempuan sangat sensitif bagi pejabat pemerintah Taliban. Jamal menolak berkomentar lebih lanjut tentang hal ini.
Jamal kemudian mempersilakan pengunjung laki-laki dan perempuan untuk datang ke Afghanistan. ”Mereka yang menghormati hukum dan tradisi kami sudah datang dan boleh terus datang,” ucap Jamal.
Hanya saja, meski pelonggaran bagi pengunjung asing perempuan terjadi, mereka tetap harus mengenakan jilbab di tempat umum. Perempuan asing lebih mungkin masuk ke beberapa area terlarang seperti taman dan jarang diminta untuk menutupi wajah mereka di tempat umum.
Dengan jaminan dari Jamal, betulkah Afghanistan sudah terbuka untuk pariwisata? The Economic Times menulis, secara teknis sudah. Namun, calon wisatawan tetap harus memikirkan dan memahami risiko berkunjung ke sana.
Pemerintah Barat, termasuk AS, Inggris, dan Kanada, tetap menyarankan warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke Afghanistan. Alasan yang dikemukakan terkait ancaman terorisme, penahanan sewenang-wenang, dan runtuhnya sistem hukum formal.
Beberapa pemengaruh dan turis diketahui sudah berkunjung dan kembali dengan selamat. Namun, sebagian besar perjalanan mereka diatur melalui pemandu yang disetujui Taliban. Kunjungan juga dilakukan dengan batasan yang ketat.
Turis perempuan sering kali menghadapi pembatasan tambahan. Mereka di antaranya dilarang memasuki area publik tertentu.
Meski demikian, Jamal meyakini, membuka negara untuk pengunjung asing juga merupakan cara untuk membangun ”jembatan”.
”Ini adalah cara yang bagus untuk meningkatkan interaksi antarwarga negara. Ini membantu membangun hubungan internasional dan juga bermanfaat bagi perdagangan,” kata Jamal kepada AP.
”Ketika orang asing datang ke sini, warga Afghanistan juga belajar banyak dari mereka. Selain memperluas perdagangan, pariwisata juga membantu memupuk saling pengertian, pertukaran budaya, dan memperkuat bakat karena orang-orang saling belajar,” tutur Jamal. (AP)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul