Perusahaan pertambangan diminta menghindari tambang baru di area yang memiliki ”karbon yang tidak dapat dipulihkan”, yaitu hutan hujan tua dan hutan bakau.
23 Jan 2025 10:46 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Nikel menjadi salah satu material penting dalam infrastruktur energi terbarukan, seperti baterai dan baja tahan korosi, dengan permintaan yang cenderung meningkat. Namun, banyak studi yang menunjukkan tambang nikel di kawasan hutan menyebabkan ancaman lebih parah terhadap iklim.
Studi para peneliti dari University of Queensland (UQ) di jurnal Nature Communications melaporkan tentang dampak buruk tambang nikel terhadap lingkungan. Evelyn Mervine dari Fakultas Lingkungan UQ menganalisis data dari 481 lokasi tambang nikel internasional dan menemukan jejak emisi dari lahan penambangan nikel bisa empat hingga 500 kali lebih besar dari yang dilaporkan sebelumnya. Termasuk yang dikaji adalah nikel di kawasan Indonesia.
”Nikel umumnya digunakan dalam infrastruktur energi terbarukan, seperti pada baterai dan baja tahan korosi, dan permintaan diperkirakan akan berlipat ganda pada tahun 2050 untuk mendukung teknologi rendah karbon,” kata Mervine, dalam keterangan yang dikeluarkan UQ, Selasa (21/1/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/06/16/494316bc-083b-486f-a8de-3a1750350b73.jpg)
Nikel adalah salah satu logam yang paling mudah didaur ulang dan, menurut Nickel Institute, sekitar 68 persen sudah didaur ulang. Namun, bahkan jika kita meningkatkan daur ulang nikel hingga 100 persen, kita masih perlu memproduksi lebih banyak nikel untuk teknologi energi terbarukan, seperti mobil listrik dan pembangkit listrik tenaga surya, angin, dan panas bumi.
Menurut Mervine, selama ini emisi karbon biomassa dari pembukaan vegetasi untuk tambang nikel hampir selalu diabaikan dalam penghitungan karbon, laporan keberlanjutan, dan keputusan pengadaan.
Dengan meningkatnya permintaan nikel, penambangan nikel saat ini terus bertambah. Mervine mengatakan, penelitian yang dilakukan timnya menyoroti perlunya perusahaan pertambangan untuk menghindari pengembangan tambang baru di area yang memiliki ”karbon yang tidak dapat dipulihkan”. Karbon biomassa ini pada umumnya tersimpan dalam ekosistem seperti hutan hujan tua dan hutan bakau, yang setelah ditebang tidak akan pernah dapat dikembalikan ke kepadatan biomassa aslinya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/23/1566182a1ba15d26bfa64fe654989974-lokasi_nikel.png)
Menurut kajian Mervine dan tim, emisi karbon biomassa dari penambangan nikel sangat bervariasi, tergantung pada lokasi tambangnya. Nikel yang ditambang di kawasan hutan tua dengan endemisitas tinggi, seperti di Maluku dan Sulawesi, berisiko menimbulkan dampak lingkungan yang lebih besar.
”Di beberapa tambang nikel, emisi karbon biomassa hampir nol, sementara emisi di tambang lain signifikan—misalnya, dibandingkan dengan emisi dari solar yang digunakan oleh kendaraan pertambangan atau batubara yang dibakar di peleburan nikel,” katanya.
Terlepas dari tingkat keparahan di tiap lokasi pertambangan, emisi ini perlu dilaporkan. ”Perusahaan harus memprioritaskan pengembangan dan perluasan lokasi tambang di area yang memiliki kepadatan biomassa rendah, seperti di gurun, daripada di hutan hujan, sambil, tentu saja, memperhatikan dampak lingkungan di luar karbon,” katanya.
Penulis senior paper ini, Laura Sonter, mengatakan, perusahaan pertambangan harus mengambil beberapa langkah untuk meminimalkan transformasi lahan sambil memenuhi permintaan nikel yang terus meningkat. ”Sangat penting bagi semua lokasi tambang untuk mulai menyurvei, melacak, dan melaporkan jejak penggunaan lahan mereka dan emisi karbon terkait dari penggundulan hutan,” katanya.
Menurut Mervine, kehilangan biomassa dari penambangan nikel sebenarnya dapat dikurangi melalui upaya rehabilitasi pasca-penambangan yang lebih baik. Secara historis, rehabilitasi tambang nikel telah menjadi tantangan dan sebagian besar tidak berhasil, karena keberadaan batuan ultrabasa dan tanah dengan kandungan logam yang tinggi.
Sekalipun demikian, praktik yang lebih baik menggunakan tanaman endemik yang secara efektif menjajah daerah yang terkelupas dan mengurangi toksisitas tanah dapat meningkatkan keberhasilan rehabilitasi. Penggunaan pengimbangan karbon yang cermat juga dapat membantu mengatasi kehilangan karbon bersih, seperti yang baru-baru ini disarankan untuk penambangan nikel di Ambatovy, Madagaskar.
”Namun, tetap penting untuk menghindari kehilangan karbon yang tidak dapat dipulihkan, misalnya, dari hutan tua, dan bahwa dampak biomassa dari penambangan nikel dipertimbangkan dalam target nasional dan global untuk mengurangi atau menghentikan deforestasi," tulis Mervine dan tim.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/04/26/20210425-ADI-Investasi-Nikel-rev-mumed_1619370443.png)
Menangani sumber emisi lainnya juga akan mengurangi dampak iklim dari penambangan nikel. Misalnya, tambang nikel disarankan menggunakan sistem fotovoltaik surya di masa mendatang untuk mengurangi ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil. Hal ini mungkin sulit diterapkan untuk jenis penggunaan energi tertentu, seperti energi yang digunakan oleh peleburan nikel, yang umumnya memerlukan batubara kokas.
Faktor transformasi lahan untuk sistem energi surya skala utilitas telah diperkirakan berkisar antara 229 dan 552 m2/GWh37. Penelitian Gavin M. Mudd di Ore Geology Reviews (2010) melaporkan bahwa penggunaan energi untuk penambangan dan pemrosesan nikel berkisar antara ~30–600 GJ/t nikel.
Jika kita berasumsi bahwa surya skala utilitas digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi tambang nikel dan lahan baru digunakan, maka lahan seluas 2–94 m2 akan diperlukan per ton kapasitas produksi nikel, yang selanjutnya meningkatkan kebutuhan lahan dan emisi karbon dari hilangnya biomassa.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji