Cara Tradisional Real Madrid, Akhir Hegemoni ”El Clasico” Barcelona

Tak perlu rumus rumit mengatasi garis pertahanan tinggi Barca. Real Madrid menerapkan taktik tradisional untuk memecah kebuntuan dan merebut kembali ”el clasico”.

27 Okt 2025 03:15 WIB · Olahraga

AP

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

MADRID, MINGGU — Melakoni el clasico, dendam harus dibayar tuntas. Misi itu mampu diselesaikan Real Madrid setelah selalu kalah dalam empat pertemuan kontra Barcelona musim lalu. Dendam terbalas seiring kemenangan 2-1 atas Barca di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, Minggu (26/10/2025) malam WIB. Bukan taktik rumit, melainkan prinsip paling dasar dalam sepak bola yang akhirnya membimbing Real meraih kemenangan.

Meski tanpa kehadiran Hansi Flick di tepi lapangan akibat terkena hukuman kartu merah, Barca tetap teguh pada sistem garis pertahanan tinggi pelatih asal Jerman itu. Musim lalu Barca meraih kesuksesan domestik berkat menerapkan permainan menekan dengan basis garis pertahanan tinggi. Banyak lawan, termasuk Real, kewalahan akibat kerap terjebak offside. Belakangan, garis pertahanan tinggi Barca mulai terbaca oleh para lawan.

Cara yang paling banyak digunakan untuk mengatasi garis pertahanan tinggi Barca ialah menempatkan penyerang di belakang bek sebagai pancingan. Di sisi lain, ada pemain sayap di sisi lain yang bersiap menerima bola.

Ketika bola diarahkan kepada pemain sayap, garis offside secara otomatis menjadi lebih mundur. Momen itu lantas dimanfaatkan pemain sayap dengan mengirim umpan silang kepada penyerang yang sudah tidak berada pada posisi offside. Cara ini sukses diterapkan oleh Paris Saint-Germain dan juga Sevilla untuk memecundangi Barca.

Namun, Real rupanya tidak membutuhkan cara yang cukup kompleks itu untuk membongkar garis pertahanan tinggi Barca. Tim arahan Pelatih Xabi Alonso tersebut hanya cukup menerapkan cara tradisional yang telah lama ada pada ajaran sepak bola.

Spain Soccer La Liga

Garis pertahanan tinggi Barca punya konsekuensi menyisakan ruang besar antara kiper dan empat bek. Prinsip atau cara tradisonal dalam sepak bola mengajarkan, ruang besar itulah yang sebisa mungkin harus dieksploitasi. Caranya dengan menempatkan pemain yang punya kecepatan tinggi dan awas dalam menahan laju lari di awal demi menghindari perangkap offside.

Peran pemain cepat itu diemban oleh Kylian Mbappe. Musim lalu penyerang Perancis itu kerepotan melawan garis pertahanan tinggi Barca sehingga terjebak offside hingga delapan kali. Jumlah itu merupakan yang terbanyak bagi seorang pemain dalam 15 musim terakhir di Liga Spanyol. Kali ini, Mbappe telah banyak belajar cara menanggulangi perangkap offside Barca.

Mbappe menunggu momentum yang tepat untuk menerima umpan dan memulai berlari. Jude Bellingham yang jeli melihat pergerakan Mbappe mengirimkan umpan terobosan terukur dari tengah lapangan yang kemudian mampu dikonversi menjadi gol pada menit ke-22.

Sebelumnya, tepatnya pada menit ke-12, Mbappe mencetak gol setelah menerima sontekan Arda Guler. Namun, gol tersebut dianulir wasit Cesar Soto Grado karena Mbappe dianggap telah lebih dulu berada pada posisi offside sebelum menerima umpan.

Pembatalan gol Mbappe menjadi perdebatan karena dalam tayangan ulang video asisten wasit (VAR), posisi Mbappe dan bek Barca, Pau Cubarsi, terlihat sejajar. Dua momen itu membuktikan Mbappe telah mengalami kemajuan cukup pesat dalam mengatasi jebakan offside garis pertahanan tinggi Barca.

Wasit Soto Grado memberikan kartu merah kepada gelandang Barcelona, Pedri, pada laga LaLiga antara Real Madrid dan Barca di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, Minggu (26/10/2025).

”Kami bermain sangat baik tanpa bola. Tahu kapan harus menekan dan kapan harus tetap kompak. Tim hanya sedikit kebobolan dan kami hampir tidak kebobolan peluang,” ujar bek kanan Real, Dani Carvajal.

Mencoba melawan

Barca yang ingin memperpanjang hegemoni atas Real di el clasico mencoba melawan. Hasilnya, Fermin Lopez mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-38 setelah mengonversi umpan silang mendatar Marcus Rashford.

Namun, tidak butuh waktu lama bagi Real untuk kembali unggul. Lima menit berselang, giliran Bellingham yang mencetak gol dari dalam kotak penalti memanfaatkan umpan sundulan dari Eder Militao.

Itu merupakan gol kedua Bellingham musim ini. Sebelumnya ia juga menjadi pahlawan kemenangan Real atas Juventus dengan skema gol yang hampir mirip. Dengan demikian, gol ke gawang Barca tersebut semakin menegaskan kualitas Bellingham sebagai pemain yang piawai menempatkan posisi di dalam kotak penalti.

”Kami bisa melawan, tetapi itu belum cukup. Kami perlu menciptakan lebih banyak peluang dan meningkatkan diri,” kata gelandang Barca, Frenkie de Jong.

APTOPIX Spain Soccer La Liga

Meski memainkan Lamine Yamal sejak awal, Barca nyatanya kesulitan menciptakan banyak peluang. ”Blaugrana” hanya mencatatkan nilai harapan gol (expected goals/xG) sebesar 1,03. Jumlah tembakan tepat sasaran mereka pun hanya enam, kalah dari Real yang melepaskan sepuluh tembakan.

Yamal yang diharapkan bisa mengkreasikan peluang atau mencetak gol benar-benar mati kutu di laga ini. Alonso selalu mengingatkan para pemainnya untuk tidak membiarkan Yamal bermain satu lawan satu. Sebisa mungkin harus ada dua pemain yang mengawalnya. Selain itu, bek kiri Real, Alvaro Carreras, juga tampil sangat baik di laga ini dengan enam kali merebut bola dan tiga kali memotong jalur umpan (intercept). Akibatnya, Yamal hanya mampu melepaskan dua percobaan tembakan sepanjang laga.

Kemenangan ini mengukuhkan posisi Real di puncak klasemen sementara liga dengan koleksi 27 poin. ”Los Blancos” unggul lima poin di atas Barca.

Di sisi lain, kemenangan ini merupakan pencapaian langka bagi Alonso. Ia mampu membalikkan tren para manajer Real yang kesulitan di laga debut el clasico. Tujuh dari delapan pelatih terakhir Real kalah dalam pertemuan pertama mereka dengan Barca di liga. Hanya Zinedine Zidane yang pernah memetik kemenangan di laga debut el clasico pada 2016. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan